Kamis, 18 Juli 2013

Insan-insan Malang Tidak Hanya Sekedar Konflik Keluarga (Catatan Pementasan Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Teater dan Film, Sekolah Tinggi Seni Riau)



 Oleh: Uchien
“Insan-insan Malang” Karya Bambang Soelarto, kembali dipentaskan dalam rangka Ujian Tugas Akhir Mahasiswa jurusan Seni Teater dan Film, program Diploma Tiga Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Pementasan ini diselenggarakan di Gedung Olah Seni, Taman Budaya Pekanbaru, Minggu 17 Februari, 20.00 WIB. Bertindak selaku sutradara atau yang teruji Rohasimah.
Insan-insan Malang, syarat dengan persolan social-politik pada masa kelahiran naskah lakon karya Bambang Soelarto ini. Pada tahun 60-an Indonesia mengalami perpecahan di dalam tubuh pemerintahan. Saling intrik antar organisasi dan partai semakin menjadi-jadi. Saling intrik ini disebabkan oleh dua ideologi yang berlawanan, Kapitalis-Imperealis versus Sosialis-Komunis. Pada naskah Insan-insan Malang ini mencoba mewakili pertentangan pandangan ini terhadap tokoh Pelamar Satu (Sulaiman) dan Pelamar Dua (Riki).
Adegan awal, munculnya tokoh Bapak (Syarif) yang mengamati photo anaknya di atas lemari, Bapak menunjukkan betapa sayangnya dia terhadap anak semata wayang, bernama Wati yang akan dilamar oleh dua orang pemuda. Tak lama berselang terdengar ketukan pintu, tak lain dan tak bukan yang datang adalah seorang pemuda. Bapak menyambutnya dengan sangat ramah, dengan sedikit salah tingkah Pemuda Satu memperkenalkan dirinya. Pemuda Satu, seorang sarjana ekonomi jebolan perguruan tinggi Amerika. Punya kedudukan tinggi sebagai direktur sebuah perusahaan industry obat-obatan. Punya rumah gedung tingkat dua, punya dua mobil sedan. Dari status Pemuda Satu ini menandakan, dia adalah seorang pemuda yang kaya raya. Hal inilah yang menyebabkan Pemuda Satu dihujat oleh Pemuda Dua, sebagai borjuis tengik anti revolusi, dia juga dituduh sebagai komprador nekolim.              
Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud hati untuk melamar Wati, Pemuda Satu mohon diri untuk pergi. Sebelum pergi Bapak mengingatkan bahwa masih ada satu orang pemuda lagi yang datang untuk melamar. Bapak menegaskan bahwa Pemuda Satu baru berstatus sebagai calon menantu. Setelah Pelamar Satu pergi, Bapak memperlihatkan ketidaksenangannya, dia menilai Pemuda Satu, laki-laki yang sombong, telah membanggakan harta kekayaannya. Kemarahan Bapak disambut dengan kehadiran Pemuda Dua.
Pemuda Dua, seorang pegawai tinggi, asisten ahli dalam bidang social-politik cabinet. Pernah belajar ilmu politik di Universitas Negara Sosialis. Sangat tidak suka dengan Pemuda Satu yang menghinanya sebagai badut politik yang terus menurus mengibuli rakyat. Kerjanya cuma main komisi, makan suap, manipulasi, korupsi. Bikin inflasi, memproduksi slogan-slogan basi. Pemuda Dua datang menghadapi Bapak juga ingin maksud hatinya untuk melamar wati, namun Bapak juga dibikin kesal olehnya, dengan maksud mencampurkan urusan keluarga dengan politik.
Melihat dari kedua pelamar Wati, penulis naskah tidaklah melihat persolan sederhana, dari permaslahan keluarga, namun dapat dilihat persoalan besar dibalik itu semua. Persoalan politik dapat dilihat dari pertentangan idelogi besar yang diwakili oleh tokoh Pemuda Satu dengan Pemuda Dua yang memperebutkan Wati. Wati barangkali bisa dianalogikan sebagai bangsa Indonesia yang pada saat itu ingin menemukan identitas. Tapi kemudian Bapak tidak mau melepaskan anaknya begitu saja, sampai pada akhirnya Wati memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bapak merasa terpukul sekali dan mersa bersalah, ditambah dengan surat yang ditulis Wati dibacakan oleh Pemuda (Ridwan) keluarga dekat Bapak. “…kukatakan dengan terus terang, bahwa tidak satupun dari mereka yang menjadi pilihan hatiku, Bapak setuju. Aku mohon memilih jodoh sendiri, bapak menolak. Sejak itu timbul perasaan aneh dalam diriku, aku merasa berhadapan dengan hantu jahat. Bapak hendak menguasai hidupku, aku jadi benci kepadanya. Aku dikurung dalam kamar dan Bapak menghiburku dengan belaian sayang, tidak sebagai anak kandung sendiri, tetapi sebagai wanita, aku benci Mas. Aku tidak tahan Mas. Selamatkanlah aku dari hantu jahat ini Mas. Jika tidak, aku akan menyelamtkan diriku, dengan caraku sendiri, jika tak bisa bertahan lagi menghadapi si hantu…”. Belum selesai surat dibaca, Bapak merampasnya dari tangan Pemuda. Emosi bapak bercampur aduk, dari rasa sedih, karena mersa bersalah terhadap pelakuannya dan marah, karna Bapak tahu, bahwa ternyata Wati menyukai Pemuda. Bapak kalut, dan masuk ke kamar. Di dalam kamar tercium bau kain terbakar, wajah Bapak terbakar, lalu ia terus mengoceh tentang perbuatannya menuju pintu dan keluar.  
Dilihat dari keseluran element pementasan. Naskah lakon realis ini, digarap dengan konsep presentasi. Dari latar tempat dan waktu sett panggung, rias dan kostum dibangun sesuai  dengan kelahiran naskah. Namun, hal itu tidak terlihat secara keseluruhan hadir di atas panggung. Sutradara tidak detail, panggung yang sangat lebar dibiarkan kosong, banyak ruang mestinya masih bisa diisi dengan beberapa perabotan. Kemudian yang dibiarkan oleh sutradara adalah kesamaan warna dasar permainan, sehingga pementasan terlihat datar. Padahal actor menjadi yang utama dalam pementasan.
Terlihat juga, bahwa actor tidak begitu total untuk mengenali tokoh, dangkal interpretasi, sehingga tubuh actor menjadi sangat mekanis. Actor hanya bermain secara fisik dan tampak luarnya saja dan usaha untuk bermain inner menjadi ngambang dengan tidak menjaga intensitas bermain. Mestinya actor bermain menjadi milik si karakter, tidak hanya sekedar mewakili si karakter. Sebaiknya actor juga mengutamakan indentifikasi antara jiwa si actor dengan jiwa si karakter, sambil membiri kesempatan kepada tingkah laku untuk berkembang (Eka D. Sitorus: 2003).   
Seperti juga yang pernah disampaikan oleh Stanislavsky “actor menjadi penting dalam sebuah proses produksi. Actor adalah pemegang kendali tercapainya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis naskah melalui konsep yang diciptakan oleh sutradara”.   

Husin, Tenaga Pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Praktisi Teater
Share:

Jusnita di'OPERASI' Oleh Putu Wijaya

Oleh: Husin
 “Tapi dokter itu menyembuhkan orang sakit. Tidak membuat orang menjadi sakit.” Potongan dialog Dokter yang diperankan oleh Reza dalam lakon OPERASI Karya: Putu Wijaya membuat orang menjadi berpikir, karena Dokter dibuat menjadi bingung pada saat ada pasien yang meminta kepadanya untuk dioperasi wajah menjadi jelek.
Pementasan Tugas Akhir Mahasiswa D3 Jurusan Teater Seni dan Film, 03 Februari 2013, 20.00 WIB, digarap oleh Jusnita selaku Sutradara dan yang teruji. Pada bagian eksposisi diawali oleh music, kemudian lampu fade in. di atas panggung terlihat beberapa pasien sedang menunggu panggilan untuk memasuki ruang rawat. Asisten Dokter I (Lani Novita) memanggil Pasien III (Tigo Imnuari) berjalan dengan kaki sebelah kanannya pincang, memasuki ruang rawat. Tidak lama kemudian kakinya sembuh, dengan senangnya ia menari-menari lalu keluar panngung. Selanjutnya Asdok I memanggil Pasien II (Nur Azizah). Pasien II berjalan bungkuk sangat pelan sekali memasuki ruang rawat dengan memegang tongkat di tangan sebelah kanannya, hal ini disebabkan oleh usianya yang sudah tua. Tidak lama kemudian Pasien II keluar dari ruang rawat dengan sangat kuat sekali, lalu ia berputar-putar sambil keluar panggung dengan sangat cepat sekali. Pasien IV sangat senang sekali saat namanya dipanggil oleh Asdok I, lalu Pasien IV berjalan seperti orang cacat mental memasuki ruang rawat. Tidak lama kemudian ia keluar dengan bahagia, sambil melompat-lompat meninggalkan panggung.
Di atas panggung terlihat satu orang Pasien lagi, Pasien I (M. Hafi Ansori) terlihat sangat gelisah menunggu, ia sangat kesal sekali Asdok I tidak juga memanggil-manggil namanya. Ruang tunggu pasien terasa sangat sepi sekali, Asdok I sudah tidak ada lagi di meja receptionist. Tinggal Pasien I seorang diri di ruang tunggu. Setelah kelelahan menunggu, ia tertidur di bangku. Di dalam tidurnya lampu mulai redup dan cahaya berganti berwarna biru, perlahan masuk sepasang penari. Penari I (Afdal Arta) dan Penari II (Teni Yusrizal) menarikan tarian dansa mengikuti irama music. Pada saat tarian berlangsung, Dokter (Reza Akmal) keluar dari ruang rawat, ia kaget melihat Pasien I sedang asyik tertidur, dengan berat hati Dokter berusaha untuk membangunkannya. Pasien I terbangun bersamaan dengan keluarnya sepasang penari, lampu kembali general. Pasien I sangat senang sekali melihat Dokter, pada bagian inilah muncul konflik.
Pasien I meminta kepada Dokter untuk mengoperasi wajahnya dirubah menjadi jelek, karena baginya wajah jelek bisa membuatnya menjadi terkenal. Sontak Dokter kaget mendengarkan permintaan Pasien I, karena selama ini tidak ada orang yang meminta permintaan aneh seperti itu. Baginya, pekerjaan Dokter menyembuhkan orang sakit, bukan membuat orang menjadi sakit. Perdebatan terjadi antara mereka, sampai pada akhirnya Dokter mengikuti permintaan Pasien I setelah merubah permintaannya untuk mengoperasi wajahnya setelah Pasien I merusak wajahnya dan meminta Dokter untuk mengembalikannya seperti semula.
Dilihat dari persoalan dan penokohan dari naskah lakon Putu Wijaya ini, mengingankan penonton bisa tertawa dengan persolan yang dihadapi oleh tokoh. Namun yang dilakukan oleh aktor malah menjadikan permainan terlalu over, hal ini disebabkan oleh sutradara terlalu menata bentuk, sehingga aktor tidak mampu memainkan tubuh yang cair dan dialog yang lebih natural.
Share:

Kasih, Sayang, dan Cinta Penyelamat Negeri Durjanasia - Indonesia dari Cengkraman Kidung Orang Orang Rakus (KOOR)

Oleh: Husin
            Komunitas Studio Seni Peran Riau Beraksi yang dikomandoi oleh Willy FWi kembali memproduksi pementasan teater. Produksi kali ini mengangkat sebuah lakon satyr yang berjudul KOOR (Kidung Orang Orang Rakus) karya Teater Lembaga. Pementasan yang di gelar di Gedung Ajung Seni Idrus Tintin (ASIT) ini, berbeda dengan pementasan sebelumnya. Pementasan dilakukan sebanyak lima kali, dimulai dari hari Rabu-Minggu, 20-24 Februari, digarap secara kolosal dengan 50 aktor, penari dan pemusik.   
Teater musical ini, diawali seluruh pemain on stage di atas level berwarna putih, berukuran 15x15 meter berbentuk tangga besar dan luas, berjenjang di bagian kanan dan kiri. Di sudut kiri panggung ada terap, di bagian kanan panggung berjejer selendang warna-warni. Di ruang panggung inilah penonton dapat melihat dan menterjemahkan Negeri Durjanasia. Di negeri inilah rakyat dan pemimpinnya menjaga keluhuran tradisi mereka untuk menjaga perut buncit. Kerena perut buncit melambangkan kewibawaan, kesuksesan, kesejahteraan dan kesempurnaan. Koor..koor.. kaki boleh krempeng, perut harus buncit. Tangan boleh bengkok, perut harus buncit. Dada boleh tipis, perut harus buncit. Mata boleh cekung, perut harus buncit. Itu jugalah salah satu janji dan sumpah mereka untuk menjaga kelestarian perut buncit, yang mereka juga nyanyikan sebagai lagu mars kebangsaan Negeri Durjanasia.
Gambaran dari janji dan sumpah ini, terlihat dari rias dan kostum yang dikenakan oleh 50 pemain. Wajah di rias menor, rambut acakan, pakaian warna-warni dan perut diberi efek buncit, layaknya seorang badut. Mereka ini jugalah orang-orang yang tidak pernah perduli dengan lingkungan dan persoalan yang ada disekitarnya, lebih banyak memilih bermalas-malasan dan memilih untuk tidur. Pada saat mereka tertidur pulas, ada seorang dari mereka tidak bisa tidur, karena mengidap penyakit insomnia. Karena merasa tidak ada yang menemani, ia kemudian berteriak “kebakaran..kebakaran..ada kebakaran”, berulangkali ia berteriak tidak ada satu orangpun yang terbangun. Lalu ia mencoba cari lain dengan berteriak “Pembagian sembako.. ada pembagian sembako..” mendengar kata ‘Sembako’ semuanya terbangun, kegeringan. Hal ini membuktikan bahwa di Negeri Durjanasia lebih memikirkan perut buncit.
Pada adegan kedua, pementasan yang disutradarai oleh Willy FWi juga menguak persoalan korupsi dan penyuapan di Negara Tetangga, yaitu Indonesia. Yung (Ferrick Rivano) di kursi persidangan, bagian tengah panggung dituduh telah melakukan punyuapan, kemudian ditetapkan sebagai terpidana penyuapan dan diponis hukuman penjara selama 10 tahun. Adegan ini mengingatkan kita akan lembaga hukum yang susah dipercaya, kita selalu dibingungkan dengan mana yang benar dan salah, proses yang berbelit-belit. Karena keberpihakan hukum lebih berpihak pada penguasa dan pemodal.
Setelah hukuman Yung ditetapkan, tiba-tiba suara distorsi music mengantarkan Yung ke Negeri Durjanasia, negeri dimana keserakahan harus terus diwariskan secara turun temurun, negeri dimana segala sesuatu harus diukur dengan uang, negeri para koruptor, para pembohong dan negeri cara penyuapan dilegalkan oleh Negara. Di negeri inilah Yung tersesat dan merasa bingung. Yung tidak punya pilihan lain, selain tetap tinggal di Durjanasia. Yung merasa Asing dan tidak mudah diterima oleh lingkungan dan masyarakat. Sampai Yung bertemu dengan Centeng Pasar (Aliph) yang memberi tahu aturan dan cara main di tempatnya. Mau tidak mau Yung mengikuti saran dari Centeng Pasar, hal yang pertama yang dilakukannya adalah menyogok Centeng Pasar agar ia bisa diterima. Hal ini diperparah setelah Yung betemu dengan Kadsus (Amesa Aryana), orang paling berkuasa.
Pementasan ini, juga menggambarkan tentang penganguran dan sulitnya mencari kerja. Antrian panjang orang-orang yang menunggu geliran untuk mendapatkan surat rekomendasi di posisi mana yang hendak dilamar. Pada antrian panjang ini bisa saja tidak mengikuti aturan, asalkan dia mampu menyogok pihak administrasi dan berhak pada urutan terdepan. Posisi kerja juga ditentukan berapa besar sogokon yang dibayar. Melihat itu semua, Yung menjadi kehilangan arah dan tanpa tujuan. Kemudia Yung teringat Indonesia, ia teringat dengan keluarga dan anaknya bernama Nurani.
Kerinduan Yung akan Indonesia diperkuat dengan tiga gadis kecil yang bernama Kasih, Sayang dan Cinta. Gadis inilah yang tidak setuju dengan keluhuran budaya rakus yang ada di Durjanasia, merekalah cikal bakal yang akal menyelamatkan Durjanasia dari belenggu orang-orang rakus. Ketiga gadis ini menyayikan sebuah lagu akan kasih sayang, kemudian disambung dengan lagu tanah air beta yang mengantarkan Yung ke Indonesia yang sesungguhnya. Dalam nyanyian, orang-orang yang berperut buncit tersadar akan budaya busuk yang telah mereka anut, kemudian mereka melepaskan perut buncit mereka, bersamaan dengan itu bentangan bendera merah putih dari arah penonton menuju panggung berbentuk gelombang.      
            Durjanasia, sebagai Negara fiktif seperti tidak ada bedanya dengan Indonesia. Segala prilaku dan tindakan yang dilakukan oleh pemimpin dan masyarakatnya, juga dilakukan di Indonesia, bagaikan saudara kembar yang sangat identik. Kasus korupsi, kolusi, nepotisme, sogok dan suap. Negara hukum yang cacat hukum, karena pengadilan lebih berpihak pada penguasa dan capital (pemodal). Kita teringat dengan kasus rakyat kecil yang mengambil kapuk, kakoa, dan pepaya untuk dimakan, bisa langsung diponis hukuman penjara. Sedangkan koruptor yang jelas-jelas mencuri uang Negara (rakyat), prosesnya bisa berbelit-belit dan sampai pada keputusan dia tidak bersalah, dengan alasan tidak cukup bukti. Kemudian masalah pengangguran dan kemiskinan yang sampai saat ini belum ditemukan solusinya.
            Dua Negara inilah yang coba divisualkan di atas panggung. Hal ini yang membuat kita masih percaya, bahwa seni teater sampai saat ini dan masa akan datang, terus memberikan kontribusi pikiran terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Teater akan terus menjembati realitas social yang ada, ke dalam dunia panggung. Pada pementasan ini, sutradara berhasil memindahkan persolan ke atas panggung, secara visual. Pementasan ini bisa diterima oleh setiap lapisan masyarakat perkotaan yang terkesan nge-pop.
            Keberhasilan ini juga dapat dilihat, dari pemain yang mampu menyembunyikan kepenatan tubuhnya. Sebagai tubuh yang normal, tentulah akan mengalami penurunan stamina, jika dipaksakan untuk berperan sebagai tubuh actor selama lima kali pementasan. Namun, dalam pementasan kali ini, kepenatan itu tidak terlihat. Namun dalam keberhasilan ini, ada hal yang menganggu pendengaran.
            Gangguan ini, disebabkan oleh pilihan suara natural yang dikeluarkan actor atau suara yang dibantu oleh condensor dan suara music yang menggunakan alat technologi digital. Condenser yang diletakkan di balik wing, kiri kanan panggung mempengaruhi perubahan dari suara actor yang dikeluarkan. Misalkan saja, jika actor berdialog tepat di pinggir panggung terdengar suara sangat keras. Namun, jika actor berdilog tepat di tengah panggung suara jadi kecil, tapi artikulasi dan intonasi masih tetap terdengar jelas. Dari pilihan penggunaan condenser ini suara yang dikeluarkan jadi tumpang tindih dan tidak seimbang. Sebaiknya, dipilih salah satunya saja. Kemudian music yang telah ditata dengan baik menjadi kurang nikmat didengar, karena volume suara yang terlalu tinggi dan mendominasi.
            Semoga pada pementasan berikutnya, hal yang menyangkut teknis bisa lebih dipertimbangkan secara matang, kematangan kita juga yang telah meng-Indonesia. tidak bisa dipungkiri, bahwasanya kita telah lahir dan dibesarkan di bawah bendera merah putih yang berjalan melintasi kita di deretan panggung penonton. Mari melihat Indonesia sesungguhnya dengan Kasih, Sayang dan Cinta.   
            Husin, Tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dan Praktisi Teater                
Share:

Kamis, 21 Februari 2013

Teater Lorong Ikut Bahagian Dalam Mini Festival Bono yang Ditaja Oleh Rumah Budaya Siku Keluang


 
Terhitung selama lima hari, 26-30 Januari. Terlihat masyarakat begitu antusias dan begitu dekat ketika mengikuti kegiatan yang ditaja oleh Rumah Budaya Siku Keluang, disponsori oleh Hivos Fondation dan Ubud writer. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa komunitas yang ada di Indonesia; Teater Lorong (Pekanbaru), SARUEH (Padangpanjang), I.S.E.C (Pekanbaru), Institut Kajian  Alam Melayu (Pekanbaru), LIFEPATCH.ORG (Yogyakarta), B-Project (Pekanbaru) dan Sindikat Cuci Otak (Pekanbaru).
Hari pertama sampai keempat, kegiatan dilakukan secara terpisah dari setiap komunitas. Workshop Diy Playdough dilakaukan selama dua hari, dimulai dari pukul 14.00-17.00 yang diberikan oleh Ade Greden (Rumah Budaya Siku Keluang). Pada malam harinya dilanjutkan dengan workshop acting, yang diberikan oleh Uchien (Teater Lorong). Workshop acting dilakukan selama tiga malam, dengan materi dasar-dasar acting yang dimulai dari olah tubuh, oleh vocal, dan olah sukma. Pada malam ketiga membuat cerita yang berasal dari cerita-cerita rakyat setempat, kemudian pembagian peran yang nantinya akan ditampilkan pada malam puncak. I.S.E.C memberikan pelatihan pembuatan bio gas dari kotoran sapi. Sedangkan komunitas SARUEH merekam aktifias masyarakat Teluk Meranti.
Menjelang persiapan kegiatan malam puncak, pada pukul 16.00 WIB, Dedi (Institut Kajian Alam Melayu) memberikan diskusi dengan masyarakat Teluk Meranti dengan tema Pusaka. Tepat pada pukul 20.00 WIB kegiatan performance dari setiap komunitaspun dimulai yang dibuka oleh Heri Budiman (Rumah Budaya Siku Keluang), kemudian dilanjutkan oleh Rini (I.S.E.C), mensosialisasikan tentang pentingnya Bio Gas di Desa Teluk Meranti. Setelah itu Budy Utami (Rumah Budaya Siku Keluang) memperkenalkan tentang Rumah Budaya Siku Keluang, beserta program-program yang telah dilaksanakan. Haryadi (SARUEH) menjelaskan tentang pentingnya merekam seluruh kegiatan yang ada ditengah masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video hasil rekaman yang diberi judul MEMOAR Teluk Meranti. Kegiatan ditutup dengan pementasan drama dari pemuda setempat, hasil dari workshop yang diberikan oleh Uchien (Teater Lorong).      
 
Share:

Selasa, 11 Oktober 2011

Tirani Harus Tumbang


Wahai para tiran..!
Sampai kapan kalian akan terus menyumbat
suara-suara bimbang dengan segumpalan janji-janji basi
dari mulut kalian terasa sangat basi
namun kami hanya diam dan selalu diam
Suara kami selalu dibungkam
lidah kami terasa padam


Setiap huruf yang kami kumpul
Setiap kata yang kami susun
Setiap kalimat yang kami gabung
Tetap saja beserakan kemudian terbuang

Sampai kapan kalian akan mengorek makanan yang ada dimulut kami padahal belum sempat melewati tenggorokan, hati, jantung, usus, lambung, sehingga muntah kamipun sanggup kalian jilati
Bahkan tinjapun kalian jilati

Kalian ciptakan mesin-mesin yang sangat berbahaya dari mesin sebelumnya
mesin-mesin itupun ikut memaksa kami tuk selalu bekerja dalam sistema
Menghitung angka-angka, nilai lebih yang membawa keuntangan mengganda
terlipat-lipat
melipat-lipat
berlipat-berlipat
dan sangat padat
kami pun bangsat
disumbat dengan pantat
yang tidak akan pernah merasakan nikmat
mesin-mesin itupun membunuh hingga pucat
hingga jadi mayat..!

Dalam pucat, setiap sudut, setiap lorong, setiap ruang, setiap jengkal, setiap garis tanpa batas, terdengar segerombolan orang sedang berbisik-bisik membicarakan nasibnya, mempersoalkan tanah, mempersoalkan air, mempersoalkan tulang, mempersoalkan darah yang mengering. Bersamaan dengan kepalan waktu, bisikan-bisikan itu semakin keras dengan lantang berteriak, dengan lantang berteriak, dengan lantang berteriak..!

Share:

Sabtu, 01 Januari 2011

HDP (Hijrah Di Purnama) Ke 10 Merefleksi Wajah-Wajah

Oleh: Uchien

Wajah-wajah yang dimaksud adalah, wajah-wajah yang mengekspresikan kondisi social masyarakat kemarin, hari ini dan esok. HDP (Hijrah Di Purnama) Senin, (20/12) sebuah kegiatan akhir bulan yang digagas oleh pelaku seni di Pekanbaru. Ketua Pelaksa HDP 10 (Summy) menjelaskan, “mereka (penggagas) tidak mau dikatakan, bahwasanya mereka sebagai penggagas. Bagi mereka HDP adalah milik semua orang yang ingin berkreatifitas lewat media kesenian, siapapun dia berhak untuk mengekspresikan kondisi apapun lewat kesenian. Baik itu kondisi social, ekonomi, politik, maupun agama. Bagi mereka kesenian merupakan media penyadaran dan propaganda”.
Pada HDP ke 10 ini, mencoba untuk merefleksi kembali satu tahun ke belakang, kedepannya apakah akan mundur atau maju. “melalui tema wajah-wajah ini, kita akan mengekspresikan kondisi social masyarakat kita hari ini. Dengan semangat kepedulian terhadap kondisi social masyarakat, kesenian mestinya juaga harus terus berproses. Tidak menjadikan kesenian sebagai produksi yang sangat instant, tapi harus terus berkembang bagaikan bola salju,” ujar Summy.
Penampilan pada HDP 10 ini, diikuti oleh komunitas kesenian yang ada di Kota Pekanbaru dengan penampilan berupa musikalisasi puisi (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universitas Islam Negeri), visualisasi puisi (Lembaga Dua Terbilang Uneversitas Islam Riau), pembacaan puisi (Ucok), Pantomaim (Syamsul) teater monolog (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universiatas Islam Negeri, Monda), sulap hipnotis (Psikologi – Universitas Islam Negeri), dan music akustik (Komunitas Anak Negeri, Indie Doku, Kelompok Pengamen Jalanan – Akademi Rakyat).
Hampir pada setiap pertunjukan mencoba memberikan ruang penyadaran dan propaganda. Salah satunya, terlihat dari penampilan music akustik dari KPJ – AKAR. Yang di dalamnya lagunya bertemakan tentang solidaritas, Kemiskinan, dan KKN. “kami sangat senang sekali dapat diberi kesempatan untuk bermain di HDP 10 ini, dan dapat terus menyampaikan segala kondisi yang ada di tengah masyarakat lewat nyanyian,” ujar Doni (Koordinator belajar KPJ – AKAR).
Ditambahkan oleh Summy, dia sangat menyayangkan sekali kondisi berkesenian di Pekanbaru. “Sampai hari ini, Pekanbaru masih memposisikan kesenian sebagai hiburan belaka. Maka kemudian, di HDP inilah kita dapat menyikapi kondisi berkesenian di Pekanbaru. Namun saya masih bersyukur, masih ada kawan-kawan idealis pada tataran penyadaran dan propaganda”.
Share: