Rabu, 13 Mei 2009

WARNING

I
MC MEMEGANG BUKLET, LALU MEMBACAKANNYA
II
SCREEN MEMPERLIHATKAN SEBUAH KEINDAHAN ALAM. HUTAN DENGAN KESUBURANNYA, SUNGAI DENGAN KEJERNIHANNYA, LAUT BEGITU LUAS, GUNUNG-GUNUNG BEGITU KOKOH TEGAK BERDIRI. DARI KILASAN-KILASAN GAMBAR TERLIHAT TUBUH MANUSIA BERGERAK MENYERUPAI ALAM. LALU MUNCUL TULISAN YANG BERTULISKAN WARNING BERKALI-KALI. SAMAR-SAMAR DI ATAS PANGGUNG TERLIHAT TEMPAT EKSEKUSI
III
TIBA-TIBA MC MUNCUL DENGAN PENUH RASA BERSALAH.
MC:
“Maaf bapak-bapak, ibuk-ibuk, para kurator dan seluruh penonton yang menghadiri pertunjukan ini. Maaf… maaf… sekali lagi saya minta maaf. Pertunjukan kali ini untuk sementara terpaksa saya hentikan. Karena malam yang berbahagia ini kita kedatangan tamu, yakni dia adalah …bapak kita, …guru kita, …pemimpin kita, …orang tua yang dapat kita percaya, …maestro kita, bahkan dia adalah …pahlawan kita yang kelak akan membantu kita dalam hal apapun.
MC SEOLAH BERBICARA KEPADA ORANG YANG BERADA DISAMPING PANGGUNG, MENGISYARATKAN BAHWA ORANG YANG DIMAKSUD BELUM DATANG
MC:
“Oohhh.. maaf.. ternyata beliau belum datang, tapi tenang bapak-bapak, ibuk-ibuk.. tadi saya diberi tahu oleh ajudannya, bahwa.. mereka masih dalam perjalanan menuju kemari.. mudah-mudahan sepuluh menit lagi beliau akan datang.. sama-sama kita ketahui, bahwa beliau tidak pernah ingkar janji. Jadi, saya harap kita semua yang ada di sini dapat bersabar.. perlu kita ketahui, bahwa beliau adalah orang yang amat penting, segala pemikirannya sangat berguna bagi kita semua.. apalagi sekarang kita selalu dilanda oleh berbagai macam musibah, semoga.. nanti setelah kita mendengarkan pikiran beliau, kita akan mendapatkan…”
DARI KEJAUHAN TERDENGAR BUNYI SERINAI, KEMUDIAN TERDENGAR ARAK-ARAKAN MENYAMBUT KEDATANGAN ORANG 1
ORANG-ORANG:
MENYAMBAUT ORANG 1 DENGAN MEMAINKAN ALAT MUSIK SAMBIL TERUS BERNYANYI “Bapak kita datang... bapak kita datang... bapak kita datang... TERUS BERNYANYI SAMPAI ORANG 1 MELEWATI PENONTON
MC:
“sepertinya itul beliau.. ia datang seperti yang kita harapkan, saya minta kepada kita semua berdiri, sebagai tanda untuk menghormatinya.. maaf, kepada beliau dengan segala hormat, saya persilahkan.”
MC BURU-BURU KELUAR
IV
ORANG 1 BERJALAN MELEWATI PENONTON
ORANG 1:
“Dunguk..!”
TERLIHAT AJUDAN MEMBAWA MIMBAR, KURSI DAN BERBAGAI MACAM BARANG TENTENGAN
AJUDAN:
“………………………”
ORANG 1 MEMPERCEPAT LANGKAH MENUJU PANGGUNG, SETIBANYA DI PANGGUNG. TERNYATA AJUDANNYA MASIH DI BAWAH
ORANG 1:
“Cepat Dunguk..!
AJUDAN BERLARI-LARI, KARENA TAKUT DIMARAHI ORANG 1. LALU IA TERJATUH
ORANG 1:
“Dasar tolol!”
AJUDAN:
KETAKUTAN “…………………”
ORANG 1:
“Pispot!”
AJUDAN:
“……………………”
ORANG 1:
MELUDAH “Cuiiihh..! MEMBERIKAN CANGKLUNG “Naskah..!
AJUDAN:
BERAPA LEMBAR KERTAS TERJATUH “………………”
ORANG 1:
MENDORONG KEPALA AJUDANNYA “Dasar Dunguk!”
AJUDAN:
MENANGIS “…………………………”
ORANG 1:
MENGANGKAT KERAH BAJU AJUDAN “Jangan Menangis...!” DENGAN NADA TINGGI, MENDORONG SIDUNGU SAMPAI TERJATUH “Kaca mata...!”
AJUDAN:
CEPAT-CEPAT BERDIRI DAN MENGHENTIKAN TANGISANNYA “……………………”
ORANG 1:
“Tenang saudara-saudara, orang ini memang biasa lalai.. dan sudah sepantasnya ia diberlakukan seperti itu, tapi... ya... dia sangat senang dengan pekerjaannya. ...Sebenarnya saya sudah lama ingin mencampakkannya, tapi setelah saya pikir-pikir.. apasalahnya saya membantu pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran, yang sampai hari ini sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. ...Ohh, maaf saudara-saudara.. ... eeehh.. sebenarnya... saya tidak pantas untuk membicarakan persoalan pengangguran pada kesempatan yang berbahagia ini. ... baiklah.. Nanti kita akan cari waktu lain, khusus untuk membicarakan tentang pengangguran.”
MENYUSUN LETAK NASKAH YANG AKAN DIBACAKAN
“Baiklah..! Para hadirin yang saya cintai... sebelumnya saya mengucapkan ribuan terimakasih, kepada semua yang ada di sini, yang masih memperhitungkan saya dan memberikan kesempatan untuk menyampaikan sedikit persolan tentang lingkungan. Benar saudara-saudara.. masalah lingkungan adalah masalah yang sangat krusial untuk dibicarakan saat ini. Tentulah.. masalah yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini adalah.. apa efek! …Efek yang dimaksud tentulah hal yang terburuk yang kita rasakan. Dan saat ini.. kita merasakan keburukan itu! Keburukan itu adalah.. bencana yang tidak pernah berkesudahan.. barangkali saudara-saudara, sering menonton televisi, membaca Koran, mendengar radio dan barangkali juga selalu membuka situs internet.. pemberitaannya tidak pernah terlepas dari bencana alam. Seperti banjir, tanah longsor, gempa, angin topan, hujan yang telah berganti jadwalnya dan lain sebagainya. Katanya semua ini disebabkan oleh, telah menipisnya ozon, kemudian mengakibatkat bertambah tingginya suhu di bumi.. bahasa kerennya Global Warming, atau biasa kita sebut.. pemanasan global! semuanya ini disebabkan oleh.. diantaranya adalah.. penebangan hutan secara besar-besaran, banyaknya gedung kaca yang memberikan pantulan panas sinar matahari, polusi asap-asap pabrik dan kendaraan freon, foam dari hairspray, ataupun logam berat yang dibawa oleh co2 yang mempunyai sifat menghantarkan panas.”
ORANG 1:
“Kipas..!”
AJUDAN:
MENGIPASI ORANG 1
ORANG 1:
“Kain lap..!”
AJUDAN:
MEMBERSIHKAN KERINGAT DI WAJAH ORANG 1
ORANG 1:
“Saudara-saudara... baru-baru ini kita dikejutkan oleh gempa sebesar 6 kala ricter di Semarang, longsor di Situ Gintung, galodo di Pasia Laweh tepatnya di Batu Sangka.. semua ini mengakibatkan banyak kerugian.. baik finansi maupun nyawa.. dan sampai hari ini kita tidak akan pernah melupakan peristiwa Tsunami di Aceh yang begitu banyak memakan korban. Kemudian Lumpur Lapindo yang banyak menelantarkan kehidupan orang lain.. yang sampai hari ini belum juga terselesaikan. Benar-benar.. sangat menyedihkan..”
ORANG 1:
ORANG 1 MENJADI SEDIH HAMPIR NANGIS LALU MENJADI HAUS “Minum..!”
AJUDAN:
“……………………”
ORANG 1:
“Kain lap..!”
AJUDAN:
MEMBERSIHKAN AIR DI BIBIR ORANG 1
ORANG 1:
MELANJUTKAN PIDATONYA “Para hadirin… persoalan lingkungan tidak akan pernah habis-habisnya untuk dibicarakan, barangkali setiap manusia yang masih bernafas di bumi ini pasti memikirkan, atau membicarakan tentang persoalan lingkungan yang katanya semakin hari semakin parah dan memprihatinkan. Kalaulah hal ini dibiarkan berlama-lama, sangat dipastikan bahwa kita akan ikut punah bersamaan dengan alam itu sendiri. SEPERTI MENGINGAT-INGAT SESUATU. “Tunggu sebentar saudara-saudara..” MEMINTA NASKAH BARU KEPADA AJUDANNYA. “Naskah..!” KALI INI NASKAH TIDAK TERJATUH. “Bagus..!” LALU MEMBACAKANNYA. “Baiklah.. barangkali saudara-saudara teringat akan peristiwa masa lalu.. mari kita lihat kembali.. bahwa sejak tahun 1972 dunia telah kehilangan 200 juta hectare pohon-pohon kayu. Padang pasir bertambah luas dengan 120 juta hectare. Petani sedunia kehilangan tanah permukaan kurang lebih sama dengan luas tanah pertanian di India dan Prancis, sebanyak 480 juto ton. Dan beribu macam tumbuhan dan jenis binatang, yang masih ada di tahun 1972, kini telah punah. Setiap tahun jumlah manusia bertambah dengan 90 juta jiwa. Para hadirin.. di sini saya akan mencoba menggiring kita semua. Barangkali kita semua masih ingat, bahwa pada bulan juni 1992 merupakan bulan yang penting bagi dunia, wakil-wakil dari hampir setiap negara, termasuk banyak kepala negara dan sejumlah menteri, para pakar dan aktivis. tentulah dalam hal ini Indonesia juga ikut menghadiri pertemuan ini. Pertemuan ini membicarakan tentang Lingkungan Hidup Manusia, intinya adalah untuk membalikkan kemerosotan beruntun yang telah mencirikan kesehatan lingkungan alam, dan merosotnya keadaan manusia, sampai pada tingkat yang mencemaskan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Para pemimpin yang menghadiri Puncak Bumi itu tentu yakin bahwa masalah-masalah yang sedang mereka hadapi jauh lebih besar jangkauannya dan skalanya. Polusi udara merupakan isu yang penting dalam tahun 1972, misalnya, keadaan-keadaan sekarang lebih buruk dikebanyakan kota-kota, bahkan sangat lebih buruk. Sementara itu, masalah yang juga tidak bisa terelakkan, yakni masalah-masalah atmosfer global yang tidak dapat dikendalikan, seperti penipisan ozon dan pemanasan global. Para hadirin sekalian.. sementara ekosistem itu berubah dan tanggapan-tanggapan mereka sulit diramalkan, kaum ekologis mengetahui bahwa serangan-serangan terhadap sistem alam dapan menjurus ke arah kehancuran, ia kerap sekali dengan cara-cara yang mendadak dan tidak dapat diramalkan. Semakin cepat perubahan itu, semakin besar pengaruhnya dan semakin tidak teramalkan hasilnya. Tetapi bagi seorang ahli ekologi, ekonomi merupakan sebuah anak himpunan kecil ekosistem dunia. Kegiatan-kegiatan perekonomian manusia yang senantiasa bertambah tidak dapat dipisahkan dari sistem-sistem dan sumberdaya-sumberdaya alam yang akhirnya mereka gantungi, dan setiap kegiatan yang meremehkan ekosistem global tidak dapat berlangsung terus secara tidak terhingga. sayangnya masyarakat-masyarakat modern, bahkan dengan kecanggihan teknologi mereka, menyangkal ketergantungan kepada alam sehingga membahayakan diri mereka sendiri. Kesehatan planet bumi ini pada akhirnya menyangkut kesehatan penduduknya, dan dari sudut pandangan ini juga, telah muncul kecenderungan-kecenderungan yang merisaukan selama lebih dari 20 tahun terakhir. Pada akhir tahun 1980-an, misalnya, hutan-hutan dunia telah menyusut dengan sekitar 17 juta hectare setahunnya, naik dari 11 juta hectare dalam tahun 1980, termasuk di dalamnya kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2,7 hektare pertahun. Manakala kebutuhan akan pertanian menyebabkan pembabatan hutan dan ketika permintaan akan kayu bakar, kayu gelondongan, dan kertas meningkat, pembabatan hutan semakin meningkat pula. Kendati hasil meningkat, ekonomi barisan kaum miskin dunia juga telah meningkat. Sekitar 1,2 miliar manusia kini memenuhi definisi Robert McNamara tahun 1978 mengenai kemiskinan absolut. Marilah kita cermati secara seksama.. bahwa masalah-masalh lingkungan hidup dan pembangunan yang dahulunya terpisah, sekarang sangat erat berkaitan. Kemerosotan lingkungan hidup menyebabkan semakin banyak orang menjadi miskin. Maka kemudian, kemiskinan itu sendiri menjadi pelaku kemerosotan lingkungan hidup. Beberapa Negara telah kehilangan hampir seluruh kawasan hutannya. Pembabatan hutan dan pengembalaan yang terlampau banyak, keduanya banyak dilakukan secara luas di Dunia Ketiga, juga telah menyebabkan kemerosotan mutu tanah secara besar-besaran. Setiap tahun, sekitar 6 juta hectare begitu merosot mutunya sehingga kehilangan kapasitas produksinya, menjadi tanah tandus. Yang juga sangat merisaukan adalah hilangnya lapisan tanah bagian atas karena angin yang telah bercampur dengan asap-asap pabrik, asap kendaraan, dan erosi air yang juga telah bercampur dari pembuangan limbah dari pabrik. Hahaha… (ia tertawa terbahak-bahak) jangankan hutan, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, bahkan kitapun bisa mampus! (tiba-tiba ia menjadi sedih) menghirup udara kini sama seperti merokok sepuluh batang sehari. Hal itu akan menyebabkan gangguan pernafasan, kanker paru-paru dan lain sebagainya. jelas-jelas itu bisa mengancam nyawa.
Para hadirin sekalian… seperti pembuka pembicaraan tadi, hampir diseluruh Negara tak henti-hentinya membicarakan tentang lingkungan hidup, karena kali ini lingkngan kita semakin hari semakin mendekati kehancuran. Bisa kita lihat disetiap Negara, kita akan lihat yang paling dekat, yaitu Indonesia. Pada tingkatan pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan, lurah, desa, RT, RW, bahkan kita semua yang ada di sini telah sibuk membuat program untuk menyelamatkan palnet ini. Hal ini juga diikuti oleh setiap lapisan dan profesi, ilmuan setiap bidang… Pada kesempatan ini saya tidak menyampaikan satu persatu bidang ilmu apa.. maaf, karena terlalu banyak, kemudian agamawan. Juga saya tidak akan sebutkan satu persatu karena agamapun sudah semakin banyak, politikus, pejabat, pengusaha, dosen, guru-guru, mahasiswa, aktivis, LSM, kejaksaan, polisi, tentara, satpol PP, ansip, ..lalu petani, nelayan, buruh, pengamen, pedagang asongon, bahkan para senimanpun ikut-ikutan pula membicarakannya dan ingin menjadi pahlawan untuk menyelamatkan planet ini. Saya sangat bangga sekali.. sekali lagi saya mengatan, bahwa saya sangat bangga. Karena kalau kita tidak bersatu untuk menyelamatkannya, maka kitapun akan diseret oleh kehancuran.
ORANG 1:
“Maaf saudara-saudara.. saya minta waktunya sebentar! Kursi..!
AJUDAN:
“………………………”
ORANG 1:
DUDUK SAMBIL MEREGANGKAN BADAN “Pijit..!”
AJUDAN:
MULAI MEMEJIT KEPALA “…………………” KEMUDIAN BADAN “…………………” SAMPAI KE KAKI
ORANG 1:
“Cukup..!”
ORANG 1:
BERJALAN MENUJU MIMBAR Para hadirin.. mari kita lanjutkan kembali.. Indonesia saat ini tak pernah habis-habisnya ditimpa oleh berbagai macam bencana. Seharusnya semua ini tidaklah terjadi, kenapa tidak? Ya.. karena Indonesia merupakan kawasan hutan tropis ke 3 di Dunia yang menyumbangkan iklim Dunia. Namun yang terjadi adalah, kita masih memelihara orang-orang rakus dan kelaparan akan duit dan kekuasaan dan telah menghambakannya. Mereka telah merusak tanah, air dan hutan mencapai 60 persen, yang jelas-jelas itu adalah sumber kehidupan.
Saudara-saudara.. Seminggu yang lalu saya mendapat kabar, bahwa hutan di Sumatera yang meliputi sembilan provinsi mulai dari pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung diprediksi lima tahun mendatang terancam punah dan akan terjadi krisis pangan akibat tingginya laju deforestasi atau pengalihan fungsi hutan produksi ke lahan perkebunan. Prediksi ancaman kerusakan hutan Sumatera yang membentang pegunungan Bukit Barisan, karena tingkat kerusakannya rata-rata seluas 500.000 hektar per tahun. Perlu diketahui bahwa, hutan kritis di Sumbar kini semakin meluas dengan maraknya penebangan liar yang mengakibatkan kerusakan mencapai 60 persen dari luas area yang ada, dan hal tersebut dapat menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di provinsi tetangga Sumbar diantaranya Jambi dan Riau. Padahal untuk wilayah Sumatera hutan di Sumbar merupakan daerah penyangga bagi daerah lain, sehingga jika kawasan tersebut rusak akan berdampak terjadinya bencana di daerah lain. Karena Sebagian besar sungai-sungai di provinsi tetangga seperti Jambi dan Riau bermuara di Sumbar, seperti sungai Batang Hari di Jambi, maka dari itu jika hutan di Sumbar rusak maka tidak akan ada lagi penyangga untuk daerah lain.
Saudara-daudaraku.. apakah kita akan membiarkan kehancuran yang membuat semua ini menuju kepunahan? Jawabnya tentulah tidak! Jika tidak, marilah kita semua yang ada di sini berjanji dan marilah kita fungsikan hati nurani kita yang sudah kehilangan fungsi. Untuk menyelamatkan bumi. Sekarang saya minta semua yang ada di sini untuk berdiri, BERDIRI DUA ORANG UNTUK MENGAJAK YANG LAINNYA BERDIRI. Coba pegang tangan yang ada disebelah anda, pejamkan mata, mari kita sama-sama berjanji, nanti semuanya ikuti apa yang saya ucapkan. Baiklah.. mari kita mulai. “Kami berjanji akan menyelamatkan bumi” SEMUA MENGIKUTI. Baiklah.. silahkan duduk kembali. Janji yang tadi adalah janji yang harus kita patuhi, karena kita berjanji menggunakan hati nurani. Yang harus kita lakukan terus menerus adalah.. TIBA-TIBA TERDENGAR BUNYI DERING HP)maaf saudara-saudara.. AJUDAN MENGAMBIL HP LALU MEMBERIKANNYA KE ORANG 1 halo.. ya.. ya.. baik.. baik.. saya akan kesana.. TIBA-TIBA ORANG 1 MENINGGALKAN MIMBAR SAMBIL TERUS MEMINTA MAAF KEPADA PENONTON. DIIKUTI OLEH AJUDAN MEMBAWA MIMBAR DAN KURSI, LALU AJUDAN TERJATUH. maaf.. maaf.. maaf.. maaf saudara-saudara.. SAMPAI MENGHILANG.
V
MC MASUK SAMBIL TERTAWA GELI MELIHAT TINGKAH AJUDAN.
MC:
“maaf.. kalau saya membuat saudara-saudara terpaksa menunggu lama untuk memyaksikan pertunjukan malam ini, terimakasih atas kesabarannya.. tapi, kita tidak boleh tidak untuk tidak mendengarkan beliau.. karena segala ucapannya sangat mengandung kebenaran. Jadi.. tidak ada salahnya kita untuk mendengar segala nasehat beliau. Baiklah.. sekarang mari kembali sama-sama kita saksikan drama WARNING ini, Selamat menyaksikan..” MENGAJAK PENONTON UNTUK BERTEPUK TANGAN.
VI
KALI INI SCREEN MEMPERLIHATKAN ORANG SATU BERDIRI DIATAS BUKIT YANG TENGAH BERBICARA LEWAT HP, SAMBIL MENUNJUK-NUNJUK HUTAN, DAN PEBUKITAN. NAMUN APA YANG DIBICARAKANNYA TIDAK BEGITU JELAS. LALU TERLIHAT PENEBANGAN HUTAN, PEMBAKARAN, ORANG-ORANG MANGANGKUT POHON-POHON KE ATAS MOBIL BESAR. KAYU ITU DIBAWA DAN SAMPAI KE PABRIK-PABRIK. TERLIHAT ASAP PABRIK, SUNGAI KOTOR AKIBAT LIMBAH PABRIK. MOBIL LALU LALANG DI PUSAT KOTA, TAMPAK DI SITU ANAK-ANAK GELANDANGAN, PENGEMIS, PEDAGANG ASONGAN, PENGAMEN, PEMULUNG, LALU SAMPAI DI PEMBUANGAN SAMPAH. TIBA-TIBA LANGIT GELAP, PETIR MENGGELEGAR, TURUN HUJAN LEBAT. MULAI TERLIHAT BENCANA BANJIR, TANAH LONGSOR, BUNYI KERAS AKIBAT GEMPA. TAMPAK KESENGSARAAN DAN KEMISKINAN, SEMUA MENJADI KERING DAN TANDUS.
VII
TIBA-TIBA PANGGUNG TERLIHAT LAMPU YANG BERKEDAP-KEDIP KENCANG, BERSAMAAN DENGAN BUNYI ANGIN KENCANG, PETIR MENGGELAGAR, KEMUDIAN BUNYI-BUNYI FADE OUT. TERLIHAT ORANG DUA BERGERAK DIATAS TEMPAT EKSEKUSI, LALU IA TERJATUH DARI TEMPAT EKSEKUSI DAN TERDIAM LEMAS.
VIII
ORANG SATU MASUK TERGOPOH-GOPOH NAMUN SUDAH TIDAK MENGENAKAN PAKAIAN, HANYA MENGENAKAN PAKAIAN DALAM DENGAN MEMBAWA RANTING KERING SAMBIL MEMBELAI-BELAINYA DAN SESEKALI MEMEKANNYA. “daun.. daun.. daun.. daun..” MENGULANG-ULANGI KALIMAT ITU. LALU MULAI MENCARI-CARINYA DI UNGGUKAN TANAH DI SEKITARAN TEMPAT EKSEKUSI. TERUS MENCARINYA, PADA AKHIRNYA IA MENEMUKAN SATU TANAMAN KECIL YANG HANYA DUA HELAI DAUN. IA KEGIRANGAN TAK TERHINGGA, DAN MENGATAKAN “kita masih hidup.. kita masih hidup.. kita masih hidup.. kita masih hidup..” SEMAKIN LAMA SEMAKIN KERAS. LALU ORANG DUA TERBANGUN PERLAHAN-LAHAN DAN NAIK KEATAS TUBUH SESEORANG. KEMUDIAN MASUK AJUDAN JUGA MENGENAKAN PAKAIAN DALAM DENGAN MEMBAWA RANTING YANG BERDAUN, BERSAMAAN DENGAN SCREEN YANG MEMPERLIHATKAN ORANG-ORANG TERKAPAR MENGGELEPAR. AJUDAN TERUS MENGELILINGI ORANG 1 DAN ORANG 2. AJUDAN TERTAWA-TAWA, LALU MENAGIS KERAS LAMPU FADE OUT.

SELESAI

. Pidato yang dibacakan oleh orang satu, sebahagian diambil dari buku Lester R. Brown, Cristoper Lavin, dan Sandra Postel. Diterjemahkan oleh Hermoyo. Pengantar mochtar Lubis. “MENYELAMATKAN PLANET BUMI (Bagaimana Membentuk Sebuah Ekonomi Global yang Berkelanjutan dari Segi Lingkungan Hidup)”. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 1999. Ditambah dengan Artikel WALHI SUMBAR.
. Naskah ini ditulis oleh Husin untuk memenuhi undangan pada pertemuan Jaringan Teater Sumatera di Lampung, pada tanggal 25-30 Mei 2009.
Lorong, 19 April 2009
Share:

Kenyamanan Perang

Aku berlindung diatas atap rumah, sambil terus mendengarkan sura besi menggilas jalan aspal
Aku mendengar dan merasakan para tentara mencari anak laki-laki
Para ibu menangis meneriaki tentara yang membawa paksa anak-anak mereka
Bajingan, para tentara bekerja untuk melindungi Negara dan rakyatnya, bukan memerangi
Ibuku dan ibu yang lainnya sambil terus menangis

Dikejahuan dan diseberang jalan sana, aku melihat tank-tank berbaris memasuki jalan raya
Laras canonnya yang panjang menunjuk ke depan, tepat kearahku
Gerombolan tentara semakin ramai turun dari truk-truk dan pesawat hercules, mereka bergerak dengan cepat
Moncong canon semakin dekan denganku
Aku dapat melihat paling tidak ada puluhan tank, aku tetap bersembunyi
Dari kejahuan suara ledakan sudah mulai terdengar, kemudian terdengar jeritan kesakitan
Berhentilah… berhentilah… sudah banyak nyawa terbuang dengan sia-sia…

Aku merasakan getaran bumi
Dijalan aku mulai melambaikan kedua tangan
Orang-orang terus menjerit
Aku mersakan getaran, kemarahan yang mendidih, kemurkaan yang hebat
Aku tetap berdiri dan tak berbuat apa-apa apa yang aku perbuat..!
Aku ingin mereka membunuhku seperti mereka juga membunuh yang lainnya, tanpa alasan, tanpa perasaan.

Kini aku berlari mengejar tank-tank yang terus menggilas bangkai-bangkai yang semakin berserakan
Posisiku kini berada tepat didepan moncong laras canon tank-tank sepuluh kali lipat lebih besar dari rumahku

Kini aku merasakan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan, setelah terdengar ledakan yang sangat dahsyat

Lorong, November 2007
Share:

Selasa, 12 Mei 2009

Apakah Benar Alamiah

Persoalan perang dan memerangi
Akan kita temui disetiap sudut lubang dan lorong kekuasaan

Manusia telah diciptakan
Untuk berperang dan saling memerangi

Perang adalah anugerah tuhan yang alamiah
Harus terus kita pelihara sampai keakar-akarnya

Kita ingin menindas atau ditindas
Ingin berkuasa atau dikuasai

Hanya peranglah jawabnya
Tanpa ada perdamaian
Karena perang akan terus hadir
Bagaikan sisipus

Tembak..
Tembak..
Tembak..!

Bakar..
Bakar..
Bakar..!

Bantai..
Bantai..
Bantai..!

Bunuh..
Bunuh..
Bunuh..!

Itulah kalimat yang selalu kita dengar
Dari mulut orang-orang yang telah terbakar oleh api kemarahan

Semakin banyak korban berjatuhan
Maka api itu akan terus berkobar dan makin membesar
Tak akan bisa dipadamkan

Api itu telah dibakar oleh orang-orang yang memilki kepentingan dengan cara mengatasnamakan

Agama.. agama..!
Pendidikan.. pendidikan..!
Kesejahteraan.. kesejahteraan..!
Demokrasi.. demokrasi..!

Mereka akan membenarkan kebenaran sendiri yang dibenar-benarkan sampai mendapatkan suatu kebenaran

Bala tentara bagaikan anjing penjaga telah dipersiapkan tuk maju kedepan

Jargon perang telah disusun dan disuntikkan
Agar mereka tak kenal belas kasihan
Agar mereka siap gugur demi cita-cita yang telah dibenarkan
Karena perang adalah suatu permainan sandiwara yang akan dilakoni sebaik mungkin oleh bala tentara

Maka akan terlihat dan terdengar oleh kita
Perang antar etnis
Perang antar warga
Perang antar agama
Perang antar partai
Menjadi hal yang lazim dan lumrah
Sehingga kita tak bisa berbuat apa-apa
Karena manusia memiliki naluri kebinatangan

Anjing..!

Lorong, November 2007
Share:

Sabtu, 07 Maret 2009

Selasa, 03 Maret 2009

Keragaman Bentuk (Catatan Sembilan Pementasan Jurusan Teater STSI Padangpanjang)



Oleh: Husin

Andaikata hanya ada satu bentuk, takkan ada keragaman dalam hidup manusia, begitu juga halnya dengan teater. Keragaman itu dapat kita lihat pada senin (02/02) lalu, mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang disibukkan dengan segala aktivitas ujian semester, yang selama satu minggu digunakan untuk ujian tertulis. Selebihnya, terhitung dari senin (09/02) sampai pada batas waktu yang telah ditentukan, rabu (18/02) mahasiswa banyak diuji secara praktek, begitupun dengan mahasiswa Jurusan Teater yang memilih teater sebagai proses belajar memaknai hidup dan mengaktualisasikan diri. Ada dua Gedung Pertunjukan STSI Padangpanjang, dimana setiap orang dapat menyaksikan pementasan Teater. Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam dan Gedung Teater Mursal Esten, waktu pementasan siang dan malam.

Kekuatan Aktor Untuk Mewujudkan Pementasan Realis
Drama atau teater realis lebih menekankan obyektifitas pengamatan, maka yang nampak di atas panggung kemudian sebuah kehidupan yang diusahakan sesuai dengan aslinya. Secara teknis pementasan di atas panggung diusahakan menggambarkan kehidupan semirip mungkin. Pentas dan perlengkapan panggung menggambarkan ruang duduk suatu keluarga, atau ruang kantor dan ruang lain yang paling umum dilihat oleh penonton, maka ruang dan keseluruhan perlengkapan pentas disesuaikan sedekat mungkin dengan bentuk dan gaya zaman itu. Pertunjukan teater semacam ini dikatakan oleh Saini (1991) sebagai model teater realisme konvensional. Jika dilihat dari pemanggungan secara keseluruhan, maka aktorlah yang sangat memiliki peranan penting, karena saat pemanggungan aktor harus mampu memerankan bahkan mengendalikan semua yang ada dipanggung. Cukup beralasan jika akhirnya Saini K.M beranggapan bahwa teater realisme adalah teater tokoh.
Pada kamis - minggu (12/02-15/02) penonton dapat menyaksikan resital pementasan realisme, sederhananya realisme berarti menghadirkan realita yang ada, tanpa harus melakukan distorsi atau melibih-lebihkan apa yang sudah ada. Pada hari pertama, ada Norma, karya Alun Owen, penyadurnya tidak diketahui, sutradara Dewi Sartika yang mengisahkan tentang, perselingkuhan seorang istri yang setiap hari selalu ditinggalkan oleh suaminya. Pinangan, karya pujangga besar Rusia Anton P. Chekov, sutradara Rahma Diana yang oleh sutradara diadaptasi ke konteks Minangkabau. Namun, alur dramatiknya masih sama yang mana seorang pemuda (Ivan) bermaksud ingin meminang seorang gadis (Natalya), entah kenapa pembicaraan sampai pada sebingkal tanah yang tidak tahu pasti siapa pemiliknya, mereka terus bertengkar dan saling mengaku sebagai pemilik tanah. Kemudian ada Suara-suara Mati, karya Mannuen Van Loggem, sutradara Kristian Padmasari, naskah ini memilki sentuhan-sentuhan surealis yang mana di dalam sebuah keluarga telah menyimpan rahasia begitu lama, pada akhirnya terbongkar juga. Juga ada Kisah Cinta di Hari Rabu, karya Anton P. Chekov, sutradara Ilham. Selanjutnya ada Sebelum Bebas, karya Agustina Kusuma Dewi, sutradara Indah Lestari dengan latar sebuah penjara. Nyanyian Angsa, karya Anton P. Chekov, sutradara Susandro, pada penampilan kali ini terlihat keberanian sutradara untuk membangun sett tidak seperti biasanya yang mana pada naskah menerangkan sett dari sisa pementasan, ada kursi yang terbalik, tangga, dan beberapa level. Di sini sutradara mencoba menterjemahnya menjadi lain, ia mendirikan bangunan tua yang sepertinya juga seolah-olah dari sisa pementasan. Cerita masih tetap sama, yang mana ini menceritakan dua orang actor Svietlovdoff yang meratapi nasib karena sudah menginjak masa tua, sehingga kurang memperoleh perhatian lagi dari masyarakat, hanya Ivanitch sang pembisik yang selalu setia menemani dan memberikannya ketenangan. Pementasan drama realis ini ditutup dengan naskah yang sama oleh Kisah Cinta di Hari Rabu, karya Anton P. Chekov, sutradara Danil Martim.
Seperti yang dikatakan oleh Saini K.M, bahwa teater realis adalah adalah teater tokoh. Nah, sangat jelas sekali bahwa keberhasilan pementasan ini sangat ditentukan oleh aktor. Dari keselurahan pementasan teater realis di atas sangat lemah pada keaktoran, aktor tidak memilki pemahaman pada wilayah menganalisa setiap tokoh yang diperankan. Aktor tidak terlihat akrab dengan lawan mainnya, malah menjadi malu-malu bila berdekatan apalagi tuk bersentuhan. Seperti pada pementasan “Norma”, tokoh Norma (Lili) dan Laki-laki (Anggi). Aktor masih menjadi dirinya sendiri, tidak berusaha untuk menjadi (to-be) seperti yang dikatakan oleh Stanislavski.

Multi Karakter Dalam Perwujudan One Man Play
“Do’a yang Mengancam” mendengar judulnya saja, membuat semua orang dihinggapi penuh rasa penasaran, karena ini adalah judul cerpen yang ditulis oleh Jujur Prananto. Terlebih lagi, cerpen Jujur ini pernah di filmkan oleh Hanung Bramantyo selaku sutradara yang mana tokoh utamanya diperankan oleh Aming. Namun oleh Hanung, nama tokoh, latar tempat dan waktu dirubah yang lebih mendekati persoalan urban dan kaum pinggiran kota Jakarta. Untuk kebutuhan pembelajaran mata kuliah pemeranan, Wendy HS selaku dosen pembimbing mengadaptasi cerpen ”Do’a yang Mengancam” karya Jujur Prananto menjadi naskah lakon untuk kebutuhan pemanggungan. Naskah ini diperankan oleh Yuanita Hanafi dengan memakai metode peran multi karakter (banyak karakter tokoh) yang sesuai dengan kebutuhan naskah, istilah ini disebut dengan one man play.
Panggung terasa sunyi dan sangat senyap, terlihat diatas panggung sett tidak begitu maksimal untuk menggambarkar hidup kesederhanaan. Di sana hanya ada kain bergantungan ditengah kiri panggung, dibagian kanan belakang panggung ada level yang juga dipenuhi kain dan keranjang, kemudian dibagian kiri depan ada meja dan setrika. tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara yang getir, memohon ampun dan meminta kemudahan rezeki kepada tuhan, pada akhir doanya ia mencoba mengancam tuhan “Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu”. Doa Monsera didengar oleh tetangga sebelah, seorang janda yang telah lama ditinggal suaminya, dalam hal ini dialah sang pencerita tentang kegetiran hidup yang dialami oleh Monsera.
Seorang laki-laki, tinggal di pinggiran kota Ampari, ibu kota Negeri Kalyana. Monsera, begitu sebutannya, ia telah berani mengancam tuhan dalam doanya. Barangkali tidak tahan hidup miskin dan memiliki hutang dimana-mana. Monsera pergi meninggalkan rumah kontrakannya, “Suatu saat, saya akan kembali untuk membayar hutang...”, semua orang membiarkan Monsera pergi dan tidak berharap banyak. Di dalam pemgembaraannya, ia terus memohon kepada tuhan, “Apakah tuhan mendengar doaku? Apakah thuan terusik oleh ancamanku? Apakah tuhan... maukah tuhan... bisakah tuhan...”, dalam doanya Monsera tidak melihat ada perubahan dalam hidupnya, ia mulai putus asa dan semakin kesal. Suasana panggung menjadi tegang dan sangat menakutkan, ketakutan ini dibantu oleh lighting dang musik yang menggunakan musik program dengan menggunakan media komputer. Tiba-tiba hujan sangat lebat, petir menggelegar dan menyambar tubuh Monsera. Tubuh Monsera ditemukan oleh Sinaro, seorang saudagar yang menunggangi kuda, kebetulan lewat. Tanpa disadari setelah satu bulan dirawat oleh Keluarga Sinaro, tiba-tiba Monsera memiliki kekuatan supranatural, ia bisa melihat apa yang terjadi pada masa lalu hanya dengan sebuah photo, hal ini dapat dibuktikan dengan telah ditemukannya keluarga Sinaro yang telah lama hilang, padahal Monsera belum pernah ketempat di mana keluarga Sinaro ditemukan. Dengan kekuatan yang dimiliki, banyak orang meminta pertolongan Monsera, namun tidak semuanya bahagia, setelah mengetahui bahwa keluarganya telah meninggal dunia. Kekuatan Monserapun diketahui oleh Pemerintah Salaban, untuk menangkap para penjahat. Monsera menjadi kaya dengan imbalan yang telah dimilikinya.
Ternyata tidak selamanya kekuatan dan kekayaan yang dimiliki Monsera menjadi berkah, semuanya menjadi hancur setelah mengetahui bahwa Monsera ternyata anak haram yang telah dilahirkan oleh seorang pelacur. Monsera kembali memohon kepada tuhan agar kekuatanya dihilangkan, karena ia percaya bahwa kekuatan ini bukan datang dari tuhan, melainkan dari setan. Kemudian ia pergi ketempat di mana dia disambar petir, disana Monsera kembali kena sambar oleh petir. Ternyata dari sambaran itu bukannya kekutan Monsera menjadi hilang, bahkan bertambah dan mampu melihat masa depan. Monsera menjadi bertambah kaya, namun tak merasakan kebahagian dan selalu dihantui oleh ketakutan. Suatu malam dalam mimpinya, ia dicegat oleh sekawanan penjahat yang meminta uang. Monsera tidak membawa uang, lalu pisau menikam tubuhnya, “Tidak..! aku tidak mau mati dengan cara begitu”, Monsera terbangun dan berteriak. Sungguh, kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa dan memohon atau mungkin mengancam. Berlahan-lahan lampu fade-out. Pada penampilan ini, tidak terlihat bahwa aktor (Yuanita Hanafi) kurang maksimal memberdayakan kekuatan perannya, hal ini terlihat tidak jelasnya perubahan-perubahan gestur bahkan karakter tokoh yang dimainkan. Mestinya, itu dapa dilihat dari sang pencerita, Monsera, Sinarao, Datim, Penjahat dan Orang-orang yang jelas terlihat perubahannya, disana hanya sang pencerita ke orang-orang dengan kemampuan membedakan banyak karakter vokal saja. Padahal aktor (Yuanita Hanafi) telah memilih pemeranan pada minat di jurusan teater, dalam hal ini tentulah banyak hal yang harus dilatih.

Perbenturan Agama dan Adat Menuju Estetika Paradoks
Penyutradaraan Kontemporer ini merupakan minat yang paling terakhir, menuju Tugas Akhir mahasiswa. Pada pementasan penutup (18/02), di Teater Arena Mursal Esten, pukul 20.00 WIB terlihat penonton bersabar tuk menyaksikan resital penyutradaraan kontemparer yang berjudul “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutradara yang sekaligus diuji Nolly Media Putra. Barangkali dibutuhkan kecerdasan yang mendalam dari sutradara untuk mengolah bentuk, agar esensi yang ingin disampaikan bisa tertangkap oleh penonton. Begitu pula penonton, sedapatnya memilki ketajaman analisa untuk bisa menangkap apa yang telah dikomunikasikan oleh suatu tontonan. Kecenderungan teater kontemporer secara bentuk kita akan melihat dengan hadirnya simbol-simbol, komposisi, kekuatan tubuh lebih mendominasi, dialog sangat puitis, bangunan plot/alur tidak literer dan sebagainya. Makanya, dibutuhkan ketajaman analisa dari setiap komponen panggung.
Dari penjelasan di atas, kita akan dapat melihat dari “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutrdara Nolly Media Putra. Di dalam panggung terdengar bunyi ombak yang menghantam karang, suara angin berhembus kencang, dan kicau burung yang sesekali melintasi laut. Cahaya tiba fade-in yang terfokus pada empat titik, titik pertama terlihat di kiri belakang panggung, pada level yang terbungkus oleh kain berwarna kuning, merah, dan hitam yang tingginya lebih kurang setengah meter dengan posisi horizontal. Terlihat ada janur pada dua sisi level, kuali lengkap dengan pemasaknya, seorang perempuan (tokoh Ibu) berpakaian Bundo Kanduang berwarna merah perlahan-lahan memutar-mutarkan sendok pada lingkaran kuali, sesekali perempuan itu memukul-mukulkannya, makin lama semakin cepat dan semakin tinggi. Disela itu secara bersamaan cahaya berwarna merah fade-in pada tiga titik, terlihat tiga laki-laki (tokoh Malin) bertelanjang dada mengenakan galembong, mereka berada di dalam bingkai yang berbentuk kotak/peti, berlahan-lahan secara bersamaan mereka bergerak dengan pelan.
Dalam hal ini ada dua pemisahan, antara tokoh perempuan (Ibu) dan tokoh laki-laki (Malin). Namun dalam lakon tersebut ada penokohan yang sama-sama antagonis, jadi tidak ditemukan tokoh protagonis, tidak ada yang menjadi penengah atau memihak. Jakob Sumardjo dalam bukunya “Estetika Paradoks” mengatakan dasar berpikir pola dua adalah bahwa hidup itu pemisahan. Hidup itu persaingan, hidup itu konflik, dan hidup itu adalah perang. “Melintas Kandung” ini bukanlah perperangan antara Ibu dan anak Laki-laki (Malin) yang melawan kepada Ibunya lalu dikutuk menjadi batu.
Perempuan (Ibu) sebagai simbol Adat, kemudian Laki-laki (Malin) simbol Agama. Awalnya, agama dan adat memang suatu pemisahan yang sangat jauh. Jika kita analogikan dalam perkawinan, lelaki tetap lelaki, perempuan tetap perempuan, dan keduanya melebur dalam satu kesatuan yang melahirkan entitas ketiga, yakni anak. Maka kemudian terjadilah peristiwa harmoni, syarat hidup adalah adanya harmoni dari dua entitas yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Seperti yang dikatakan Jakob (2006) peristiwa harmoni adalah peristiwa paradoks, tidak ada yang dikalahkan, dan tidak ada yang dimenangkan. Keduanya pemenang, bahkan melahirkan hidup baru.
Sangat disayangkan pada pementasan “Melintas Kandung” tidak memperlihatkan adanya keharmonisan, terlebih lagi pada struktur pementasan tidak terlihat situasi yang menegangkan bahkan konflikpun tidak terbangun antara tokoh Adat dan Agama. Inilah kecenderungan seorang direktor (Sutradara) yang mencoba menggarap pada wilayah kontemporer, selalu melupakan unsur-unsur dramatiknya. Sehingga terlihat pada bagian tengah sampai akhir hanya pengulangan-pengulangan yang membosankan.
Begitu banyak bentuk-bentuk pementasan teater yang bisa dipelajari di Jurusan Teater STSI padangpanjang, sehingga terjadi keragaman bentuk. Tapi bukankan, sebaiknya keragaman itu kita imbangi dengan hasil yang baik pula. Mari kita menjadi orang yang tidak ragu-ragu, untuk terus belajar bahkan meneliti teater itu sendiri. Mari kita berteriak dan menjerit “Aku masih tetap hidup” yang pernah diucapkan oleh Calligula dan terus optimis seperti Hang Tuah yang terus mengatakan “Tak kan Melayu hilang dibumi”.

Husin, adalah pemerhati dan praktisi teater. Kini mengajar di INS Kayu Tanam dan bergabung di Komunitas Lorong.
www.teaterlorong.blogspot.com
Share:

Selasa, 24 Februari 2009

Sumsel Sentra Kesenian Mahasiswa (Pentas tetaer STSI Padangpanjang di UNSRI)

Meski Sumatera Selatan (Sumsel), Palembang khususnya, “belum” memilki perguruan tinggi khusus dibidang kesenian (baru sebatas jurusan pendikan bahasa dan seni/FKIP, red), tapi telah dipandang sebagai salah satu sentra kesenian mahasiswa Indonesia untuk wilayah Sumatera. Hal tersebut ditandai dengan kunjungan Komunitas Lorong Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang saat tampil satu panggung bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Garda Anak Bangsa (GABI)’91 Universitas Sriwijaya (Unsri) sebagai pentas pembuka, selasa (18/3) lalu, Gedung Teater Unsri Indralaya. Masing-masing komunitas melakonkan “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov dan “Interogasi Rahim” karya Sutradara M Yunus.
“Untuk Sumatera, Palembang (Sumsel, red) yang lebih dekat dijangkau dan paling tepat dijadikan sentra kesenian mahasiswa Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa. Menariknya lagi, animo penonton di sini sangat apresiatif. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga pelajar dan masyarakat di luar kampus begitu antusias menyaksikan pentas teater”, tutur Husin, sutradara dan pimpinan rombongan STSI Padangpanjang.
Diskursus perkembangan seni dari lingkungan akademisi- jawaban sementara menyangkut belum adanya perguruan tinggi di Sumsel, Palembang khususnya- barangkali masing dipertimbangkan untung ruginya oleh masyarakat Sumsel. Pasalnya, dunia seni sangat sulit berkembang di Bumi Sriwijaya yang bersifat konsumeris, kendatipun potensi seni di Kota tidak diragukan lagi. Wacana itu diisyaratkan dalam pementasan mahasiswa STSI berjudul “Nyanyian Angsa” (Chekov), dalam dialog antara Svietlovdoff (Adri) kepada sang pembisik, Ivanitch (Roni) menyebutkan, “Cobalah piker, mereka (penonton/masyarakat,red) menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak. Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementesan selesai untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang kerumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68, sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup.”
“Itulah pilihan sadar seniman, suatu saat harus siap kehilangan panggung (profesi, red) dengan prospek masa depan seniman yang sering dianggap tidak jelas.” Dan tak dapat dipungkiri, tambah Husin, jika alasan tersebut berdampak dengan kurangnya minat masyarakat maupun pemerintah untuk mensinergikan sebuah perguruan tinggi khusus di bidang seni.
Ajang seni bertajuk pentas sebagi tindak lanjut dari pertemuan Pekan Apresiasi Teater III di Jurusan Teater STSI Padangpanjang, Sumatera Barat, Januari 2008 itu berhasil menyedot sekitar 350 orang. Sayangnya, apresiasi penonton yang begitu tinggi tidak diimbangi dengan fasilitas Gedung Pertunjukan yang terkesan kurang terawatt, seperti minimnya lampu pentas untuk pencahayaan. Kegelisahan ini disikapi Wahdaniah, ketua panitia yang mewakili UKM Teater GABI’91 fasilitator pementasan. “Dengan segala keterbatasan, kami (UKM Teater GABI’91 Unsri, red) selalu siap memfasilitasi teater kampus Indonesia yang ingin pentas di Usri sebagai upaya menggeliatkan kembali teater kampus yang ada di Palembang khususnya,” ujar mahasiswa FKIP Unsri itu.
Sementara itu, pementasan mahasiswa STSI Padangpanjang di Unsri menjadi apresiasi tersendiri bagi sivitas akademika Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP Universitas PGRI Palembang. Menurut Erpan Zahri, almamaternya selaku wadah pencetak calon guru kesenian perlu banyak berbenah untuk mengembangkan kesenian di Palembang. “Ke depan, kita (Sendratasik PGRI, red) akan mengadakan pagelaran seni di luar kampus yang lebih tertata dengan kemasan bidang seni lainnya,“ pungkasnya. (Azhari/*)

Tulisan ini diambil dari Koran Sumatera Ekspres. Minggu, 23 Maret 2008
Share: