Label

Minggu, 16 November 2014

mengapa tulisanku hilang?

Sabtu, 15 November 2014

(Catatan Pementasan “Romieh dan Juliah” Sutradara Monda Gianes) “Romeo and Juliet” dalam Peralihan Menjadi “Romieh dan Juliah”

Oleh: Husin

Masih ingat bukan, sepasang tokoh romantis “Romeo dan Juliet” yang sangat melagenda. Mereka masih saja menjadi simbol keromantisan yang merasuki keseluruh penjuru dunia. Tokoh fiktif ini dilahirkan oleh sastrawan besar, William Shakespeare. Lewat karyanya ini, Shakespeare berhasil menyajikan romansa cinta dengan nuansa klasik dan tragedi. Romantis namun tragis.
Karya masterpiece William Shakespeare ini tidaklah hanya berhenti pada karya sastra saja, karyanya dihidupkan kembali ke dalam beberapa bentuk karya, seperti drama, musikal, film, dan opera. Kisah Romeo dan Juliet menjadi sangat sukses ketika diangkat menjadi film layar lebar. Pada tahun 1996, sutradara Baz Luhrmann mengabadikan Romeo dan Juliet ke layar lebar dengan sentuhan yang berbeda dan latar yang lebih modern. Film ini dibintangi oleh Leonardo Dicaprio sebagai Romeo dan Claire Danis sebagai Juliet.  
Hingga saat inipun, tidak mudah bagi setiap orang untuk melupakan pasangan yang sangat romantis ini. Bahkan yang baru mengenal namanyapun dibuat menjadi penasaran dan langsung mengidolakannya. Rasa penasaran itu terjawab pada rabu-jum’at (01-03 Oktober 2014) malam pada pukul 20.00 WIB di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Riau. Meskipun dengan kemasan yang berbeda namun menjadi hal yang baru.
Perbedaan ini disebabkan oleh Sutradara (Monda Gianes) mengemasnya dengan kekayaan imajinasi, kreatifitas, kecerdasanya melihat kekuatan budaya lokal (Melayu). Bagi beberapa orang yang telah mengetahui kisah romantis Romeo dan Juliet, akan membayangkan nuansa klasik berlatar Eropa dan tragedi. Namun lain halnya dengan apa yang telah disuguhkan oleh produksi Teater Matan, Sutradara Monda Gianes. Oleh sutradara nama tokoh Romeo dan Juliet diganti menjadi “Romieh dan Juliah”, kemudian cerita yang begitu tragis dirubah menjadi komedi yang begitu lucu dan menghibur, namun tetap bertahan dan tidak lari dari esensi cerita.
Berangkat dari karya besar Shakespeare yang telah banyak mengalami peralihan ke dalam estetika seni, pemindahan budaya, pergesaran ruang dan waktu. Romieh dan Juliah-pun telah ikut masuk ke dalam estetika, budaya, ruang dan waktu masyarakat penonton tempatan (Melayu). Sehingga karya Shakespeare tidaklah menjadi suatu estetika, budaya, ruang dan waktu yang sangat asing bagi masyarakat Melayu. Tontonan pada malam itupun menjadi akrab dan sangat dekat dengan masyarakat Melayu.
Keakraban itu sudah dapat dirasakan pada saat dimulainya pementasan, karena seluruh pemain yang mengenakan pakaian keseharian masyarakat Melayu baik di kota maupun di desa muncul dari arah deretan bangku penonton. Mereka membentuk barisan, kemudian sambil berjalan menuju panggung, para pemain bersorak-sorai, menari dan bernyanyi lagu yang sangat akrab di telinga masyarakat Melayu. kehadiran para pemain disambut oleh teriakan dan tepuk tangan dari para penonton, sehingga para penontonpun bersia-siap dan tersadarkan bahwa Romeo dan Juliet yang mereka tonton adalah Romeo dan Juliet yang bersal dari budaya Melayu yang akan memberikan tontonan yang lucu dan sangat menghibur. 
Pada adegan kedua, Ayah Romieh menacari anaknya yang membawa remote TV. Kehadiran Ayah Romieh kembali membuat para penonton tertawa, mendengar Ayah sangat kental menggunakan dialek Melayu sambil memainkan acting yang kocak. Tidak lama berselang pada adegan selanjutnya, dua kelompok pemuda saling berseteru, keluarga Yong Tapa versus keluarga Yong Khalid. Adegan perseteruan ini membuat penonton yang tidak mampu berhenti tertawa, karena dua kelompok ini saling meneriaki untuk mulai memberi aba-aba untuk berkelahi, namun pada saat berhadapan mereka hanya berjalan santai saja. Berulang-rulang dua kelompok keluarga ini melakukan hal demikian, sampai Ustads dan Tuan Tanah (Erik) lewat dan melerai perseteruan dua kelompok keluarga. Dari adegan keadegan berikutnya, perseteruan dua keluarga inilah sebagai penghalang hubungan cinta Romieh dan Juliah.
Yong Tapa dari pihak keluarga Romieh (Al Gembot) dan Yong Khalid dari pihak keluarga Juliah (Dwi), sudah berseteru sejak lama. Diantara dua keluarga tidak satupun yang mau mengalah dan berdamai. Juliah menjadi risau, pada saat Ayahnya (Ridwan) menjodohkannya dengan pemuda kaya bernama Roy Khan (Jefri Al-Malay). Romieh dan Juliah tidak bisa tinggal diam, bagaimana caranya mereka akan tetap bersama. Lalu mereka mendatangi Penghulu (Kafrawi) agar mereka akan segera dinikahkan dan menggagalkan acara perjodohan Juliah dengan Roy Khan. Awalnya Penghulu tidak menyetujui, karena perseteruan keluarga mereka sudah terlalu lama. Penghulu menganggap cinta meraka adalah cinta terlarang. Lalu akhirnya penghulu menyarankan hubungan mereka harus dirahasiakan.  Kemudian Penghulu memberikan ramuan tidur suri tanpa sepengetahuan Romieh. Ramuan tidur suri ini diminum pada saat acara Ijab Qabul, dengan harapan Roy Khan putus asa dan mau tidak mau, harus menerimanya.
Ironisnya diluar perencanaan Penghulu, telah terjadi perkelahian sampai terbunuhnya sepupu Romieh oleh sepupu Juliah. Romieh tidak bisa menerima hal demikin dan menaruh dendam kepada keluarga Yong Khalid. Baginya, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Lalu Romiehpun membunuh sepupu Juliah, lalu melarikan diri dan menyesali perbuatannya. Dari segala kejadian ini membuat Ayah Juliah menjadi murka dan ingin segera cepat-menikahkan Juliah dengan Roy Khan.
Pada saat acara pernikahan dan ingin membacakan Ijab Qabul, Juliah telah meminum ramuan tidur suri. Acara pernikahan menjadi kacau dan sangat berantakan karena Juliah tidak sadarkan diri, mereka mengira Juliah telah meninggal, seluruh keluarga menangis dan meratapi kematian Juliah sampai mereka kelelahan dan tertidur kecuali Roy Khan. Tidak lama berselang Romieh datang dan langsung melihat Juliah sudah tidak bernafas lagi, lalu Romieh menikam Roy Khan sampai mati, lalu Romiehpun bunuh diri dengan menikam dirinya sendiri. Setelah itu tiba-tiba Juliah terbangun dan langsung melihat Romieh terbaring kaku di sampingnya, lalu Juliahpun mangambil belati dan langsung menikam tubuhnya, Juliahpun mati di samping Romieh. Setelah Roy Khan, Romieh dan Juliah terbujur kaku, barulah seluruh keluarga terbangun dari tidur dan melihat anak mereka telah mati. Melihat kejadian ini, barulah kedua keluarga yang berseteru, keluarga Yong Tapa dan keluarga Yong Khalid menyesali perbuatannya. Diakhir pementasan kembali ditutup dengan tarian dan nyanyian.
Dari seluruh rangkain pementasan, penonton tidak hentinya untuk terus tertawa. Karena memang setiap adegan selalu dikemas dengan adegan-adegan lucu yang dimainkan maksimal oleh para actor. Dilihat dari segi cerita memang tidaklah lari dari esensi cerita dari apa yang dimaksudkan oleh Shakespeare, meskipun penonton tidak lagi merasakan drama tragedi karena telah dibungkus seluruhnya oleh komedi, lucu, dan sangat menghibur. Penontonpun dapat dimanjakan dengan budaya, ruang dan waktu yang sesuai dengan keinginannya.
Barangkali inilah kelihaian sutradara untuk menterjemah ulang lalu memindahkan Romeo dan Juliet milik Shakespeare ke Ranah Budaya Melayu. Meskipun telah banyak pemindahan dan pengalihan wahana dari karya sebelumnya. Sesungguhnya Shakespeare juga telah meminjam ide dari sajak karya Arthur Brooke dan prosa karya William Painter, keduanya berangkat dari roman tragic pada zaman kuno. Dalam hal ini sutradara telah kembali mengalih wahanakan teks lama yang jauh dari zamanya menjadi teks baru yang dapat diterima oleh masyarakat penontonnya. Mengalihkan berarti mengubah, dan mengubah berarti menghasilan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang lama sebelumnya.
Sutradarapun telah ikut untuk mempertimbangkan keinginan masyarakan penonton kita yang bercirikan bahwa tontonan harus menghibur, dan menghibur berarti lucu. Ciri inilah yang tampaknya menjadi nyawa dari teater tradisional kita, dan karenanya harus disenyawakan dengan naskah apapun  yang di bawa ke atas panggung. hasilnya akan terlihat jelas, bahwa teater tradisional boleh surut, akan tetapi nyawanya telah menghidupi teater modern kita. Seperti awal munculnya para actor Romieh dan Juliah berbaris berjalan ke atas panggung dengan penuh kegemberiaan sorak-sorai, sambil bernyanyi dan menari bagaikan Mendu, Makyong, Dul Muluk, dan para anak Randai yang bersorak sorai ingin memulai pementasan. Itulah milik kita, biarkan saja, dan mari memberikan hal yang baru.***

Kamis, 18 Juli 2013

Kekacauan Tanpa Henti, Maka BerSEGERAlah Ambil Tindakan (Laporan Pementasan SEGERA Karya Rachman Sabur – Camille Boitel)


Oleh: Husin

Di loby Gedung Kesenian Ajungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru 18 Juni 2013, telihat calon penonton tidak sabar ingin cepat masuk menduduki bangku penonton, menyaksikan pementasan “SEGERA” karya Rachman Sabur – Camille Boitel yang disutradarai oleh Racman Sabur. Namun ketidak sabaran calon penonton dapat terobati oleh pemutaran video documenter proses kreatif Kelompok Teater Payung Hitam semenjak awal berdiri hingga sekarang. Tepat pukul 20.00 WIB calon penonton dipersilahkan untuk masuk menduduki bangku dan sah untuk menjadi penonton seutuhnya.
Dari bangku penonton yang berkapasitas 600 telah penuh terisi, terlihat samar-samar sett panggung dan seorang tokoh perempuan duduk di atas kursi plastik dengan wajah disiram oleh cahaya senter yang melekat di dagunya. Perempuan ini terjatuh bersamaan dengan kursi plastic yang didudukinya, setiap kali dia berusaha bangkit, ia terus terjatuh dengan gerakan yang diulang-ulang.  Tidak lama berselang tiba-tiba menyala lampu neon yang di gantung di tengah depan panggung. hal ini membuat penonton jadi gaduh, karena terlihat beresiko dan belum pernah dilakukan oleh pementasan sebelumnya. Sontak kegaduhan terhenti sejenak dan terdengar jeritan dari bangku penonton, karena tiba-tiba lampu terjatuh dari ketinggian 3m ke lantai, sehingga panggung kembali menjadi gelap. Tanpa disadari, tidak ada aba-aba dari pembawa acara, pementasan telah berlangsung.
SEGERA, mengajak penonton untuk waspada terhadap ancaman dan bahaya yang akan datang, kekacaun telah terlihat jelas di depan mata. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Secara visual, dengan jatuhnya lampu neon dari ketinggian 3m ancaman dan kekacauan itu bermula, tanpa henti. Awalnya penonton mengira, itu sebuah kecelakaan panggung. namun kecelakaan terus berulang, barulah penonton sadar bahwa memang demikianlah kehendak pertunjukan yang menciptakan kekacauan.
Sekitar 20-an Jam dinding, dari berbagai macam ukuran yang tergantung di dinding terbuat dari terpal biru berjatuhan satu persatu, lalu terdengar suara terompet. Tak lama setelah itu, masuk dua orang laki-laki botak membawa mainan anak-anak. Mainan itu berputar dan berbunyi. Mereka mengarah ke gerobak yang bingkainya terbuat dari paralon, lalu mengantungkan mainan itu di atas gerobak. Gerobak yang semula terlihat kokoh, menjadi hancur dan berantakan. Keadaan menjadi kacau balau, semua menjadi berantakan. Dinding-dinding terpal berbahan plastic yang tersusun rapi menjadi tumbang.
Kekacauan terus berlangsung tanpa henti, dengan kehadiran seorang laki-laki botak panic, karena kakinya terikat tali jerigen. Ia berusaha keras untuk melepaskan ikatan di kakinya. Semakin ia panic dan berusaha untuk melepaskan ikatan, keadaan menjadi kacau dan berantakan. Setiap sett yang berbahan plastic menjadi tumbang dan berjatuhan. Kekacaun yang dialami lelaki botak ini menjadi gerakan yang akrobatik. Kerena setiap benda berbahan plastic yang tersentuh dan terinjak oleh tubuhnya menjadi berjatuhan dan tepental ke semua arah. Pada saat ia tersangkut pada tali yang tergantung, onggokan plastic berjatuhan menimpa dirinya. Ditambah lagi pada saat ingin melompat dan menginjak bahan palstik yang lain, di permukaan lainnya berpentalan tutup botol plastic warna-warni. Lelaki botak yang tidak berbaju ini terus berusaha untuk menyelamatkan tubuhnya. Dalam keadaan panic, akhirnya ia dapat meraih helm berwarna merah lalu menutupi kepalanya, dengan sangat riang ia berlari keluar.
Dari adegan kekacaun yang terlihat, menyisakan banyak sampah plastic yang menyesakkan panggung. Dapat terlihat, bahwasanya Rachman Sabur ingin mengusung bahaya plastic bagi lingkungan. Maka kemudian sangat jelas pada judul SEGERA, ancaman dan kekacauan akan datang. Bersegeralah melakukan tindakan sebelum ancaman dan bahaya akan menimpa kita.
Adegan demi adegan yang coba diciptakan, sengaja mengaambarkan kekacauan demi kekacauan. Adegan-adegan kekacauan berjalan begitu cepat dan berbahaya, sehingga membuat sebahagian penonton menjerit dan berteriak. Karena tak kuasa menahan suaranya. Melihat botol-botol plastic berterbangan, botol gallon terus berjatuhan, jerigen yang beradu sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang dimainkan rupa oleh actor yang selalu membuat penonton terus terpukau. Setiap sampah plastic yang berserakan di atas panggung, setiap itu pula dibersihakan oleh para actor dari arah kiri dan kanan panggung, begitu terus berulang.
Teater tanpa kata maupun kalimat ini, didominasi oleh permainan tubuh yang terus tereksplore. Verbalitas lebih terlihat dengan jelas dengan permainan tubuh dan idiom plastic yang diusung. Meskipun tidak semua bahaya plastic disampaikan lewat idiom plastic itu sendiri. Ada beberapa adegan disampaikan lewat pemukulan terhadap actor lain dengan gerakan slowmotion, ada juga adegan seorang actor yang baru keluar dari balik dinding, lalu kepalanya diperangkap dengan jaring, sehingga ia menjadi hilang. Kejelian sutradara menciptakan adegan demi adegan sangat memukau. Karena tidak ada satu orangpun terlihat jenuh, bahkan terus terpukau melihat ulah actor yang terkadang terlihat lucu, meskipun tidak bermaksud untuk melucu. Berbagai sketsa atau pose-pose dan spektakel yang dihadirkan juga tak kalah menarik dan sangat memukau. Sehingga tak terasa sudah 30-an menit pertunjukan berlalu begitu saja. Seorang guru swasta di Pekanbaru yang berkesempatan hadir pada malam itu, terasa sangat senang melihat pertunjukan SEGERA. “Ternyata pertunjukan teater, di dalamnya juga berupa ilmu pengetahuan yang memiliki pesan kepada penonton. Ya, seperti pementasan mala ini yang mengusung bahaya plastic bagi kehidupan. Bentuk pertunjukannyapun tidak begitu sulit untuk dipahami, meskipun dengan bahasa tubuh” sambil terus berjalan ke arah panggung, untuk memberikan selamat kepada para pemain.
Ranchman Sabur selaku pimpinan Teater Payung Hitam sekaligus sutradara dalam pementas SEGERA ini, merasa sangat senang dan tersanjung bisa memberikan apresiasi kepada penonton yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan kelompok-kelompok teater yang ada di Kota  Pekanbaru. Rasa senang ini juga disampaikan oleh Racman, pada saat sharing dan pemutaran video dokumnter proses kreatif Teater Payung Hitam sehari sebelum pementasan (17/06/2013) pukul 14.00 WIB, di Gedung Dewan Kesenian Riau yang diorganisir oleh Jurusan Seni Teater Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Semulanya direncanakan workshop oleh Rachman Sabur yang diminta oleh pihak STSR. Namun karena kesehatan beliau kurang baik, workshop digantikan dengan sharing dan pemutaran video documenter. Meskipun begitu, peserta yang berjumlah 47 orang begitu antusias mengikuti kegiatan. Salah seorang peserta merasa senang, mendapatkan pengetahuan baru. Karena semenjak di Pekanbaru ia belum pernah melihat ada kelompok ataupun pertunjukan yang lebih bermain pada tubuh.***

Insan-insan Malang Tidak Hanya Sekedar Konflik Keluarga (Catatan Pementasan Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Teater dan Film, Sekolah Tinggi Seni Riau)



 Oleh: Uchien
“Insan-insan Malang” Karya Bambang Soelarto, kembali dipentaskan dalam rangka Ujian Tugas Akhir Mahasiswa jurusan Seni Teater dan Film, program Diploma Tiga Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Pementasan ini diselenggarakan di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Minggu 17 Februari, 20.00 WIB. Bertindak selaku sutradara atau yang teruji Rohasimah.
Insan-insan Malang, syarat dengan persolan social-politik pada masa kelahiran naskah lakon karya Bambang Soelarto ini. Pada tahun 60-an Indonesia mengalami perpecahan di dalam tubuh pemerintahan. Saling intrik antar organisasi dan partai semakin menjadi-jadi. Saling intrik ini disebabkan oleh dua ideologi yang berlawanan, Kapitalis-Imperealis versus Sosialis-Komunis. Pada naskah Insan-insan Malang ini mencoba mewakili pertentangan pandangan ini terhadap tokoh Pelamar Satu (Sulaiman) dan Pelamar Dua (Riki).
Adegan awal, munculnya tokoh Bapak (Syarif) yang mengamati photo anaknya di atas lemari, Bapak menunjukkan betapa sayangnya dia terhadap anak semata wayang, bernama Wati yang akan dilamar oleh dua orang pemuda. Tak lama berselang terdengar ketukan pintu, tak lain dan tak bukan yang datang adalah seorang pemuda. Bapak menyambutnya dengan sangat ramah, dengan sedikit salah tingkah Pemuda Satu memperkenalkan dirinya. Pemuda Satu, seorang sarjana ekonomi jebolan perguruan tinggi Amerika. Punya kedudukan tinggi sebagai direktur sebuah perusahaan industry obat-obatan. Punya rumah gedung tingkat dua, punya dua mobil sedan. Dari status Pemuda Satu ini menandakan, dia adalah seorang pemuda yang kaya raya. Hal inilah yang menyebabkan Pemuda Satu dihujat oleh Pemuda Dua, sebagai borjuis tengik anti revolusi, dia juga dituduh sebagai komprador nekolim.              
Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud hati untuk melamar Wati, Pemuda Satu mohon diri untuk pergi. Sebelum pergi Bapak mengingatkan bahwa masih ada satu orang pemuda lagi yang datang untuk melamar. Bapak menegaskan bahwa Pemuda Satu baru berstatus sebagai calon menantu. Setelah Pelamar Satu pergi, Bapak memperlihatkan ketidaksenangannya, dia menilai Pemuda Satu, laki-laki yang sombong, telah membanggakan harta kekayaannya. Kemarahan Bapak disambut dengan kehadiran Pemuda Dua.
Pemuda Dua, seorang pegawai tinggi, asisten ahli dalam bidang social-politik cabinet. Pernah belajar ilmu politik di Universitas Negara Sosialis. Sangat tidak suka dengan Pemuda Satu yang menghinanya sebagai badut politik yang terus menurus mengibuli rakyat. Kerjanya cuma main komisi, makan suap, manipulasi, korupsi. Bikin inflasi, memproduksi slogan-slogan basi. Pemuda Dua datang menghadapi Bapak juga ingin maksud hatinya untuk melamar wati, namun Bapak juga dibikin kesal olehnya, dengan maksud mencampurkan urusan keluarga dengan politik.
Melihat dari kedua pelamar Wati, penulis naskah tidaklah melihat persolan sederhana, dari permaslahan keluarga, namun dapat dilihat persoalan besar dibalik itu semua. Persoalan politik dapat dilihat dari pertentangan idelogi besar yang diwakili oleh tokoh Pemuda Satu dengan Pemuda Dua yang memperebutkan Wati. Wati barangkali bisa dianalogikan sebagai bangsa Indonesia yang pada saat itu ingin menemukan identitas. Tapi kemudian Bapak tidak mau melepaskan anaknya begitu saja, sampai pada akhirnya Wati memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bapak merasa terpukul sekali dan mersa bersalah, ditambah dengan surat yang ditulis Wati dibacakan oleh Pemuda (Ridwan) keluarga dekat Bapak. “…kukatakan dengan terus terang, bahwa tidak satupun dari mereka yang menjadi pilihan hatiku, Bapak setuju. Aku mohon memilih jodoh sendiri, bapak menolak. Sejak itu timbul perasaan aneh dalam diriku, aku merasa berhadapan dengan hantu jahat. Bapak hendak menguasai hidupku, aku jadi benci kepadanya. Aku dikurung dalam kamar dan Bapak menghiburku dengan belaian sayang, tidak sebagai anak kandung sendiri, tetapi sebagai wanita, aku benci Mas. Aku tidak tahan Mas. Selamatkanlah aku dari hantu jahat ini Mas. Jika tidak, aku akan menyelamtkan diriku, dengan caraku sendiri, jika tak bisa bertahan lagi menghadapi si hantu…”. Belum selesai surat dibaca, Bapak merampasnya dari tangan Pemuda. Emosi bapak bercampur aduk, dari rasa sedih, karena mersa bersalah terhadap pelakuannya dan marah, karna Bapak tahu, bahwa ternyata Wati menyukai Pemuda. Bapak kalut, dan masuk ke kamar. Di dalam kamar tercium bau kain terbakar, wajah Bapak terbakar, lalu ia terus mengoceh tentang perbuatannya menuju pintu dan keluar.  
Dilihat dari keseluran element pementasan. Naskah lakon realis ini, digarap dengan konsep presentasi. Dari latar tempat dan waktu sett panggung, rias dan kostum dibangun sesuai  dengan kelahiran naskah. Namun, hal itu tidak terlihat secara keseluruhan hadir di atas panggung. Sutradara tidak detail, panggung yang sangat lebar dibiarkan kosong, banyak ruang mestinya masih bisa diisi dengan beberapa perabotan. Kemudian yang dibiarkan oleh sutradara adalah kesamaan warna dasar permainan, sehingga pementasan terlihat datar. Padahal actor menjadi yang utama dalam pementasan.
Terlihat juga, bahwa actor tidak begitu total untuk mengenali tokoh, dangkal interpretasi, sehingga tubuh actor menjadi sangat mekanis. Actor hanya bermain secara fisik dan tampak luarnya saja dan usaha untuk bermain inner menjadi ngambang dengan tidak menjaga intensitas bermain. Mestinya actor bermain menjadi milik si karakter, tidak hanya sekedar mewakili si karakter. Sebaiknya actor juga mengutamakan indentifikasi antara jiwa si actor dengan jiwa si karakter, sambil membiri kesempatan kepada tingkah laku untuk berkembang (Eka D. Sitorus: 2003).   
Seperti juga yang pernah disampaikan oleh Stanislavsky “actor menjadi penting dalam sebuah proses produksi. Actor adalah pemegang kendali tercapainya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah melalui konsep yang diciptakan oleh sutradara”.   

Husin, Tenaga Pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Praktisi Teater

Jusnita di'OPERASI' Oleh Putu Wijaya

Oleh: Husin
 “Tapi dokter itu menyembuhkan orang sakit. Tidak membuat orang menjadi sakit.” Potongan dialog Dokter yang diperankan oleh Reza dalam lakon OPERASI Karya: Putu Wijaya membuat orang menjadi berpikir, karena Dokter dibuat menjadi bingung pada saat ada pasien yang meminta kepadanya untuk dioperasi wajah menjadi jelek.
Pementasan Tugas Akhir Mahasiswa D3 Jurusan Teater Seni dan Film, 03 Februari 2013, 20.00 WIB, digarap oleh Jusnita selaku Sutradara dan yang teruji. Pada bagian eksposisi diawali oleh music, kemudian lampu fade in. di atas panggung terlihat beberapa pasien sedang menunggu panggilan untuk memasuki ruang rawat. Asisten Dokter I (Lani Novita) memanggil Pasien III (Tigo Imnuari) berjalan dengan kaki sebelah kanannya pincang, memasuki ruang rawat. Tidak lama kemudian kakinya sembuh, dengan senangnya ia menari-menari lalu keluar panngung. Selanjutnya Asdok I memanggil Pasien II (Nur Azizah). Pasien II berjalan bungkuk sangat pelan sekali memasuki ruang rawat dengan memegang tongkat di tangan sebelah kanannya, hal ini disebabkan oleh usianya yang sudah tua. Tidak lama kemudian Pasien II keluar dari ruang rawat dengan sangat kuat sekali, lalu ia berputar-putar sambil keluar panggung dengan sangat cepat sekali. Pasien IV sangat senang sekali saat namanya dipanggil oleh Asdok I, lalu Pasien IV berjalan seperti orang cacat mental memasuki ruang rawat. Tidak lama kemudian ia keluar dengan bahagia, sambil melompat-lompat meninggalkan panggung.
Di atas panggung terlihat satu orang Pasien lagi, Pasien I (M. Hafi Ansori) terlihat sangat gelisah menunggu, ia sangat kesal sekali Asdok I tidak juga memanggil-manggil namanya. Ruang tunggu pasien terasa sangat sepi sekali, Asdok I sudah tidak ada lagi di meja receptionist. Tinggal Pasien I seorang diri di ruang tunggu. Setelah kelelahan menunggu, ia tertidur di bangku. Di dalam tidurnya lampu mulai redup dan cahaya berganti berwarna biru, perlahan masuk sepasang penari. Penari I (Afdal Arta) dan Penari II (Teni Yusrizal) menarikan tarian dansa mengikuti irama music. Pada saat tarian berlangsung, Dokter (Reza Akmal) keluar dari ruang rawat, ia kaget melihat Pasien I sedang asyik tertidur, dengan berat hati Dokter berusaha untuk membangunkannya. Pasien I terbangun bersamaan dengan keluarnya sepasang penari, lampu kembali general. Pasien I sangat senang sekali melihat Dokter, pada bagian inilah muncul konflik.
Pasien I meminta kepada Dokter untuk mengoperasi wajahnya dirubah menjadi jelek, karena baginya wajah jelek bisa membuatnya menjadi terkenal. Sontak Dokter kaget mendengarkan permintaan Pasien I, karena selama ini tidak ada orang yang meminta permintaan aneh seperti itu. Baginya, pekerjaan Dokter menyembuhkan orang sakit, bukan membuat orang menjadi sakit. Perdebatan terjadi antara mereka, sampai pada akhirnya Dokter mengikuti permintaan Pasien I setelah merubah permintaannya untuk mengoperasi wajahnya setelah Pasien I merusak wajahnya dan meminta Dokter untuk mengembalikannya seperti semula.
Dilihat dari persoalan dan penokohan dari naskah lakon Putu Wijaya ini, mengingankan penonton bisa tertawa dengan persolan yang dihadapi oleh tokoh. Namun yang dilakukan oleh aktor malah menjadikan permainan terlalu over, hal ini disebabkan oleh sutradara terlalu menata bentuk, sehingga aktor tidak mampu memainkan tubuh yang cair dan dialog yang lebih natural.

Kasih, Sayang, dan Cinta Penyelamat Negeri Durjanasia - Indonesia dari Cengkraman Kidung Orang Orang Rakus (KOOR)

Oleh: Husin
            Komunitas Studio Seni Peran Riau Beraksi yang dikomandoi oleh Willy FWi kembali memproduksi pementasan teater. Produksi kali ini mengangkat sebuah lakon satyr yang berjudul KOOR (Kidung Orang Orang Rakus) karya Teater Lembaga. Pementasan yang di gelar di Gedung Ajung Seni Idrus Tintin (ASIT) ini, berbeda dengan pementasan sebelumnya. Pementasan dilakukan sebanyak lima kali, dimulai dari hari Rabu-Minggu, 20-24 Februari, digarap secara kolosal dengan 50 aktor, penari dan pemusik.   
Teater musical ini, diawali seluruh pemain on stage di atas level berwarna putih, berukuran 15x15 meter berbentuk tangga besar dan luas, berjenjang di bagian kanan dan kiri. Di sudut kiri panggung ada terap, di bagian kanan panggung berjejer selendang warna-warni. Di ruang panggung inilah penonton dapat melihat dan menterjemahkan Negeri Durjanasia. Di negeri inilah rakyat dan pemimpinnya menjaga keluhuran tradisi mereka untuk menjaga perut buncit. Kerena perut buncit melambangkan kewibawaan, kesuksesan, kesejahteraan dan kesempurnaan. Koor..koor.. kaki boleh krempeng, perut harus buncit. Tangan boleh bengkok, perut harus buncit. Dada boleh tipis, perut harus buncit. Mata boleh cekung, perut harus buncit. Itu jugalah salah satu janji dan sumpah mereka untuk menjaga kelestarian perut buncit, yang mereka juga nyanyikan sebagai lagu mars kebangsaan Negeri Durjanasia.
Gambaran dari janji dan sumpah ini, terlihat dari rias dan kostum yang dikenakan oleh 50 pemain. Wajah di rias menor, rambut acakan, pakaian warna-warni dan perut diberi efek buncit, layaknya seorang badut. Mereka ini jugalah orang-orang yang tidak pernah perduli dengan lingkungan dan persoalan yang ada disekitarnya, lebih banyak memilih bermalas-malasan dan memilih untuk tidur. Pada saat mereka tertidur pulas, ada seorang dari mereka tidak bisa tidur, karena mengidap penyakit insomnia. Karena merasa tidak ada yang menemani, ia kemudian berteriak “kebakaran..kebakaran..ada kebakaran”, berulangkali ia berteriak tidak ada satu orangpun yang terbangun. Lalu ia mencoba cari lain dengan berteriak “Pembagian sembako.. ada pembagian sembako..” mendengar kata ‘Sembako’ semuanya terbangun, kegeringan. Hal ini membuktikan bahwa di Negeri Durjanasia lebih memikirkan perut buncit.
Pada adegan kedua, pementasan yang disutradarai oleh Willy FWi juga menguak persoalan korupsi dan penyuapan di Negara Tetangga, yaitu Indonesia. Yung (Ferrick Rivano) di kursi persidangan, bagian tengah panggung dituduh telah melakukan punyuapan, kemudian ditetapkan sebagai terpidana penyuapan dan diponis hukuman penjara selama 10 tahun. Adegan ini mengingatkan kita akan lembaga hukum yang susah dipercaya, kita selalu dibingungkan dengan mana yang benar dan salah, proses yang berbelit-belit. Karena keberpihakan hukum lebih berpihak pada penguasa dan pemodal.
Setelah hukuman Yung ditetapkan, tiba-tiba suara distorsi music mengantarkan Yung ke Negeri Durjanasia, negeri dimana keserakahan harus terus diwariskan secara turun temurun, negeri dimana segala sesuatu harus diukur dengan uang, negeri para koruptor, para pembohong dan negeri cara penyuapan dilegalkan oleh Negara. Di negeri inilah Yung tersesat dan merasa bingung. Yung tidak punya pilihan lain, selain tetap tinggal di Durjanasia. Yung merasa Asing dan tidak mudah diterima oleh lingkungan dan masyarakat. Sampai Yung bertemu dengan Centeng Pasar (Aliph) yang memberi tahu aturan dan cara main di tempatnya. Mau tidak mau Yung mengikuti saran dari Centeng Pasar, hal yang pertama yang dilakukannya adalah menyogok Centeng Pasar agar ia bisa diterima. Hal ini diperparah setelah Yung betemu dengan Kadsus (Amesa Aryana), orang paling berkuasa.
Pementasan ini, juga menggambarkan tentang penganguran dan sulitnya mencari kerja. Antrian panjang orang-orang yang menunggu geliran untuk mendapatkan surat rekomendasi di posisi mana yang hendak dilamar. Pada antrian panjang ini bisa saja tidak mengikuti aturan, asalkan dia mampu menyogok pihak administrasi dan berhak pada urutan terdepan. Posisi kerja juga ditentukan berapa besar sogokon yang dibayar. Melihat itu semua, Yung menjadi kehilangan arah dan tanpa tujuan. Kemudia Yung teringat Indonesia, ia teringat dengan keluarga dan anaknya bernama Nurani.
Kerinduan Yung akan Indonesia diperkuat dengan tiga gadis kecil yang bernama Kasih, Sayang dan Cinta. Gadis inilah yang tidak setuju dengan keluhuran budaya rakus yang ada di Durjanasia, merekalah cikal bakal yang akal menyelamatkan Durjanasia dari belenggu orang-orang rakus. Ketiga gadis ini menyayikan sebuah lagu akan kasih sayang, kemudian disambung dengan lagu tanah air beta yang mengantarkan Yung ke Indonesia yang sesungguhnya. Dalam nyanyian, orang-orang yang berperut buncit tersadar akan budaya busuk yang telah mereka anut, kemudian mereka melepaskan perut buncit mereka, bersamaan dengan itu bentangan bendera merah putih dari arah penonton menuju panggung berbentuk gelombang.      
            Durjanasia, sebagai Negara fiktif seperti tidak ada bedanya dengan Indonesia. Segala prilaku dan tindakan yang dilakukan oleh pemimpin dan masyarakatnya, juga dilakukan di Indonesia, bagaikan saudara kembar yang sangat identik. Kasus korupsi, kolusi, nepotisme, sogok dan suap. Negara hukum yang cacat hukum, karena pengadilan lebih berpihak pada penguasa dan capital (pemodal). Kita teringat dengan kasus rakyat kecil yang mengambil kapuk, kakoa, dan pepaya untuk dimakan, bisa langsung diponis hukuman penjara. Sedangkan koruptor yang jelas-jelas mencuri uang Negara (rakyat), prosesnya bisa berbelit-belit dan sampai pada keputusan dia tidak bersalah, dengan alasan tidak cukup bukti. Kemudian masalah pengangguran dan kemiskinan yang sampai saat ini belum ditemukan solusinya.
            Dua Negara inilah yang coba divisualkan di atas panggung. Hal ini yang membuat kita masih percaya, bahwa seni teater sampai saat ini dan masa akan datang, terus memberikan kontribusi pikiran terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Teater akan terus menjembati realitas social yang ada, ke dalam dunia panggung. Pada pementasan ini, sutradara berhasil memindahkan persolan ke atas panggung, secara visual. Pementasan ini bisa diterima oleh setiap lapisan masyarakat perkotaan yang terkesan nge-pop.
            Keberhasilan ini juga dapat dilihat, dari pemain yang mampu menyembunyikan kepenatan tubuhnya. Sebagai tubuh yang normal, tentulah akan mengalami penurunan stamina, jika dipaksakan untuk berperan sebagai tubuh actor selama lima kali pementasan. Namun, dalam pementasan kali ini, kepenatan itu tidak terlihat. Namun dalam keberhasilan ini, ada hal yang menganggu pendengaran.
            Gangguan ini, disebabkan oleh pilihan suara natural yang dikeluarkan actor atau suara yang dibantu oleh condensor dan suara music yang menggunakan alat technologi digital. Condenser yang diletakkan di balik wing, kiri kanan panggung mempengaruhi perubahan dari suara actor yang dikeluarkan. Misalkan saja, jika actor berdialog tepat di pinggir panggung terdengar suara sangat keras. Namun, jika actor berdilog tepat di tengah panggung suara jadi kecil, tapi artikulasi dan intonasi masih tetap terdengar jelas. Dari pilihan penggunaan condenser ini suara yang dikeluarkan jadi tumpang tindih dan tidak seimbang. Sebaiknya, dipilih salah satunya saja. Kemudian music yang telah ditata dengan baik menjadi kurang nikmat didengar, karena volume suara yang terlalu tinggi dan mendominasi.
            Semoga pada pementasan berikutnya, hal yang menyangkut teknis bisa lebih dipertimbangkan secara matang, kematangan kita juga yang telah meng-Indonesia. tidak bisa dipungkiri, bahwasanya kita telah lahir dan dibesarkan di bawah bendera merah putih yang berjalan melintasi kita di deretan panggung penonton. Mari melihat Indonesia sesungguhnya dengan Kasih, Sayang dan Cinta.   
            Husin, Tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Praktisi Teater