Label

Jumat, 31 Januari 2014

Saatnya Pemuda Bangkit Untuk Indonesia Lebih Baik



Oleh: Husin

Usia muda merupakan usia yang paling produktif serta berkontribusi atas segala gejala sosial, kemudian mampu sepenuhnya untuk melakukan segala perubahan. Pada usia muda stamina masih kuat, pikiran masih segar, jantung berdetak kencang, darah masih panas dan mengalir dengan deras. Apabila mereka melihat, mendengar, merasakan, kemudian berpikir dan berkumpul mereka mampu merubah keadaan. Perubahan bisa menuju ke arah yang lebih baik dan juga bisa menuju ke arah yang tidak baik, karena pemuda cenderung emosional dan mengikuti arus yang lebih deras. Apa bila sekelompok pemuda tersakiti, maka dengan lantang mereka meneriakkan perlawanan. Kerena bagi mereka, obat penyembuh luka, hanya satu kata. LAWAN..!
Jika kita teringat dengan kejayaan para pemuda Indonesia pada masa penjajahan, mereka bigitu berapi-api untuk merebut tanah kelahiran mereka. Kita tidak akan bisa melupakan sosok pemuda seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Ki Hajar Dewantara, M. Yamin, Agus Salim, Tan Malaka, Kartini, Cut Nyak Dhien, Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan masih banyak lagi deretan pemuda Indonesia dengan gagah berani melawan penjajah. 
Berkenaan dengan tema ‘Menghadirkan Teladan Kepemimpinan Bapak Bangsa di masa kini’ yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul ‘Mengenang Pemimpin Teladan’ di www.darwinsaleh.com saya berpandangan bahwa saya sangat setuju dan sepakat bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta adalah sosok pemuda cerdas, peduli akan keaadan bangsa, dan berani mempertaruhkan harga diri Bangsa Indonesia kepada Negara-negara Adidaya, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang punya harga diri dari kaca mata Internasional. Merekalah pemimpin yang tak tergantikan, sehingga pantas untuk diteladani.
Berkaca pada kejayaan Indonesia pada masa lalu, untuk saat ini siapa tokoh yang pantas untuk diteladani. Hingga saat ini saya belum menemukan tokoh yang pantas untuk diteladani, saya kira masih banyak barisan pemuda yang telah kehilangan figure pemimpin yang bisa dijadikan contoh teladan. Kami, ya kalau boleh saya menggunakan kata kami. Kami adalah generasi muda yang telah kehilangan sosok pemimpin yang pantas untuk diteladani, kami juga adalah deretan pemuda yang mengalami krisis kepercayaan, karena kami segenap pemuda yang selalu dibohongi dengan segala janji-janji basi para pemimpin hari ini. Aroma mulut mereka berbau busuk setelah memakan bangkai-bangkai rakyat yang tak berdosa. Maka kami para pemuda tidak akan membiarkan penindasan yang terus terjadi, kami bertekat suatu saat nanti tirani harus tumbang. Pernyataan ini akan dipertegas dalam puisi saya yang bejudul ‘Tirani Harus Harus Tumbang’.

Wahai para tiran..!
Sampai kapan kalian akan terus menyumbat
suara-suara bimbang dengan segumpalan janji-janji basi
dari mulut kalian terasa sangat basi
namun kami hanya diam dan selalu diam
Suara kami selalu dibungkam
lidah kami terasa padam


Setiap huruf yang kami kumpul
Setiap kata yang kami susun
Setiap kalimat yang kami gabung
Tetap saja beserakan kemudian terbuang

Sampai kapan kalian akan mengorek makanan yang ada dimulut kami padahal belum sempat melewati tenggorokan, hati, jantung, usus, lambung, sehingga muntah kamipun sanggup kalian jilati
Bahkan tinjapun kalian jilati

Kalian ciptakan mesin-mesin yang sangat berbahaya dari mesin sebelumnya
mesin-mesin itupun ikut memaksa kami tuk selalu bekerja dalam sistema
Menghitung angka-angka, nilai lebih yang membawa keuntangan mengganda
terlipat-lipat
melipat-lipat
berlipat-lipat
dan sangat padat
kami pun bagi kau adalah bangsat
disumbat dengan pantat
yang tidak akan pernah merasakan nikmat
mesin-mesin itupun membunuh hingga pucat
hingga jadi mayat..!


Dalam pucat, setiap sudut, setiap lorong, setiap ruang, setiap jengkal, setiap garis tanpa batas, terdengar segerombolan orang sedang berbisik-bisik membicarakan nasibnya, mempersoalkan tanah, mempersoalkan air, mempersoalkan tulang, mempersoalkan darah yang mengering. Bersamaan dengan kepalan waktu, bisikan-bisikan itu semakin keras dengan lantang berteriak, dengan lantang berteriak, dengan lantang berteriak..!
 
Puisi di atas barangkali cocok untuk pemimpin yang sibuk akan kekuasaan, memperbanyak harta, memperluas lahan kekayaan pribadi, sehingga lupa dengan janji-janji serta ingkar dengan segala sumpah yang telah diucap. Kalau sudah disibukkan dengan segala yang bersifat duniawi, tidak lagi otak mereka bisa berpikir untuk kebaikan rakyat, tidak punya waktu lagi untuk melihat bahkan bercengkrama dengan rakyat, tidak sempat lagi mendengar keluhan rakyat. Otak pemimpin kita barangkali telah tumpul, mata mereka telah buta, dan telinga mereka telah tuli oleh segala kekayaan yang mereka dapatkan. Mereka cukup bahagia di atas penderitaan rakyat.
Pendidikan dan kesahatan masih dirasa mahal oleh rakyat, sehingga mereka mengurungkan niat untuk menyekolah anaknya karena tidak cukup uang untuk sekolah dan juga membatalkan niatnya untuk berobat ke rumah sakit karena nanti kalau ditagih oleh pekerja rumah sakit tidak ada uang untuk membayar pengobatan. Belum lagi dengan lapangan pekerjaan yang tidak memadai, bahan-bahan pokok yang harganya terus melambung tinggi, dan bahan bakar minyak yang katanya dari sumber daya alam Indonesia pun mengalami kenaikan. Menanggapi (artikel) yang berjudul ‘Subsisidi BBM Hak Golongan Tidak Mampu, Itu Amanah UU’ dalam www.darwinsaleh.com saya sangat setuju sekali, karena memang begitulah semestinya. Karena bagi saya, segala kekayaan yang ada di bumi Indonesia adalah hak rakyat. Maka dari itu, BBM harus diberikan demi kepentingan rakyat. Jika memang demikian, kekayaan alam Indonesia harus dikelola oleh pemuda Indonesia, tanpa interfensi dari pihak asing. Dalam hal ini kita bisa belajar dari Negara Venezuela dan Cuba yang mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.
Saya kira tidaklah ada salahnya mereka coba belajar dari para pendiri Negera ini, atau bahkan belajar dari hidup sederhana yang dijalankan oleh Mahmud Ahmadinejad Presiden Iran, seorang presiden yang menolak segala hidup mewah, karena bagi dirinya segala kekayaan adalah milik Bangsa dia hanya bertugas menjaganya, sehingga dia tidak pernah mengambil gaji kepresidennya dan hanya mengandalkan kehidupannya dari gaji dia mengajar sebagai dosen di   Universitas Teheran.
Di tahun 2014 yang disebut sebagai tahun politik, dengan adanya pemilihan umum pada bulan April. Jangan lagi mengulang kesalahan lama, karena bagi pemilih juga ikut bertanggung jawab atas apa yang telah dipilihnya. Jangan pernah membenarkan orang yang kita sudah tahu bawa orang kita pilih pada dasarnya tidak benar, jangan lagi membeli orang yang memang tidak pantas untuk dibela. Jika hal demikian masih juga kita lakukan, jadilah kita kaum muda yang tolol masuk ke dalam kubangan yang sama. Ya, semoga saja kita tidak lagi kecolongan oleh pemimpin yang tidak pantas untuk diteladani. Karena kami para pemuda yang telah kehilangan kepercayaan. 




Kalaupun ada, yang kami teladani dan kemudian menaruh hati, mereka akan dibungkam, dibuang, dan bahkan dibunuh. Seperti yang kami rasakan pada masa orde baru dan orde paling baru (istilah Iwan Fals) untuk orde pasca reformasi. Namun kami adalah pemuda yang punya harga diri, dari sanubari kami yang paling dalam kami ingin Indonesia menjadi lebih baik. masih banyak diantara kami yang sangat merindukan sosok pemuda yang teladan. Meskipun hari ini kami belum menemukan, paling tidak generasi setelah kami bisa bertemu. Sosok itu adalah kami!.




Namun kami sangat menyadari tidaklah semua dari kami yang mampu berpikir dan menyediakan waktu untuk perubahan. Hal ini disebabkan oleh krisis keparcayaan seperti yang sudah dijelaskan di atas. Banyak dari kami yang juga melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik. Kami selalu ingkar karena pemimpin kami selalu berdusta, kami kerap mencuri karena pemimpin kami selalu korupsi, kami sering berkelahi kerena pemimpin kami suka menembaki rakyat, dan kami sangat suka mengkonsumsi narkoba, karena pemimpin kami suka mabuk-mabukan dan main perempuan. Tapi kami sadar ini adalah penyakit yang tidak akan mungkin kami pelihara, karena kami adalah pemuda yang sebagai manusia pantas untuk dihargai.
Dari segala kenakalan kami, Ibulah yang selalu menasehati untuk segala kebaikan. Karena Ibu yang akan selalu menuntun kami ke arah jalan lurus dan paling baik. Sama halnya denga pesan (artikel) yang berjudul ‘Batik dan Kasih Ibu’ di www.darwinsaleh.com Begitu Ibu sangat teliti mengerjakan barisan titik dengan penuh kasih dan kesabaran, sehingga ia menjadi sebuah karya yang memiliki estetika seni yang elok. Begitu batik selesai dengan bangga kita mengenakannya, seperti kita bangga akan bangsa Indonesia. Ibu juga mendidik kami bagaimana menjadi manusia dengan karakter yang baik.
Pendidikan karakter telah ditanamkan oleh Ibu sejak kecil, yang hari ini menjadi konsep pendidikan pada lembaga pendidikan-pendidikan formal. Dr Thomas dalam bukunya Educating for Character mendefinisikan ‘Pendidikan Berkarakter’ adalah suatu usaha sengaja untuk membantu orang paham dan peduli, serta bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Bahwa ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin mereka bisa menilai apa yang benar, peduli secara mendalam tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang meraka yakini untuk menjadi benar bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Dipertegas juga oleh Thomas Lickona, bahwa pendidikanberkarakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action) yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Untuk Negara Indonesia, pendidikan berkarakter harus digali dari landasan ideal Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan pada tahun 1928, ikrar ‘Sumpah Pemuda’ menegaskan tekad untuk membangun bangsa Indonesia. para pemuda bersumpah untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Pada saat kemerdekaan, maka Negara kesatuanpun dipilih oleh founding father (Soekarno-Hatta).
Sudah saatnya pemuda untuk bangkit, membangun kesadaran peduli akan lingkungan, membentuk organisasi yang massif, dan satukanlah barisan untuk menghadang segala penindasan dan penghisapan. Wiji Thukul berpesan kepalkan tinjumu, acungkan ke atas langit, sambil berteriak dengan lantang LAWAN..!





Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Bahan Rujukan

Kamis, 18 Juli 2013

Kekacauan Tanpa Henti, Maka BerSEGERAlah Ambil Tindakan (Laporan Pementasan SEGERA Karya Rachman Sabur – Camille Boitel)


Oleh: Husin

Di loby Gedung Kesenian Ajungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru 18 Juni 2013, telihat calon penonton tidak sabar ingin cepat masuk menduduki bangku penonton, menyaksikan pementasan “SEGERA” karya Rachman Sabur – Camille Boitel yang disutradarai oleh Racman Sabur. Namun ketidak sabaran calon penonton dapat terobati oleh pemutaran video documenter proses kreatif Kelompok Teater Payung Hitam semenjak awal berdiri hingga sekarang. Tepat pukul 20.00 WIB calon penonton dipersilahkan untuk masuk menduduki bangku dan sah untuk menjadi penonton seutuhnya.
Dari bangku penonton yang berkapasitas 600 telah penuh terisi, terlihat samar-samar sett panggung dan seorang tokoh perempuan duduk di atas kursi plastik dengan wajah disiram oleh cahaya senter yang melekat di dagunya. Perempuan ini terjatuh bersamaan dengan kursi plastic yang didudukinya, setiap kali dia berusaha bangkit, ia terus terjatuh dengan gerakan yang diulang-ulang.  Tidak lama berselang tiba-tiba menyala lampu neon yang di gantung di tengah depan panggung. hal ini membuat penonton jadi gaduh, karena terlihat beresiko dan belum pernah dilakukan oleh pementasan sebelumnya. Sontak kegaduhan terhenti sejenak dan terdengar jeritan dari bangku penonton, karena tiba-tiba lampu terjatuh dari ketinggian 3cm ke lantai, sehingga panggung kembali menjadi gelap. Tanpa disadari, tidak ada aba-aba dari pembawa acara, pementasan telah berlangsung.
SEGERA, mengajak penonton untuk waspada terhadap ancaman dan bahaya yang akan datang, kekacaun telah terlihat jelas di depan mata. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Secara visual, dengan jatuhnya lampu neon dari ketinggian 3cm ancaman dan kekacauan itu bermula, tanpa henti. Awalnya penonton mengira, itu sebuah kecelakaan panggung. namun kecelakaan terus berulang, barulah penonton sadar bahwa memang demikianlah kehendak pertunjukan yang menciptakan kekacauan.
Sekitar 20-an Jam dinding, dari berbagai macam ukuran yang tergantung di dinding terbuat dari terpal biru berjatuhan satu persatu, lalu terdengar suara terompet. Tak lama setelah itu, masuk dua orang laki-laki botak membawa mainan anak-anak. Mainan itu berputar dan berbunyi. Mereka mengarah ke gerobak yang bingkainya terbuat dari paralon, lalu mengantungkan mainan itu di atas gerobak. Gerobak yang semula terlihat kokoh, menjadi hancur dan berantakan. Keadaan menjadi kacau balau, semua menjadi berantakan. Dinding-dinding terpal berbahan plastic yang tersusun rapi menjadi tumbang.
Kekacauan terus berlangsung tanpa henti, dengan kehadiran seorang laki-laki botak panic, karena kakinya terikat tali jerigen. Ia berusaha keras untuk melepaskan ikatan di kakinya. Semakin ia panic dan berusaha untuk melepaskan ikatan, keadaan menjadi kacau dan berantakan. Setiap sett yang berbahan plastic menjadi tumbang dan berjatuhan. Kekacaun yang dialami lelaki botak ini menjadi gerakan yang akrobatik. Kerena setiap benda berbahan plastic yang tersentuh dan terinjak oleh tubuhnya menjadi berjatuhan dan tepental ke semua arah. Pada saat ia tersangkut pada tali yang tergantung, onggokan plastic berjatuhan menimpa dirinya. Ditambah lagi pada saat ingin melompat dan menginjak bahan palstik yang lain, di permukaan lainnya berpentalan tutup botol plastic warna-warni. Lelaki botak yang tidak berbaju ini terus berusaha untuk menyelamatkan tubuhnya. Dalam keadaan panic, akhirnya ia dapat meraih helm berwarna merah lalu menutupi kepalanya, dengan sangat riang ia berlari keluar.
Dari adegan kekacaun yang terlihat, menyisakan banyak sampah plastic yang menyesakkan panggung. Dapat terlihat, bahwasanya Rachman Sabur ingin mengusung bahaya plastic bagi lingkungan. Maka kemudian sangat jelas pada judul SEGERA, ancaman dan kekacauan akan datang. Bersegeralah melakukan tindakan sebelum ancaman dan bahaya akan menimpa kita.
Adegan demi adegan yang coba diciptakan, sengaja mengaambarkan kekacauan demi kekacauan. Adegan-adegan kekacauan berjalan begitu cepat dan berbahaya, sehingga membuat sebahagian penonton menjerit dan berteriak. Karena tak kuasa menahan suaranya. Melihat botol-botol plastic berterbangan, botol gallon terus berjatuhan, jerigen yang beradu sehingga menghasilkan bunyi-bunyian yang dimainkan rupa oleh actor yang selalu membuat penonton terus terpukau. Setiap sampah plastic yang berserakan di atas panggung, setiap itu pula dibersihakan oleh para actor dari arah kiri dan kanan panggung, begitu terus berulang.
Teater tanpa kata maupun kalimat ini, didominasi oleh permainan tubuh yang terus tereksplore. Verbalitas lebih terlihat dengan jelas dengan permainan tubuh dan idiom plastic yang diusung. Meskipun tidak semua bahaya plastic disampaikan lewat idiom plastic itu sendiri. Ada beberapa adegan disampaikan lewat pemukulan terhadap actor lain dengan gerakan slowmotion, ada juga adegan seorang actor yang baru keluar dari balik dinding, lalu kepalanya diperangkap dengan jaring, sehingga ia menjadi hilang. Kejelian sutradara menciptakan adegan demi adegan sangat memukau. Karena tidak ada satu orangpun terlihat jenuh, bahkan terus terpukau melihat ulah actor yang terkadang terlihat lucu, meskipun tidak bermaksud untuk melucu. Berbagai sketsa atau pose-pose dan spektakel yang dihadirkan juga tak kalah menarik dan sangat memukau. Sehingga tak terasa sudah 30-an menit pertunjukan berlalu begitu saja. Seorang guru swasta di Pekanbaru yang berkesempatan hadir pada malam itu, terasa sangat senang melihat pertunjukan SEGERA. “Ternyata pertunjukan teater, di dalamnya juga berupa ilmu pengetahuan yang memiliki pesan kepada penonton. Ya, seperti pementasan mala ini yang mengusung bahaya plastic bagi kehidupan. Bentuk pertunjukannyapun tidak begitu sulit untuk dipahami, meskipun dengan bahasa tubuh” sambil terus berjalan ke arah panggung, untuk memberikan selamat kepada para pemain.
Ranchman Sabur selaku pimpinan Teater Payung Hitam sekaligus sutradara dalam pementas SEGERA ini, merasa sangat senang dan tersanjung bisa memberikan apresiasi kepada penonton yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan kelompok-kelompok teater yang ada di Kota  Pekanbaru. Rasa senang ini juga disampaikan oleh Racman, pada saat sharing dan pemutaran video dokumnter proses kreatif Teater Payung Hitam sehari sebelum pementasan (17/06/2013) pukul 14.00 WIB, di Gedung Dewan Kesenian Riau yang diorganisir oleh Jurusan Seni Teater Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Semulanya direncanakan workshop oleh Rachman Sabur yang diminta oleh pihak STSR. Namun karena kesehatan beliau kurang baik, workshop digantikan dengan sharing dan pemutaran video documenter. Meskipun begitu, peserta yang berjumlah 47 orang begitu antusias mengikuti kegiatan. Salah seorang peserta merasa senang, mendapatkan pengetahuan baru. Karena semenjak di Pekanbaru ia belum pernah melihat ada kelompok ataupun pertunjukan yang lebih bermain pada tubuh.   

Pekanbaru, 26 Juni 2013

Insan-insan Malang Tidak Hanya Sekedar Konflik Keluarga (Catatan Pementasan Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Teater dan Film, Sekolah Tinggi Seni Riau)



 Oleh: Uchien
“Insan-insan Malang” Karya Bambang Soelarto, kembali dipentaskan dalam rangka Ujian Tugas Akhir Mahasiswa jurusan Seni Teater dan Film, program Diploma Tiga Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Pementasan ini diselenggarakan di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Minggu 17 Februari, 20.00 WIB. Bertindak selaku sutradara atau yang teruji Rohasimah.
Insan-insan Malang, syarat dengan persolan social-politik pada masa kelahiran naskah lakon karya Bambang Soelarto ini. Pada tahun 60-an Indonesia mengalami perpecahan di dalam tubuh pemerintahan. Saling intrik antar organisasi dan partai semakin menjadi-jadi. Saling intrik ini disebabkan oleh dua ideologi yang berlawanan, Kapitalis-Imperealis versus Sosialis-Komunis. Pada naskah Insan-insan Malang ini mencoba mewakili pertentangan pandangan ini terhadap tokoh Pelamar Satu (Sulaiman) dan Pelamar Dua (Riki).
Adegan awal, munculnya tokoh Bapak (Syarif) yang mengamati photo anaknya di atas lemari, Bapak menunjukkan betapa sayangnya dia terhadap anak semata wayang, bernama Wati yang akan dilamar oleh dua orang pemuda. Tak lama berselang terdengar ketukan pintu, tak lain dan tak bukan yang datang adalah seorang pemuda. Bapak menyambutnya dengan sangat ramah, dengan sedikit salah tingkah Pemuda Satu memperkenalkan dirinya. Pemuda Satu, seorang sarjana ekonomi jebolan perguruan tinggi Amerika. Punya kedudukan tinggi sebagai direktur sebuah perusahaan industry obat-obatan. Punya rumah gedung tingkat dua, punya dua mobil sedan. Dari status Pemuda Satu ini menandakan, dia adalah seorang pemuda yang kaya raya. Hal inilah yang menyebabkan Pemuda Satu dihujat oleh Pemuda Dua, sebagai borjuis tengik anti revolusi, dia juga dituduh sebagai komprador nekolim.              
Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud hati untuk melamar Wati, Pemuda Satu mohon diri untuk pergi. Sebelum pergi Bapak mengingatkan bahwa masih ada satu orang pemuda lagi yang datang untuk melamar. Bapak menegaskan bahwa Pemuda Satu baru berstatus sebagai calon menantu. Setelah Pelamar Satu pergi, Bapak memperlihatkan ketidaksenangannya, dia menilai Pemuda Satu, laki-laki yang sombong, telah membanggakan harta kekayaannya. Kemarahan Bapak disambut dengan kehadiran Pemuda Dua.
Pemuda Dua, seorang pegawai tinggi, asisten ahli dalam bidang social-politik cabinet. Pernah belajar ilmu politik di Universitas Negara Sosialis. Sangat tidak suka dengan Pemuda Satu yang menghinanya sebagai badut politik yang terus menurus mengibuli rakyat. Kerjanya cuma main komisi, makan suap, manipulasi, korupsi. Bikin inflasi, memproduksi slogan-slogan basi. Pemuda Dua datang menghadapi Bapak juga ingin maksud hatinya untuk melamar wati, namun Bapak juga dibikin kesal olehnya, dengan maksud mencampurkan urusan keluarga dengan politik.
Melihat dari kedua pelamar Wati, penulis naskah tidaklah melihat persolan sederhana, dari permaslahan keluarga, namun dapat dilihat persoalan besar dibalik itu semua. Persoalan politik dapat dilihat dari pertentangan idelogi besar yang diwakili oleh tokoh Pemuda Satu dengan Pemuda Dua yang memperebutkan Wati. Wati barangkali bisa dianalogikan sebagai bangsa Indonesia yang pada saat itu ingin menemukan identitas. Tapi kemudian Bapak tidak mau melepaskan anaknya begitu saja, sampai pada akhirnya Wati memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bapak merasa terpukul sekali dan mersa bersalah, ditambah dengan surat yang ditulis Wati dibacakan oleh Pemuda (Ridwan) keluarga dekat Bapak. “…kukatakan dengan terus terang, bahwa tidak satupun dari mereka yang menjadi pilihan hatiku, Bapak setuju. Aku mohon memilih jodoh sendiri, bapak menolak. Sejak itu timbul perasaan aneh dalam diriku, aku merasa berhadapan dengan hantu jahat. Bapak hendak menguasai hidupku, aku jadi benci kepadanya. Aku dikurung dalam kamar dan Bapak menghiburku dengan belaian sayang, tidak sebagai anak kandung sendiri, tetapi sebagai wanita, aku benci Mas. Aku tidak tahan Mas. Selamatkanlah aku dari hantu jahat ini Mas. Jika tidak, aku akan menyelamtkan diriku, dengan caraku sendiri, jika tak bisa bertahan lagi menghadapi si hantu…”. Belum selesai surat dibaca, Bapak merampasnya dari tangan Pemuda. Emosi bapak bercampur aduk, dari rasa sedih, karena mersa bersalah terhadap pelakuannya dan marah, karna Bapak tahu, bahwa ternyata Wati menyukai Pemuda. Bapak kalut, dan masuk ke kamar. Di dalam kamar tercium bau kain terbakar, wajah Bapak terbakar, lalu ia terus mengoceh tentang perbuatannya menuju pintu dan keluar.  
Dilihat dari keseluran element pementasan. Naskah lakon realis ini, digarap dengan konsep presentasi. Dari latar tempat dan waktu sett panggung, rias dan kostum dibangun sesuai  dengan kelahiran naskah. Namun, hal itu tidak terlihat secara keseluruhan hadir di atas panggung. Sutradara tidak detail, panggung yang sangat lebar dibiarkan kosong, banyak ruang mestinya masih bisa diisi dengan beberapa perabotan. Kemudian yang dibiarkan oleh sutradara adalah kesamaan warna dasar permainan, sehingga pementasan terlihat datar. Padahal actor menjadi yang utama dalam pementasan.
Terlihat juga, bahwa actor tidak begitu total untuk mengenali tokoh, dangkal interpretasi, sehingga tubuh actor menjadi sangat mekanis. Actor hanya bermain secara fisik dan tampak luarnya saja dan usaha untuk bermain inner menjadi ngambang dengan tidak menjaga intensitas bermain. Mestinya actor bermain menjadi milik si karakter, tidak hanya sekedar mewakili si karakter. Sebaiknya actor juga mengutamakan indentifikasi antara jiwa si actor dengan jiwa si karakter, sambil membiri kesempatan kepada tingkah laku untuk berkembang (Eka D. Sitorus: 2003).   
Seperti juga yang pernah disampaikan oleh Stanislavsky “actor menjadi penting dalam sebuah proses produksi. Actor adalah pemegang kendali tercapainya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah melalui konsep yang diciptakan oleh sutradara”.   

Husin, Tenaga Pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Praktisi Teater