Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Teater Lorong Ikut Bahagian Dalam Mini Festival Bono yang Ditaja Oleh Rumah Budaya Siku Keluang


 
Terhitung selama lima hari, 26-30 Januari. Terlihat masyarakat begitu antusias dan begitu dekat ketika mengikuti kegiatan yang ditaja oleh Rumah Budaya Siku Keluang, disponsori oleh Hivos Fondation dan Ubud writer. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa komunitas yang ada di Indonesia; Teater Lorong (Pekanbaru), SARUEH (Padangpanjang), I.S.E.C (Pekanbaru), Institut Kajian  Alam Melayu (Pekanbaru), LIFEPATCH.ORG (Yogyakarta), B-Project (Pekanbaru) dan Sindikat Cuci Otak (Pekanbaru).
Hari pertama sampai keempat, kegiatan dilakukan secara terpisah dari setiap komunitas. Workshop Diy Playdough dilakaukan selama dua hari, dimulai dari pukul 14.00-17.00 yang diberikan oleh Ade Greden (Rumah Budaya Siku Keluang). Pada malam harinya dilanjutkan dengan workshop acting, yang diberikan oleh Uchien (Teater Lorong). Workshop acting dilakukan selama tiga malam, dengan materi dasar-dasar acting yang dimulai dari olah tubuh, oleh vocal, dan olah sukma. Pada malam ketiga membuat cerita yang berasal dari cerita-cerita rakyat setempat, kemudian pembagian peran yang nantinya akan ditampilkan pada malam puncak. I.S.E.C memberikan pelatihan pembuatan bio gas dari kotoran sapi. Sedangkan komunitas SARUEH merekam aktifias masyarakat Teluk Meranti.
Menjelang persiapan kegiatan malam puncak, pada pukul 16.00 WIB, Dedi (Institut Kajian Alam Melayu) memberikan diskusi dengan masyarakat Teluk Meranti dengan tema Pusaka. Tepat pada pukul 20.00 WIB kegiatan performance dari setiap komunitaspun dimulai yang dibuka oleh Heri Budiman (Rumah Budaya Siku Keluang), kemudian dilanjutkan oleh Rini (I.S.E.C), mensosialisasikan tentang pentingnya Bio Gas di Desa Teluk Meranti. Setelah itu Budy Utami (Rumah Budaya Siku Keluang) memperkenalkan tentang Rumah Budaya Siku Keluang, beserta program-program yang telah dilaksanakan. Haryadi (SARUEH) menjelaskan tentang pentingnya merekam seluruh kegiatan yang ada ditengah masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video hasil rekaman yang diberi judul MEMOAR Teluk Meranti. Kegiatan ditutup dengan pementasan drama dari pemuda setempat, hasil dari workshop yang diberikan oleh Uchien (Teater Lorong).      
 
Share:

Sabtu, 01 Januari 2011

HDP (Hijrah Di Purnama) Ke 10 Merefleksi Wajah-Wajah

Oleh: Uchien

Wajah-wajah yang dimaksud adalah, wajah-wajah yang mengekspresikan kondisi social masyarakat kemarin, hari ini dan esok. HDP (Hijrah Di Purnama) Senin, (20/12) sebuah kegiatan akhir bulan yang digagas oleh pelaku seni di Pekanbaru. Ketua Pelaksa HDP 10 (Summy) menjelaskan, “mereka (penggagas) tidak mau dikatakan, bahwasanya mereka sebagai penggagas. Bagi mereka HDP adalah milik semua orang yang ingin berkreatifitas lewat media kesenian, siapapun dia berhak untuk mengekspresikan kondisi apapun lewat kesenian. Baik itu kondisi social, ekonomi, politik, maupun agama. Bagi mereka kesenian merupakan media penyadaran dan propaganda”.
Pada HDP ke 10 ini, mencoba untuk merefleksi kembali satu tahun ke belakang, kedepannya apakah akan mundur atau maju. “melalui tema wajah-wajah ini, kita akan mengekspresikan kondisi social masyarakat kita hari ini. Dengan semangat kepedulian terhadap kondisi social masyarakat, kesenian mestinya juaga harus terus berproses. Tidak menjadikan kesenian sebagai produksi yang sangat instant, tapi harus terus berkembang bagaikan bola salju,” ujar Summy.
Penampilan pada HDP 10 ini, diikuti oleh komunitas kesenian yang ada di Kota Pekanbaru dengan penampilan berupa musikalisasi puisi (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universitas Islam Negeri), visualisasi puisi (Lembaga Dua Terbilang Uneversitas Islam Riau), pembacaan puisi (Ucok), Pantomaim (Syamsul) teater monolog (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universiatas Islam Negeri, Monda), sulap hipnotis (Psikologi – Universitas Islam Negeri), dan music akustik (Komunitas Anak Negeri, Indie Doku, Kelompok Pengamen Jalanan – Akademi Rakyat).
Hampir pada setiap pertunjukan mencoba memberikan ruang penyadaran dan propaganda. Salah satunya, terlihat dari penampilan music akustik dari KPJ – AKAR. Yang di dalamnya lagunya bertemakan tentang solidaritas, Kemiskinan, dan KKN. “kami sangat senang sekali dapat diberi kesempatan untuk bermain di HDP 10 ini, dan dapat terus menyampaikan segala kondisi yang ada di tengah masyarakat lewat nyanyian,” ujar Doni (Koordinator belajar KPJ – AKAR).
Ditambahkan oleh Summy, dia sangat menyayangkan sekali kondisi berkesenian di Pekanbaru. “Sampai hari ini, Pekanbaru masih memposisikan kesenian sebagai hiburan belaka. Maka kemudian, di HDP inilah kita dapat menyikapi kondisi berkesenian di Pekanbaru. Namun saya masih bersyukur, masih ada kawan-kawan idealis pada tataran penyadaran dan propaganda”.
Share:

Minggu, 12 Desember 2010

Penyair berani bercarut marut atau tengah kehilangan identitasnya sendiri



Oleh: Liza
Berbicara tentang ranah sastra, maka kekuatannya adalah bahasa. Seorang penyair menjadi penggerak kekuatan sastra dengan keindahan bahasanya. Seperti sebuah pelabuhan, kapal berlayar dan berlabuh di dermaga. Maka pelaut mengarungi laut dengan bekal akan kembali pada dermaganya. Begitu pun dengan seorang penyair, ia jembatani pemikiran dengan realita yang bergulir. Ia menjadikan hal yang tersurat menjadi tersirat, begitu pun sebaliknya. Ia menjadi awal catatan perjalanan hidup dan perputaran alam karena perputaran itu akan kembali pada awal kembali.
Jika boleh meminjam istilah seorang nara sumber dalam diskusi pada acara peluncuran Antologi Puisi Penyair Muda Riau 2010, bahwa di dalam menilai sesuatu jarang kita temukan sebuah keobjektivitasan seseorang. Begitu juga dengan penyair; ia akan menterjemahkan alam dan carut marut kehidupan sesuai dengan kerangka pemikirannya. Bahkan lebih kejamnya lagi, ketika sebuah puisi telah rampung maka si penyair mati. Hal ini menggambarkan bahwa seorang penyair itu mempunyai hak untuk melepaskan diri dari karya yang dihasilkannya sehingga semua penikmat sastra berusaha untuk menikmatinya.
Kondisi serupa dikehendaki sebuah visualisasi puisi yang beberapa waktu yang lalu (11 – 12 – 2010) telah digelar oleh Lab. Teater AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau) di Taman Budaya Propinsi Riau. Visual atas puisi yang ditulis oleh saudara Husin yang juga salah seorang pendiri Taman Belajar yang diberi nama AKAR (Akademi Rakyat) berjudul ‘Teriakan-teriakan Kematian’ telah membuat resah sebagian pemikiran para tetua sastrawan/penyair di Riau saat menyaksikan pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 15 menit itu. Sang kreator ide telah mengisyaratkan gelitik berbeda dalam menyikapi kegelisahan kaum proletar terhadap kondisi yang menghempas impian mereka, para tiran yang tega membangun keinginan di atas siksaan yang berkepanjangan.
Pada hakikatnya visualisasi ini bermaksud hendak membangunkan geliat kesenimanan para pekerja seni di Riau khususnya di pekanbaru untuk dapat sama-sama menilik lebih peka sebuah realita. Namun sebagai catatan penting bagi kita semua khususnya Lab. Teater bahwa kekinian sastra di tanah lancang kuning masih mengharapkan memorian terhadap romantisme puitik yang tersaji di setiap kata yang dijalin oleh si penyair; mungkin belum menghendaki hentakan suara yang membisingkan telinga serta ribuan caci maki yang tak terstruktur dalam harmonisasi sajak.
Barangkali inilah catatan awal bagi Prilaku Para Tiran, sungguh menjadi penyegar suasana namun ingat bahwa evoria bahasa Indonesia berakar dari bahasa melayu, sehingga jika bukan kaum melayu sendiri yang mengenangnya siapa lagi. Namun susah untuk membedakan sebuah keterkekangan dengan sebuah pemikiran cermat dan cerdas tentang sebuah etika dan estetika bahasa dalam sebuah puisi.
Tak ada kata bagi seorang penyair bahwa ia sedang dilanda krisis bahasa atau bahkan lebih gawat lagi ia sedang kehilangan identitasnya. Sekali lagi, identitas yang mana? Jika hal ini dipeributkankan oleh sebahagian orang, sedangkan identitas kemelayuan itu sendiri tidak lagi tercermin dalam tutur kata ucap seorang budak melayu, etika berpakaian itu sudah lama ditinggalkan oleh budak melayu yang tengah tergila-gila dengan harajuku. Biarkanlah aliran itu mengalir tanpa dipaksa harus mengalir atau bermuara ke mana pun.
Share:

Senin, 01 November 2010

Mentawai; You are not a lone!


Oleh: Liza
Seperti tak ingin ketinggalan untuk berduka, Pekanbaru dalam pengamatan terasa sangat dingin dan cuaca sangat tidak bersahabat. Namun hal ini tak menyurutkan keinginan untuk tetap beraktivitas. Pekanbaru pada malam hari adalah sebuah gairah kehidupan yang tak akan pernah selesai, begitu juga dengan kecemasan dan keprihatinan beberapa kalangan peduli bencana Mentawai dan Jogjakarta. Minggu sore (31/10/10) tepat pukul 16.00 wib di pelataran parkir depan Purna MTQ Bandar Serai (Seni Raja Ali) Pekanbaru, beberapa event organize di Pekanbaru seperti Xcom, Mara dan yang lainnya menyuguhkan konsep acara yang bertema “ Mentawai; you are not alone” sebagai bentuk penggalangan solidaritas yang tinggi bagi para korban bencana Mentawai.
Berbagai bentuk pertunjukan seni yang digelar untuk menyemarakkan kegiatan sosial ini, di antaranya ensamble strings dari penggiat seni musik AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau), performance band dan pertunjukan teater. Sebuah pertunjukan teater eksplorasi yang berjudul Warning (karya Husin, S.Sn) menjadi pilihan mereka. Teater yang berdurasi lebih kurang satu jam ini menjadi penutup yang sangat apresiatif bagi para pengunjung atau penonton yang sempat menikmati saat itu.
Karya Warning ini pernah dipentaskan beberapa saat yang lalu di salah satu event temu teater remaja di Kota Bogor, Jawa Barat (23/10/10). Dengan konsep teater eksplorasi, sang penulis naskah sekaligus sutradaranya ini menyatakan bentuk kepedulian dan kritik sosial terhadap persoalan alam, manusia dan ketidakseimbangannya melalui pencarian ide dan simbol gerak yang mewakili jeritan dan sumpah serapah alam terhadap manusia.
Seperti salah satu dendang dialog yang cukup menarik bahwa alam menyumpahi manusia yang tak lagi menghadirkan keseimbangan dalam kehidupan. Manusia sibuk dengan permasalahan yang semakin hari semakin komplit. Mulai dari ilegal logging, eksploitasi hutan dan lain sebagainya. Berangkat dari permasalahan inilah kesedihan Indonesia terhadap Mentawai dicoba untuk alirkan energi positifnya. Berkaca dari pengalaman yang tengah terjadi, seharusnya cobaan ini menjadi cambuk bagi setiap Kita yang berpikir bahwa bencana itu dari Kita, oleh Kita dan untuk Kita.
Tepat pukul 22.30 wib, Karya Warning mengantar penonton semakin peka terhadap kondisi alam hari ini. Setidaknya sang sutradara mengajak Kita merefleksi beberapa diri, bahwa Peduli Mentawai dan Jogjakarta tidak hanya sekedar wisata bencana namum lebih dari itu.
Share:

Senin, 26 April 2010

Cintailah Bumi bukan sekedar perenungan (Catatan Performing Art Mahasiswa AKMR Pekanbaru dalam memperingati Hari Bumi Sedunia 2010)

Oleh: Liza

Beginilah cara seniman mengekspresikan kegundahannya melihat bumi mulai merana dengan ketuaanya. ada hal yang sering menjadi gelitik pemikiran; disaat para pemilik modal berburu wilayah baru yang tepat untuk dijadikan lahan usaha dengan cerobong asap nan gagah berdiri dan muntahan limbah nan mematikan, owner2 gedung menjulang tinggi dengan kemegahan gedungnya yang full kaca, mereka seolah lupa bahwa hijau itu damai dan damai itu sejuk.maka yang sejuk itu sehat dan yang sehat itu udara yang segar, sampah yang terorganisir dan hutan yang perawan.
terlepas dari pemahaman sebuah bentuk konstruksi dari tatanan kota cosmopolitan, ruang gerak makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan seakan terjepit oleh kepentingan manusia yang tengah berpesta dengan keagungan mahakaryanya dalam menyulap bumi menjadi bola kaca yang kaku; dimana untuk bernapas dengan sehat saja harus membayar mahal hal itu... sungguh ironis sekali jika dipikir-pikir. kemajuan teknologi dan keagungan ilmu pengetahuan malah membuat manusia menjadi tidak beradab dan tidak manusiawi..
jika kota besar berkutat dengan masalah banjir yang tak berkesudahan, kota-kota kecil mulai meramaikan siaran berita televisi, media massa dan elektronik lainnya dengan hebohnya masalah longsor dan bencana lainnya.. jika ditilk kembali lebih ironis lagi dengan pulau besar yang menurut data dari pihak dinas kehutanan mempunyai hutan tropis yang perawan.. ini hanya kamuflase saja, bahkan lebih parah lagi dengan kasus di pulau sumatera. berita bahwa banyaknya binatang buas yang berada dihutan2 tropis ini mulai mengamuk dan menyerang pemukiman serta asset perkebunan dan ladang warga tak terlepas dari ulah masyarakat itu sendiri..
harus berapa lama lagi bumi menahan seringai kesakitannya? sampai kapan kita harus menanggung kemarahan bumi terhadap apa yang telah kita perbuat terhadapnya?
kegelisahan inilah yang ditransformasi oleh beberapa rekan-rekan dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dalam bentuk Performing Art di pelataran Gedung Idrus Tin-Tin Bandar Serai (25 April 2010). jam menunjukkan pukul 16.09 waktu setempat, gebug-kan gendang mulai mencuri perhatian setiap pengunjung pelataran ini. alhasil performing art yang bertajuk Cintailah Bumi dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia ini berhasil menjadi kritik terhadap kondisi bumi hari ini./span>Belasan pemain yang terlibat dalam kegiatan ini cukup menujukkan aksi-aksi yang menyimbolkan bahwa mereka adalah unsur2 hayati yang menjadi saksi kehancuran bumi oleh ulah manusia itu sendiri. terlihat dari body painting yang mereka ciptakan, ada yang mewakili unsur tanah dengan warna merah kecoklatan, unsur tumbuhan dengan warna hijau. warna putih seakan mempertegas kita dengan unsur udara dan air serta warna merah yang menjadi simbol dari unsur api.
performing art yang berdurasi lebih kurang 45 menit ini seakan mengkomunikasikan kepada penikmatnya bahwa kerusakan pada setiap ekosistem alam itu adalah nyata dan telah berada pada tingkatan yang berat.
secara keseluruhan materi yang yang dicoba dieksplorasi dengan berbagai ekspresi tubuh semacam spirit dari capoera, gerak-gerak yang mengalir ini dikombinasikan dengan banyolan khas melayu yang mengkritik kondisi bumi hari ini dengan banyolan yang mengundang tawa para pengunjung.
secara keseluruhan telah berhasil meskipun pada bagian tertentu perlu ditekankan lagi karena kesadaran bagi pengunjung itu penting, jika tidak memikirkan itu maka siap-siaplah dengan performing art yang pulang sia-sia. tapi setidaknya Mahasiswa AKMR Pekanbaru ini telah mencoba dan menyisakan pertanyaan kecil disudut hati para penikmatnya sore itu "Bagaimana bisa Kami menyelamatkan Bumi, jika sampah plastik bekas bungkus makanan yang Kami makan saja tak sanggup untuk Kami buang pada tempatnya"
akhirnya penghargaan terhadap hari bumi itu hanya sekedar perenungan saja melainkan adalah bekera keras untuk menjadikan buang sampah pada tempatnya, menanam pohon sedari usian dini dan menjaga keseimbangan ekosistem alam itu menjadi sebuah rutinitas.
Share:

Minggu, 07 Juni 2009

ALAM SISIPUS ala KOMUNITAS LORONG


Oleh: Phie2t

Alam menjadi bagian kehidupan bagi makhluk yang ada disekitarnya, ia akan menjadi tetap asri dan indah apabila ia terus dijaga dan dirawat sebagai mana mestinya, dan ia akan punah apabila ia dirusak. Hal demikian menjadi kepedulian kita bersama. Melihat fenomena alam hari ini, sudah sangat memprihatinkan. Begitu banyak bencana yang menghadang, diantaranya pemanasan global (Global warming), menipisnya lapisan ozon, lumpur lapindo dan illegal loging. Kesemua permasalahan ini telah menjadi pembicaraan di tingkat Internasional. Ditambah lagi dengan bencana alam seperti hujan yang menyebabkan banjir di kota-kota, tanah longsor, gempa, tsunami yang susah diprediksi dan lain sebaginya, yang sampai hari ini masih terus dapat kita rasakan.
Melihat dan memperhatikan gejala yang ada, sebuah kelompok teater yang bernama Lorong mencoba memvisualkan kegelisahan mereka terhadap bencana ini dengan melakukan penggarapan karya Instalasi dan Performance Art yang berjudul ‘Alam Sisipus’ . Instalasi dan performing art yang dilakukan sebagai Exibition Art pada pembukaan Pekan Apresiasi Teater (PAT) III yang lalu (Minggu, 20 Januari 2008) menghadirkan simbol-simbol dengan pengeksplorasi gerak tubuh yang menjadi kekuatan pada pertunjukan. Ada yang menyerupai api, air, tanah, lumpur, tumbuhan hijau dan angin
‘Alam Sisipus’ merupakan ide Husin, salah seorang personil Lorong. Garapan ini mencoba menawarkan konsep out door, sebagai ide dasar instalasi tidak lagi dimainkan dalam “ruang” seni semata, melainkan pada wilayah yang meluas hingga tidak lagi menjadikan ruang sebagai batas. Bahkan ruang adalah “subjek” yang ikut berperan di dalamnya. Ia bisa di galeri, museum, ruang publik (pasar, mal, jalan), sampai pada ruang kebutuhan masyarakat (demonstrasi buruh, politik, festival-festival, kehidupan sehari-hari, dan lain-lain). Bahkan garapan yang dimainkan oleh Hasan, Husin, Adri, Deri, Roni, Fendi dan Bojes ini menjadi sebuah surprise bagi penonton pada waktu itu.
Lorong lahir dari aktivitas beberapa anak muda yang mengekspresikan gejolak jiwa mereka dengan aktivitas kesenian jalanan, seperti happening art dan accoustic jalanan pada Oktober 2004. kegiatan ini dilakukan sebagai bukti kepedulian mereka sebagai generasi muda terhadap masalah kesenjangan sosial yang tak pernah usai. Sekitar tahun 2007 lalu, Lorong mulai menggarap Performance Art dan memilihnya sebagai media penyadaran dan propaganda terhadap masyarakat banyak, dengan alasan lebih bersifat terbuka dalam memperluas wilayah komunikasi. Lorong memang tergolong baru dalam dunia kesenian. Dengan motto ‘jelajah ruang dan waktu’ seakan komunitas tak pernah lelah berkreativitas. Dari tahun 2004 hingga sekarang, karya lorong memang belum ada apanya. Namun setidaknya mereka turut memikirkan dan bertindak untuk menyikapi permasalahan sosial hari ini.
Share:

Catatan Proses Latihan WARNING


Pasca pelatihan beberapa basic teater, diantaranya adalah Managemen, Penyutradaraan, dan Artistik oleh Teater Satu Lampung bekerjasama dengan Hivos sebagai fasilitator dalam event Jaringan Tetaer Sumatera (JTS) pada Januari 2009. Kami (Teater Lorong), membawa banyak pengalaman ataupun ilmu yang nantinya dapat diaplikasikan lewat sebuah pementasan pada bulan Mei ini. Setibanya di daerah (Padangpanjang), kami dihadapkan oleh kegiatan perkuliahan kawan-kawan yang sangat padat sehingga membuat kami harus mengalah dengan keadaan. Jadi, selama satu bulan tidak membicarakan ataupun sosiallisasi tentang kegiatan JTS. Sebulan setelah itu tepatnya bulan Maret, melihat kegiatan kawan-kawan sudah mulai longgar, Sosialisasi dan Konsolidasipun dilakukan. Setelah itu, berlanjut pada pembicaraan ataupun diskusi tentang apa yang akan dibawakan pada pementasan bulan Mei. Kemudian, tak tertinggal pula. Orang-orang diluar Komunitaspun, terlibat dalam diskusi dan sharing untuk menentukan konsep dan bentuk pementasan.
Berawal dari apa yang selama ini kami pikirkan, kemudian kami wujudkan lewat media performance art yang bersentuhan dengan ruang-ruang public, namun hanya berkonsentrasi dan hanya berkutat pada persoalan alam dan lingkungan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Dari konsentarsi itu, kamipun harus menjemput kembali emosi-emosi jalanan (ruang public) untuk membangkitkan kembali rasa progresitas dan semangat kebersamaan. Setelah semangat itu didapatkan, team produksi dan artistikpun ditentukan.
Kamis, 12 Maret 2009 latihan awal dimulai. Pada latihan pertama, menggunakan metode eksplorasi gerak. Dua orang pemain (Hasan dan Pendi) bergerak dibawah pohon besar, pilihan pohon, agar merasakan kesuburan alam yang kita miliki. Tiba-tiba yang satunya menaiki pohon, kemudian bergerak dan mengeksplor tubuh. Dari latihan pertama, dua orang pemain belum menemukan penjelasan atas tubuh dan belum dapat merasakan pohon di luar tubuh atau pohon di dalam tubuh. Hanya satu kali latihan, proses terhenti yang diakibat oleh pemain mengundurkan diri dengan alasan harus konsentrasi dengan Tugas Akhir. Dari situ, kita dengan cepat mencari solusi. Agar proses tidak menjadi terganggu, dengan mengganti pemain. Pada eksplorasi yang kedua, eksplorasi gerak dilakukan oleh Hasan dan Husin, disela mengeksplor gerak satu orang pemain (Husin) memutuskan emosi dan keluar tiba-tiba. Setelah usai latihan, kita kembali berdiskusi dan mengevaluasi apa yang dilihat dan dirasakan dari hasil latihan. Dari proses latihan eksplorasi tidak adanya kejelasan tokoh, maksudnya apa mewakili siapa, siapa mewakili apa tidak ada kejelasan.
Dari ketidakjelasan itu, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba membuat draf naskah agar eksplorasi gerak yang dilakukan tidak kehilangan struktur. Dalam waktu lebih dari satu bulan, naskahpun dapat diselesaikan.
Share:

Kamis, 04 Juni 2009

Cihui! 5 Hari Pesta Teater

Oleh: Zamakhsyari Abrar - wartaone

BANDAR LAMPUNG - Sebuah pesta teater akan digelar selama lima hari di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Jl. Cut Mutia No. 15, Bandar Lampung. Terhitung mulai 25 Mei hingga 29 Mei, sepuluh kelompok teater akan tampil membawakan karya-karya mereka.

Pentas teater bertajuk Kala Sumatera Gelar Karya Teater, Jaringan Teater se-Sumatra ini diselenggarakan oleh Teater Satu Lampung dan Hivos. Pementasan ini merupakan salah satu sub program yang digagas Teater Satu Lampung untuk pemberdayaan teater di Sumatera.

Grup teater yang berpartisipasi adalah Teater Oranye, Jambi, Teater Mara, Riau, Lab. Teater, Riau, Teater Topeng, Palembang, Komunitas Lorong, Sumatera Barat, Teater Petak Rumbia, Bengkulu, Teater Generasi, Medan, Teater Rumahhitam, Kepri, Komunitas Berkat Yakin, Lampung, dan Teater Alam dari Aceh. (mak)

Berikut jadwal lengkap pementasan:
Senin, 25 Mei 2009
13.30 – 14.30 WIB Teater Oranye
16.00 - 16.30 WIB Teater Mara

Selasa, 26 Mei 2009
13.30 – 14.30 WIB Lab. Teater
16.00 - 16.30 WIB Teater Topeng

Rabu, 27 Mei 2009
13.30 – 14.30 WIB Komunitas Lorong
16.00 - 16.30 WIB Teater Petak Rumbia

Kamis, 28 Mei 2009
13.30 – 14.30 WIB Teater Generasi
16.00 - 16.30 WIB Teater Rumahhitam

Jumat, 29 Mei 2009
13.30 – 14.30 WIB Komunitas Berkat Yakin
16.00 - 16.30 WIB Teater Alam
Share:

Pergelaran Teater Se-Sumatera Dimulai Hari ini

BANDAR LAMPUNG--Teater Oranye Jambi dan Teater Mara Riau, hari ini (25-9), akan tampil mengawali Pergelaran Teater se-Sumatera yang diprakarsai Teater Satu bekerja sama dengan HiVOS, Belanda, di Taman Budaya Lampung mulai hari ini hingga Jumat (29-9).

Teater Oranye mengusung lakon Gentile karya dan disutradarai Muhamad Khusairi tampil pukul 15.30. Sedangkan Teater Mara dari Akademi Kebudayaan Melayu Riau membawakan lakon Sang Kitab karya Hangkaprawi dan disutradarai Saho pentas pukul 16.00.

Selain kedua komunitas teater tersebut, ada delapan kelompok teater lain yang siap meramaikan event bertajuk Jaringan Teater Sumatera tersebut yakni, Teater Alam (Aceh), Teater Rumahitam (Kepulauan Riau), Komunitas Lorong (Sumatera Barat), Teater Generasi (Medan), Teater Topeng (Palembang), Teater Petak Rumbia (Bengkulu), Lab Teater (Riau), dan Komunitas Berkat Yakin (Lampung). "Seluruh grup yang tampil dalam event ini merupakan kelompok teater yang sudah cukup dikenal dan berpengalaman di daerah masing-masing. Selain itu, para sutradara, penata artistik, pimpinan, dan manajer setiap kelompok sebelumnya sudah mengikuti program pelatihan dan diskusi yang diselenggarakan pada Januari lalu," kata Kepala Bidang Operasional Teater Satu, Imas Sobariah.

Selain pementasan, panitia juga menggelar diskusi setiap hari untuk mengevaluasi penampilan setiap kelompok. Adapun narasumber yang diundang panitia untuk memberikan ulasan pertunjukan tersebut adalah Ratna Riantiarno dari Teater Koma Jakarta, Sitok Srengenge dari Dewan Kurator Komunitas Salihara Jakarta, Yudi Ahmad Tadjudin (Direktur Artistik Teater Garasi Yogyakarta), dan Iswadi Pratama, sutradara di Teater Satu Lampung.

"Dengan adanya diskusi dan evaluasi dari para narasumber tersebut, kami berharap ada feedback bagi kawan-kawan yang pentas sehingga bisa dijadikan bahan perbaikan bagi setiap kelompok ke depan," ujar Imas lagi. Sedangkan, menurut Direktur Artistik Teater Satu Lampung, Ahmad Jusmar, dari seluruh kelompok yang tampil diperkirakan menyajikan bentuk pertunjukan yang sangat beragam. "Ada yang menyajikan bentuk pertunjukan realisme konvensional, eksploratif/kontemporer, mengelaborasi teater modern dan tradisi, juga monolog. Demikian juga tema yang diangkat sangat beragam. Mulai konflik internal dalam sebuah keluarga hingga persoalan ideologisme dan spiritualisme. Jadi, penonton bisa mendapatkan sajian tontonan yang sangat menarik," tambah Jusmar. Melihat animo komunitas-komunitas teater di Sumatera terhadap program ini, panitia optimistis kehidupan teater di Sumatera akan mampu menyejajarkan diri dengan komunitas-komunitas teater lain yang ada di Pulau Jawa. "Sebenaranya banyak sekali kelompok-kelompok teater yang bagus di Sumatera. Namun, keberadaan mereka selama ini kurang tersosialisasi secara baik dalam konstelasi teater di Indonesia," jelas Ahmad Jusmar. n AST/*/L-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 25 Mei 2009
Share:

Pergelaran Teater Se-Sumatera: Kawula Muda Apresiatif Saksikan Pementasan

Oleh: Udo Z Karzi

BANDAR LAMPUNG--Apresiatif. Kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan animo kawula muda Bandar Lampung terhadap kesenian teater. Terlihat dari sebagian besar tempat duduk yang tersedia diisi anak-anak SMA pada hari pertama (Senin, 25 Mei) dan kedua (Selasa, 26 Mei) Pergelaran Teater se-Sumatera di Taman Budaya Lampung.

OPERA JIWA. Teater Topeng Palembang mementaskan lakon Opera Jiwa pada hari kedua Pergelaran Teater se-Sumatera di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Bandar Lampung, Selasa (26-5). (LAMPUNG POST/M. REZA)

"Saya memang suka nonton teater, apalagi pentas kali ini dimainkan oleh komunitas-komunitas dari luar Lampung yang jarang bisa ditonton," kata Riska, siswa kelas XI SMA yang menonton pergelaran teater tersebut.

Pembukaan Pergelaran Teater se-Sumatera ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Iswadi Pratama dari Teater Satu dan komunitas-komunitas teater yang mengikuti pergelaran teater itu. Kemudian dilanjutkan dengan pementasan teater dari Teater Oranye Jambi dengan lakon Gentile karya Muh. Husairi dan disutradarai oleh Ari C. Gue pada hari pertama, Senin (25-5), pukul 13.30.

Hari kedua, Selasa (26-5), pukul 13.30, Lab. Teater Pekan Baru, Riau, mementaskan lakon Rumah Tak Berdinding karya Marhalim Zaini dan disutradrai Jefri Al Malay. Kemudian pada pukul 16.00, Teater Topeng Palembang dengan lakon Opera Jiwa karya Ical dan sutradara Erwin Azhari.

Gentile bercerita tentang sepasang suami-istri dengan setting perumahan kumuh yang terlihat dari bilik kardus pada panggung yang berfungsi sebagai rumah. Tema yang sederhana, tema cinta, interaksi dengan penonton, dan lagu latar yang merdu menjadi keunggulan dari Teater Oranye Jambi ini. Cerita diawali oleh monolog dari tokoh Gen yang dibawakannya dengan ringan, seakan-akan sedang berbicara langsung dengan penonton. Bercerita tentang seorang perempuan yang menjadi istrinya (Tile).

Kemudian, cerita berjalan dengan masing-masing tokoh saling bercerita, sampai pada inti cerita (klimaks) yaitu tentang perasaan dari kedua tokoh yang merasa sangat kehilangan anak pertamanya karena Tile keguguran. Perasaan sedih digambarkan dengan sangat baik oleh kedua tokoh yang berlari di tempat seakan-akan ingin mengejar dan mendekap kembali anak mereka yang telah keguguran tersebut.

Sayang, ada beberapa kekurangan dalam lakon Gentile ini, yaitu minimnya eksplorasi gerak dari tokoh-tokoh dalam lakon tersebut. Sehingga, membuat jalan cerita menjadi sedikit monoton karena terlalu didominasi oleh bahasa verbal.

Pertunjukan kedua yang dipentaskan pada pukul 16.00 oleh Teater Mara Pekan Baru Riau berjudul Sang Kitab karya Hang Kafrawi dan disutradarai oleh Saharudin.

Sang Kitab bercerita tentang asal mula kejayaan Kerajaan Melayu. Pentas Sang Kitab ini unik, jalan cerita kadang-kadang berubah di tengah jalan seakan bukan pentas teater yang sesungguhnya, padahal sebenarnya memang bagian dari lakon tersebut.

Seorang pencerita yang pada mula pertunjukan bermonolog atau bercerita tentang cerita yang akan dimainkan. Di tengah pentas tiba-tiba seakan menjadi seorang sutradara. Hal ini yang menjadi keunggulan dari lakon Sang Kitab ini, selain tata pencahayaan yang luar biasa, kita tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi, bahkan ending-nya membuat penasaran.

Selain kedua komunitas tersebut, ada delapan komunitas lain yang ikut serta dalam Pergelaran Teater se-Sumatera ini. Hari ini (27-5), Komunitas Lorong Sumatera Barat akan mementaskan lakon Warning karya Husin dan sutradara Hasan pada pukul 13.30. Pada pukul 16.00, Teater Petak Rumbia Bengkulu dengan lakon Suatu Senja di Taman Bungaku karya dan disutradarai oleh E. Soewandi.

Kamis (28-5), pukul 13.30, Teater Generasi Medan dengan lakon Cublis karya dan disutradarai oleh Hasan Al Banna. Pukul 16.00, Teater Rumah Hitam Batam dengan lakon Di Pertigaan Rumah Hitam karya dan disutradarai oleh Tarmizi Matihamur.

Komunitas Teater Berkat Yakin (Kober) Lampung dengan lakon Rumah karya Tim Kober dengan sutradara Ari Pahala Hutabarat akan tampil pada Jumat (29-5), pukul 13.30. Dan pada pukul 16.00, Teater Alam Nangroe Aceh dengan lakon Wolman Kowitzs karya terjemahan dari W.S. Rendra dan sutradara Din Saja. n MG13/L-2

Jadwal Pementasan Hari ini (Rabu, 27-5):

Pukul 13.30--14.30
Komunitas Lorong Sumatera Barat mementaskan Warning karya Husin, sutradara Hasan.

Pukul 16.00--17.00

Teater Petak Rumbia Bengkulu mementaskan Suatu Senja di Taman Bungaku karya E. Soewandi, sutradara Emong Soewandi.

Sumber: Lampung Post, Rabu, 27 Mei 2009
Share:

Teater Lorong Usung Tema Utama Lingkungan

Oleh: Udo Z Karzi


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Isu lingkungan menjadi tema utama yang diusung Teater Lorong Sumatera Barat pada hari ketiga pergelaran teater se-Sumatera di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Rabu (27-5).

WARNING. Teater Lorong, Sumatera Barat mementaskan lakon Warming pada Pagelaran Teater se-Sumatera di gedung teater tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Rabu (27-5). Lakon karya Husin dan disutradarai Hasan ini mengangkat isu lingkungan. (LAMPUNG POST/M. REZA)

Lakon yang berjudul Warning karya Husin dan disutradarai Hasan ini bercerita keadaan alam yang mulai hancur dan menderita akibat eksploitasi yang berlebihan.

Lakon dibuka dengan pidato seorang tokoh yang berbicara tentang pentingnya menjaga lingkungan. Beberapa saat kemudian sang tokoh berbalik 180 derajat menjadi seseorang yang dengan keji menghancurkan alam.

Suatu sindiran kepada "orang-orang besar" yang selama ini berkata tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi tetap memberikan izin usaha kepada perusahaan yang menghasilkan limbah yang tidak bisa didaur ulang.

Simbol lingkungan yang terluka dan tercemar diperankan sempurna aktor-aktor yang berperan sebagai rerimbunan hutan. Emosi kesakitan, ketakutan, dan penderitaan sangat terasa dari tarian yang dinamakan Tari Buto, yaitu tari yang mengeksplorasi tubuh sedemikian rupa sehingga menampilkan suasana gelap dan mistis yang eksotis.

Warning menyentil sanubari kita untuk menjaga agar alam tetap harmonis. Pemanfaatan sumber daya alam tidak diharamkan, tetapi tidak secara berlebihan. Hormati alam sebagaimana mestinya karena manusia dan alam harus saling mengisi.

Kemudian pada pertunjukan kedua--pukul 16.00--Teater Petak Rumbia Bengkulu melakonkan Suatu Senja di Taman Bungaku karya E.Soewandi yang disutradrai sendiri.

Lakon ini bercerita tentang pemberontakan perempuan yang tidak pernah usai terhadap kondisi sosial budaya masyarakat tradisional yang selalu berada sebagai pihak yang "inferior" pada konsep takdir. Perempuan adalah tubuh yang tidak boleh sekalipun menang terhadap supremasi laki-laki.

Laki-laki dalam kehidupan tradisional terkonsep sebagai "superman", yang mempunyai darah yang lebih pekat dan berharga dibanding dengan perempuan. Kesuperioritasan laki-laki dalam lakon ini disimbolkan dengan kelebatan jubah hitam yang lebar menjuntai ke tanah dan menutupi seluruh tubuh tokoh perempuan pada saat mereka saling melempar dialog tentang waktu.

Waktu pada lakon ini adalah analogi dari takdir atau mungkin lebih tepatnya peran sosial yang dibentuk kebudayaan patrilineal, sehingga peran perempuan menjadi lebih rendah di bawah laki-laki.

Suasana dan aura yang gelap, menambah kesan keinferoran sang tokoh perempuan. Musik latar yang kadang berganti dari nada tradisional Melayu dan musik modern seakan ingin menyampaikan kondisi diskriminasi gender sudah berlangsung sejak zaman kuno dan masih berjalan sampai zaman modern sekarang tanpa bisa diubah secara keseluruhan karena sudah mengakar dalam masyarakat.

Ada gugatan yang hendak disampaikan dalam lakon ini, yaitu gugatan kepada perempuan untuk berani mengambil keputusan menurut hati sanubarinya terhadap kekuatan yang menekan mereka. Karena dalam konsep masyarakat tradisional, laki-laki akan kalah terhadap perempuan hanya jika dihukum waktu, yakni kematian. n MG-13/K-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 28 Mei 2009
0 Responses to "Teater Lorong Usung Tema Utama Lingkungan"
Share:

Selasa, 24 Februari 2009

Sumsel Sentra Kesenian Mahasiswa (Pentas tetaer STSI Padangpanjang di UNSRI)

Meski Sumatera Selatan (Sumsel), Palembang khususnya, “belum” memilki perguruan tinggi khusus dibidang kesenian (baru sebatas jurusan pendikan bahasa dan seni/FKIP, red), tapi telah dipandang sebagai salah satu sentra kesenian mahasiswa Indonesia untuk wilayah Sumatera. Hal tersebut ditandai dengan kunjungan Komunitas Lorong Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang saat tampil satu panggung bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Garda Anak Bangsa (GABI)’91 Universitas Sriwijaya (Unsri) sebagai pentas pembuka, selasa (18/3) lalu, Gedung Teater Unsri Indralaya. Masing-masing komunitas melakonkan “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov dan “Interogasi Rahim” karya Sutradara M Yunus.
“Untuk Sumatera, Palembang (Sumsel, red) yang lebih dekat dijangkau dan paling tepat dijadikan sentra kesenian mahasiswa Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa. Menariknya lagi, animo penonton di sini sangat apresiatif. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga pelajar dan masyarakat di luar kampus begitu antusias menyaksikan pentas teater”, tutur Husin, sutradara dan pimpinan rombongan STSI Padangpanjang.
Diskursus perkembangan seni dari lingkungan akademisi- jawaban sementara menyangkut belum adanya perguruan tinggi di Sumsel, Palembang khususnya- barangkali masing dipertimbangkan untung ruginya oleh masyarakat Sumsel. Pasalnya, dunia seni sangat sulit berkembang di Bumi Sriwijaya yang bersifat konsumeris, kendatipun potensi seni di Kota tidak diragukan lagi. Wacana itu diisyaratkan dalam pementasan mahasiswa STSI berjudul “Nyanyian Angsa” (Chekov), dalam dialog antara Svietlovdoff (Adri) kepada sang pembisik, Ivanitch (Roni) menyebutkan, “Cobalah piker, mereka (penonton/masyarakat,red) menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak. Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementesan selesai untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang kerumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68, sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup.”
“Itulah pilihan sadar seniman, suatu saat harus siap kehilangan panggung (profesi, red) dengan prospek masa depan seniman yang sering dianggap tidak jelas.” Dan tak dapat dipungkiri, tambah Husin, jika alasan tersebut berdampak dengan kurangnya minat masyarakat maupun pemerintah untuk mensinergikan sebuah perguruan tinggi khusus di bidang seni.
Ajang seni bertajuk pentas sebagi tindak lanjut dari pertemuan Pekan Apresiasi Teater III di Jurusan Teater STSI Padangpanjang, Sumatera Barat, Januari 2008 itu berhasil menyedot sekitar 350 orang. Sayangnya, apresiasi penonton yang begitu tinggi tidak diimbangi dengan fasilitas Gedung Pertunjukan yang terkesan kurang terawatt, seperti minimnya lampu pentas untuk pencahayaan. Kegelisahan ini disikapi Wahdaniah, ketua panitia yang mewakili UKM Teater GABI’91 fasilitator pementasan. “Dengan segala keterbatasan, kami (UKM Teater GABI’91 Unsri, red) selalu siap memfasilitasi teater kampus Indonesia yang ingin pentas di Usri sebagai upaya menggeliatkan kembali teater kampus yang ada di Palembang khususnya,” ujar mahasiswa FKIP Unsri itu.
Sementara itu, pementasan mahasiswa STSI Padangpanjang di Unsri menjadi apresiasi tersendiri bagi sivitas akademika Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP Universitas PGRI Palembang. Menurut Erpan Zahri, almamaternya selaku wadah pencetak calon guru kesenian perlu banyak berbenah untuk mengembangkan kesenian di Palembang. “Ke depan, kita (Sendratasik PGRI, red) akan mengadakan pagelaran seni di luar kampus yang lebih tertata dengan kemasan bidang seni lainnya,“ pungkasnya. (Azhari/*)

Tulisan ini diambil dari Koran Sumatera Ekspres. Minggu, 23 Maret 2008
Share:

UNSRI-STSI Padangpanjang Tukar Seni

Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang mengadakan pertukaran dan dialog seni di Gedung Teater Kampus Unsri, Inderalaya, Organ Ilir, pekan lalu. Kegiatan ini diprakarsai oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Garda Anak Bangsa Indonesia (Gabi)’ 91 Unsri dan Tetaer Lorong STSI Padangpanjang.
Dalam kesempatan pertukaran seni, Teater Gabi Unsri menampilkan pementasan teater yang berjudul “Interogasi Rahim” karya Muhammad Yunus, sedangkan Teater Lorong STSI Padangpanjang menampilkan “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov. Penampilan kedua pementasan sendiri disaksikan sekitar 300 penonton yang berasal dari mahasiswa, pelajar dan undangan.
“Kepada para penonton yang ingin menyaksikan pementasan diharuskan membeli tiket seharga Rp4.000 yang berlaku untuk dua orang. Tiket ini menurut kami sangat murah mengingat ada dua pementasan yang ditawarkan, yang mana salah satunya berasal dari luar sumsel,” kata ketua pelaksana Wahdaniah kepada Berita Pagi.
Sebagai pembuka pementasan tampil terlebih dahulu Teater Gabi Unsri dengan naskah “Interogasi Rahim”. Mulai dari awal penampilan, grup teater kampus yang berdiri sejak 1991 ini langsung mengajak penonton memasuki konflik aneh yang terjadi dalam sebuah keluarga.
Diceritakan, ada seorang aktivis perempuan, Dewi Mahesa yang diperankan (Silvi). Dalam kehidupan sehari-harinya, Dewi Mahesa sangat menentang adanya poligami di masyarakat. Tetapi, pada kenyataannya Dewi ternyata dipoligami oleh kakek buyutnya sendiri, Pralingga (Agus) yang sebelumnya telah menikahi kedua ibunya, Rahima (Eka) dan Rotiba (Neni).
Berbeda dengan Teater Gabi Unsri yang menampilkan naskah hasil karya anggotanya sendiri, Teater Lorong STSI Padangpanjang menyuguhkan karya dari pujangga besar Rusia, Anton Chekov berjudul “Nyanyian Angsa”. Naskah ini menceritakan dua orang actor Svietlovdoff (Adri) dan Ivanitch (Roni) yang meratapi nasib karena sudah menginjak masa tua, sehingga kurang memperoleh perhatian lagi dari masyarakat.
“Kami sangat senang dengan adanya pertukaran seni ini dan berharap terus berkelanjutan. Siapa tahu di lain waktu giliran Teater Gabi unsri yang secara khusus datang ke STSI Padangpanjang,” kata sutradara dari STSI Padangpanjang, Husin.
Setelah kedua kelompok menampilkan pementasan teater, acara selanjutnya disambung dengan dialog seni membahas perkembangan teater di masing-masing kampus dan daerah. Dialog sendiri berlangsung dalam suasana penuh keakraban, karena banyak disertai canda tawa. (ron)

Tulisan ini diambil dari Berita Pagi Palembang. Rabu, 02 April 2008.
Share: