Sabtu, 01 Januari 2011

HDP (Hijrah Di Purnama) Ke 10 Merefleksi Wajah-Wajah

Oleh: Uchien

Wajah-wajah yang dimaksud adalah, wajah-wajah yang mengekspresikan kondisi social masyarakat kemarin, hari ini dan esok. HDP (Hijrah Di Purnama) Senin, (20/12) sebuah kegiatan akhir bulan yang digagas oleh pelaku seni di Pekanbaru. Ketua Pelaksa HDP 10 (Summy) menjelaskan, “mereka (penggagas) tidak mau dikatakan, bahwasanya mereka sebagai penggagas. Bagi mereka HDP adalah milik semua orang yang ingin berkreatifitas lewat media kesenian, siapapun dia berhak untuk mengekspresikan kondisi apapun lewat kesenian. Baik itu kondisi social, ekonomi, politik, maupun agama. Bagi mereka kesenian merupakan media penyadaran dan propaganda”.
Pada HDP ke 10 ini, mencoba untuk merefleksi kembali satu tahun ke belakang, kedepannya apakah akan mundur atau maju. “melalui tema wajah-wajah ini, kita akan mengekspresikan kondisi social masyarakat kita hari ini. Dengan semangat kepedulian terhadap kondisi social masyarakat, kesenian mestinya juaga harus terus berproses. Tidak menjadikan kesenian sebagai produksi yang sangat instant, tapi harus terus berkembang bagaikan bola salju,” ujar Summy.
Penampilan pada HDP 10 ini, diikuti oleh komunitas kesenian yang ada di Kota Pekanbaru dengan penampilan berupa musikalisasi puisi (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universitas Islam Negeri), visualisasi puisi (Lembaga Dua Terbilang Uneversitas Islam Riau), pembacaan puisi (Ucok), Pantomaim (Syamsul) teater monolog (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni – Universiatas Islam Negeri, Monda), sulap hipnotis (Psikologi – Universitas Islam Negeri), dan music akustik (Komunitas Anak Negeri, Indie Doku, Kelompok Pengamen Jalanan – Akademi Rakyat).
Hampir pada setiap pertunjukan mencoba memberikan ruang penyadaran dan propaganda. Salah satunya, terlihat dari penampilan music akustik dari KPJ – AKAR. Yang di dalamnya lagunya bertemakan tentang solidaritas, Kemiskinan, dan KKN. “kami sangat senang sekali dapat diberi kesempatan untuk bermain di HDP 10 ini, dan dapat terus menyampaikan segala kondisi yang ada di tengah masyarakat lewat nyanyian,” ujar Doni (Koordinator belajar KPJ – AKAR).
Ditambahkan oleh Summy, dia sangat menyayangkan sekali kondisi berkesenian di Pekanbaru. “Sampai hari ini, Pekanbaru masih memposisikan kesenian sebagai hiburan belaka. Maka kemudian, di HDP inilah kita dapat menyikapi kondisi berkesenian di Pekanbaru. Namun saya masih bersyukur, masih ada kawan-kawan idealis pada tataran penyadaran dan propaganda”.
Share:

Minggu, 12 Desember 2010

Penyair berani bercarut marut atau tengah kehilangan identitasnya sendiri



Oleh: Liza
Berbicara tentang ranah sastra, maka kekuatannya adalah bahasa. Seorang penyair menjadi penggerak kekuatan sastra dengan keindahan bahasanya. Seperti sebuah pelabuhan, kapal berlayar dan berlabuh di dermaga. Maka pelaut mengarungi laut dengan bekal akan kembali pada dermaganya. Begitu pun dengan seorang penyair, ia jembatani pemikiran dengan realita yang bergulir. Ia menjadikan hal yang tersurat menjadi tersirat, begitu pun sebaliknya. Ia menjadi awal catatan perjalanan hidup dan perputaran alam karena perputaran itu akan kembali pada awal kembali.
Jika boleh meminjam istilah seorang nara sumber dalam diskusi pada acara peluncuran Antologi Puisi Penyair Muda Riau 2010, bahwa di dalam menilai sesuatu jarang kita temukan sebuah keobjektivitasan seseorang. Begitu juga dengan penyair; ia akan menterjemahkan alam dan carut marut kehidupan sesuai dengan kerangka pemikirannya. Bahkan lebih kejamnya lagi, ketika sebuah puisi telah rampung maka si penyair mati. Hal ini menggambarkan bahwa seorang penyair itu mempunyai hak untuk melepaskan diri dari karya yang dihasilkannya sehingga semua penikmat sastra berusaha untuk menikmatinya.
Kondisi serupa dikehendaki sebuah visualisasi puisi yang beberapa waktu yang lalu (11 – 12 – 2010) telah digelar oleh Lab. Teater AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau) di Taman Budaya Propinsi Riau. Visual atas puisi yang ditulis oleh saudara Husin yang juga salah seorang pendiri Taman Belajar yang diberi nama AKAR (Akademi Rakyat) berjudul ‘Teriakan-teriakan Kematian’ telah membuat resah sebagian pemikiran para tetua sastrawan/penyair di Riau saat menyaksikan pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 15 menit itu. Sang kreator ide telah mengisyaratkan gelitik berbeda dalam menyikapi kegelisahan kaum proletar terhadap kondisi yang menghempas impian mereka, para tiran yang tega membangun keinginan di atas siksaan yang berkepanjangan.
Pada hakikatnya visualisasi ini bermaksud hendak membangunkan geliat kesenimanan para pekerja seni di Riau khususnya di pekanbaru untuk dapat sama-sama menilik lebih peka sebuah realita. Namun sebagai catatan penting bagi kita semua khususnya Lab. Teater bahwa kekinian sastra di tanah lancang kuning masih mengharapkan memorian terhadap romantisme puitik yang tersaji di setiap kata yang dijalin oleh si penyair; mungkin belum menghendaki hentakan suara yang membisingkan telinga serta ribuan caci maki yang tak terstruktur dalam harmonisasi sajak.
Barangkali inilah catatan awal bagi Prilaku Para Tiran, sungguh menjadi penyegar suasana namun ingat bahwa evoria bahasa Indonesia berakar dari bahasa melayu, sehingga jika bukan kaum melayu sendiri yang mengenangnya siapa lagi. Namun susah untuk membedakan sebuah keterkekangan dengan sebuah pemikiran cermat dan cerdas tentang sebuah etika dan estetika bahasa dalam sebuah puisi.
Tak ada kata bagi seorang penyair bahwa ia sedang dilanda krisis bahasa atau bahkan lebih gawat lagi ia sedang kehilangan identitasnya. Sekali lagi, identitas yang mana? Jika hal ini dipeributkankan oleh sebahagian orang, sedangkan identitas kemelayuan itu sendiri tidak lagi tercermin dalam tutur kata ucap seorang budak melayu, etika berpakaian itu sudah lama ditinggalkan oleh budak melayu yang tengah tergila-gila dengan harajuku. Biarkanlah aliran itu mengalir tanpa dipaksa harus mengalir atau bermuara ke mana pun.
Share:

Senin, 01 November 2010

Mentawai; You are not a lone!


Oleh: Liza
Seperti tak ingin ketinggalan untuk berduka, Pekanbaru dalam pengamatan terasa sangat dingin dan cuaca sangat tidak bersahabat. Namun hal ini tak menyurutkan keinginan untuk tetap beraktivitas. Pekanbaru pada malam hari adalah sebuah gairah kehidupan yang tak akan pernah selesai, begitu juga dengan kecemasan dan keprihatinan beberapa kalangan peduli bencana Mentawai dan Jogjakarta. Minggu sore (31/10/10) tepat pukul 16.00 wib di pelataran parkir depan Purna MTQ Bandar Serai (Seni Raja Ali) Pekanbaru, beberapa event organize di Pekanbaru seperti Xcom, Mara dan yang lainnya menyuguhkan konsep acara yang bertema “ Mentawai; you are not alone” sebagai bentuk penggalangan solidaritas yang tinggi bagi para korban bencana Mentawai.
Berbagai bentuk pertunjukan seni yang digelar untuk menyemarakkan kegiatan sosial ini, di antaranya ensamble strings dari penggiat seni musik AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau), performance band dan pertunjukan teater. Sebuah pertunjukan teater eksplorasi yang berjudul Warning (karya Husin, S.Sn) menjadi pilihan mereka. Teater yang berdurasi lebih kurang satu jam ini menjadi penutup yang sangat apresiatif bagi para pengunjung atau penonton yang sempat menikmati saat itu.
Karya Warning ini pernah dipentaskan beberapa saat yang lalu di salah satu event temu teater remaja di Kota Bogor, Jawa Barat (23/10/10). Dengan konsep teater eksplorasi, sang penulis naskah sekaligus sutradaranya ini menyatakan bentuk kepedulian dan kritik sosial terhadap persoalan alam, manusia dan ketidakseimbangannya melalui pencarian ide dan simbol gerak yang mewakili jeritan dan sumpah serapah alam terhadap manusia.
Seperti salah satu dendang dialog yang cukup menarik bahwa alam menyumpahi manusia yang tak lagi menghadirkan keseimbangan dalam kehidupan. Manusia sibuk dengan permasalahan yang semakin hari semakin komplit. Mulai dari ilegal logging, eksploitasi hutan dan lain sebagainya. Berangkat dari permasalahan inilah kesedihan Indonesia terhadap Mentawai dicoba untuk alirkan energi positifnya. Berkaca dari pengalaman yang tengah terjadi, seharusnya cobaan ini menjadi cambuk bagi setiap Kita yang berpikir bahwa bencana itu dari Kita, oleh Kita dan untuk Kita.
Tepat pukul 22.30 wib, Karya Warning mengantar penonton semakin peka terhadap kondisi alam hari ini. Setidaknya sang sutradara mengajak Kita merefleksi beberapa diri, bahwa Peduli Mentawai dan Jogjakarta tidak hanya sekedar wisata bencana namum lebih dari itu.
Share:

Senin, 26 April 2010

Cintailah Bumi bukan sekedar perenungan (Catatan Performing Art Mahasiswa AKMR Pekanbaru dalam memperingati Hari Bumi Sedunia 2010)

Oleh: Liza

Beginilah cara seniman mengekspresikan kegundahannya melihat bumi mulai merana dengan ketuaanya. ada hal yang sering menjadi gelitik pemikiran; disaat para pemilik modal berburu wilayah baru yang tepat untuk dijadikan lahan usaha dengan cerobong asap nan gagah berdiri dan muntahan limbah nan mematikan, owner2 gedung menjulang tinggi dengan kemegahan gedungnya yang full kaca, mereka seolah lupa bahwa hijau itu damai dan damai itu sejuk.maka yang sejuk itu sehat dan yang sehat itu udara yang segar, sampah yang terorganisir dan hutan yang perawan.
terlepas dari pemahaman sebuah bentuk konstruksi dari tatanan kota cosmopolitan, ruang gerak makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan seakan terjepit oleh kepentingan manusia yang tengah berpesta dengan keagungan mahakaryanya dalam menyulap bumi menjadi bola kaca yang kaku; dimana untuk bernapas dengan sehat saja harus membayar mahal hal itu... sungguh ironis sekali jika dipikir-pikir. kemajuan teknologi dan keagungan ilmu pengetahuan malah membuat manusia menjadi tidak beradab dan tidak manusiawi..
jika kota besar berkutat dengan masalah banjir yang tak berkesudahan, kota-kota kecil mulai meramaikan siaran berita televisi, media massa dan elektronik lainnya dengan hebohnya masalah longsor dan bencana lainnya.. jika ditilk kembali lebih ironis lagi dengan pulau besar yang menurut data dari pihak dinas kehutanan mempunyai hutan tropis yang perawan.. ini hanya kamuflase saja, bahkan lebih parah lagi dengan kasus di pulau sumatera. berita bahwa banyaknya binatang buas yang berada dihutan2 tropis ini mulai mengamuk dan menyerang pemukiman serta asset perkebunan dan ladang warga tak terlepas dari ulah masyarakat itu sendiri..
harus berapa lama lagi bumi menahan seringai kesakitannya? sampai kapan kita harus menanggung kemarahan bumi terhadap apa yang telah kita perbuat terhadapnya?
kegelisahan inilah yang ditransformasi oleh beberapa rekan-rekan dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dalam bentuk Performing Art di pelataran Gedung Idrus Tin-Tin Bandar Serai (25 April 2010). jam menunjukkan pukul 16.09 waktu setempat, gebug-kan gendang mulai mencuri perhatian setiap pengunjung pelataran ini. alhasil performing art yang bertajuk Cintailah Bumi dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia ini berhasil menjadi kritik terhadap kondisi bumi hari ini./span>Belasan pemain yang terlibat dalam kegiatan ini cukup menujukkan aksi-aksi yang menyimbolkan bahwa mereka adalah unsur2 hayati yang menjadi saksi kehancuran bumi oleh ulah manusia itu sendiri. terlihat dari body painting yang mereka ciptakan, ada yang mewakili unsur tanah dengan warna merah kecoklatan, unsur tumbuhan dengan warna hijau. warna putih seakan mempertegas kita dengan unsur udara dan air serta warna merah yang menjadi simbol dari unsur api.
performing art yang berdurasi lebih kurang 45 menit ini seakan mengkomunikasikan kepada penikmatnya bahwa kerusakan pada setiap ekosistem alam itu adalah nyata dan telah berada pada tingkatan yang berat.
secara keseluruhan materi yang yang dicoba dieksplorasi dengan berbagai ekspresi tubuh semacam spirit dari capoera, gerak-gerak yang mengalir ini dikombinasikan dengan banyolan khas melayu yang mengkritik kondisi bumi hari ini dengan banyolan yang mengundang tawa para pengunjung.
secara keseluruhan telah berhasil meskipun pada bagian tertentu perlu ditekankan lagi karena kesadaran bagi pengunjung itu penting, jika tidak memikirkan itu maka siap-siaplah dengan performing art yang pulang sia-sia. tapi setidaknya Mahasiswa AKMR Pekanbaru ini telah mencoba dan menyisakan pertanyaan kecil disudut hati para penikmatnya sore itu "Bagaimana bisa Kami menyelamatkan Bumi, jika sampah plastik bekas bungkus makanan yang Kami makan saja tak sanggup untuk Kami buang pada tempatnya"
akhirnya penghargaan terhadap hari bumi itu hanya sekedar perenungan saja melainkan adalah bekera keras untuk menjadikan buang sampah pada tempatnya, menanam pohon sedari usian dini dan menjaga keseimbangan ekosistem alam itu menjadi sebuah rutinitas.
Share:

Minggu, 20 Desember 2009

Menelaah Teater, Dari Apa yang Kita Punya (Kampar) Menuju Komunitas Teater yang Progresif

Oleh: Husin

Awal
Sebelum kita jauh berbicara teater, kita akan mengetahui dan sama-sama berkenalan dulu dengan teater itu sendiri. Barangkali teater masih menjadi kata yang samar bagi masyarakat Kampar, yang jauh sebelumnya masyarakat lebih kenal dan dekat dengan kata drama atau sandiwara.
Teater atau dalam bahasa Yunani Teatron, yang dapat diartikan sebagai Gedung Pertunjukan atau Tempat Pertunjukan. Dalam hal ini bisa pertunjukan apa saja, baik itu tari, musik, drama dan seni lainnya yang bisa dipertontonkan. Sedangkan drama adalah; suatu karangan sastra, baik lisan maupun tulisan yang memiliki dialog, keterangan laku dan tempat yang dipertunjukkan di atas pentas. Namun melalui proses yang amat panjang istilah teater lebih melekat pada seni pertunjukan yang berbentuk drama. Karena ia merupakan salah satu genre seni yang memiliki dimensi kekompleksitasan yang ada dalam seluruh genre seni. Teater dibangun oleh unsur sastra, musik, kareografi gerak atau tarian, rupa, suara, dan seni yang lain. Bila kesenian diidentikkan sebagai maniatur budaya, maka teater juga disebut sebagai maniatur kesenian secara kekompleksitasannya. Peristiwa teater disebut juga peristiwa budaya sepertihalnya peristiwa-peristiwa kesenian lainnya. Teater tak lain adalah jendela atau jalan masuk untuk melihat suatu kebudayaan (Sahrul 2008).
Dikesempatan kali ini, berkaitan pada pelatihan / workshop terpadu yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kampar. Barangkali akan memberi kehidupan dan pertumbuhan teater yang memiliki arti penting dalam perkembangan teater Indonesia, khususnya Kampar. Tidak bisa tidak, kita akan bersama-sama saling bergandengan tangan untuk terus memajukan teater di Kampar. Saya sangat yakin sekali, bahwa kita akan mampu untuk terus berproses dan menggali akar kebudayaan Kampar yang nantinya akan sama-sama kita sinergiskan lewat perkembangan teater di Indonesia.
Sebelum kita mencoba mengetahui perkembangan teater di Indonesia, terlebih dahulu kita akan membagi jenis teater menurut perkembangannya yaitu teater tradisi, teater modern, dan teater kontemporer.

Tengah
Kasim Achmad dalam bukunya, Mengenal Teater Tradisional Indonesia (2006:4-5) mengatakan bahwa teater tradisional merupakan suatu bentuk teater yang lahir tumbuh dan berkembang di suatu daerah etnik, yang merupakan hasil kreativitas kebersamaan dari suatu suku bangsa di Indonesia. Berakar dari budaya etnik setempat dan dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Teater tradisional dari suatu daerah umumnya bertolak dari sastra lisan yang berupa pantun, syair, legenda, dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat. Teater tradisional lahir dari spontanitas kehidupan dan dihayati masyarakat lingkungannya, karena ia merupakan warisan budaya nenek moyangnya. Warisan budaya guyub (kebersamaan dan kekeluargaan) yang sangat kuat melekat pada masyarakat di Indonesia.
Bentuk kesenian teater tradisional yang ada di Indonesia, baik di Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Sumatera Barat, Riau dan sebagainya, memiliki kesamaan pada proses kelahirannya begitu juga di Kampar. Ia lahir dan berkembang benar-benar di tengah masyarakat itu sendiri. Karena penceritaan yang dihadirkan sangat dekat dengan persoalan yang dialami oleh masyarakat setempat. Penceritaan itu menimbulkan interaksi sosial yang sangat komunikatif dan membangun silaturrahmi.
Bentuk-bentuk pertunjukan tradisional ini dipertegas oleh Jakob Soemardjo dalam buku Perkembangan Teater dan Drama Indonesia (1997:18-19) bahwa unsur-unsur teater rakyat yang pokok adalah cerita, pelaku dan penonton. Unsur cerita dapat diperpanjang atau diperpendek menurut respon dan suasana penontonnya. Cerita dibawakan dengan akting (pemeranan) atau dengan menari dan menyanyi. Para pelaku berkostum sesuai dengan referensi budaya masyarakatnya, meskipun ada acuan terhadap tradisi lama. Ciri-ciri umum teater rakyat ini adalah : (1) Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng, mitologi atau kehidupan sehari-hari; (2) Penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian; (3) Unsur lawakan selalu muncul; (4) Nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan serta dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus, yakni tertawa dan menangis; (5) Pertunjukan menggunakan tetabuhan atau musik tradisional; (6) Penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab dan bahkan tak terelakkan adanya dialog langsung antara pelaku dan publiknya; (7) Mempergunakan bahasa daerah; dan (8) Tempat pertunjukan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton).
Ciri-ciri teater tradisional seperti yang dijelaskan di atas dapat kita lihat di wilayah Bangkinang Barat, lebih tepatnya Pulau Belimbing. Bagi masyarakat Pulau Belimbing diberi nama yang lebih akrab disebut Drama Amal. Teater ini dipertunjukkan hanya pada saat hari raya Idul Fitri yang seluruh masyarakatnya pulang dari rantau. Fungsi dari teater tradisional ini untuk silaturahmi, hiburan, pendidikan, dan beramal. Karena bagi masyarakat yang menonton akan dikenai biaya dengan cara membeli karcis dari pihak penyelenggara, kemudian hasil dari penjualan karcis akan diumumkan dan digunakan untuk membantu pembangunan kampung. Misalnya, untuk memperbaiki jalan, memperbaiki mesjid dan lain sebagainya.
Uniknya drama amal yang ada di Pulau Belimbing ini, dari segi penokohan. Tokoh perempuan diperankan oleh laki-laki yang ditata sedemikian rupa menyerupai perempuan. Dari segi rias, kostum, dan perwatakan diusahakan semirip mungkin. Kemudian cerita yang disuguhkan, lebih pada cerita masyarakat setempat. Masyarakat akan mencoba merefleksi kembali kejadian setahun kebelakang. Maka nanti, akan kita temuai muatan kritikan dan pendidikan.
Drama amal ini hanya untuk contoh teater tradisional saja, saya yakin dibanyak kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar juga memiliki teater yang demikian. Bahkan lebih unik dari drama amal yang ada di Pulau Belimbing. Selain teater tradisional, kampar juga memiliki teater modern.
Melihat perkembangan masyarakat, akan mengalami banyak perubahan. Perubahan itu menyentuh berbagai macam bidang, baik itu dari sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian. Perubahan itu membawa kita untuk mencoba membaginya, ada msyarakat tradisional dan ada masyrakat modern. Perubahan yang terjadi ditengah masyarakat juga mempengaruhi perubahan kesenian di tengah masyarakat, termasuk di dalamnya teater.
Teater modern adalah produk budaya kota. Munculnya masyarakat kota yang pluralistis, ekonomis, dan modernis, mengakibatkan munculnya permintaan bentuk teater yang sesuai dengan aspirasi budayanya. Dengan percepatan budaya luar atau barat yang begitu cepat, barangkali kecepatannya melebihi speedy yang sangat mendesak. Percepatan inilah yang kemudian memaksa kita untuk dapat mengimbangi dan menetralisir lewat seni dan budaya. Teaterpun ikut bergerak lewat perubahan yang dialaminya. Teater modern lebih menekankan referensinya pada teater Barat.
Teater tradisi memang berbeda dengan teater modern dalam beberapa hal. Dramaturginya pun lain. Teater tradisi lebih merupakan upacara atau peristiwa bersama ketimbang pertunjukan. Tidak ada pemisahan antara penonton dengan pertunjukan. Sedangkan teater modern, walaupun awalnya adalah sebuah upacara, telah menjadi murni seni pertunjukan, penonton dan tontonon dibuat terpisah.
Teater modern suatu disiplin ilmu yang baku, memiliki hukum-hukum panggung yang tidak boleh dilanggar. Memerlukan teks naskah yang tertulis, sedangkan teater tradisional bisa saja secara spontanitas dan tidak perlu ditulis. Setelah itu teater modern akan menjalani proses latihan yang amat panjang, sedangkan teater tradisional bisa saja satu jam sebelum pertunjukan. Segi artistik harus dipikirkan dan dipertimbangkan sejauh mungkin, seperti penataan pentas (setting), pencahayaan (lighting), rias dan busana. Sedangkan teater tradisional bisa pada saat itu saja. Kemudian tema teater modern lebih pada fenomena atau isu-isu sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Butuh waktu yang sangat panjang untuk memproduksi suatu pementasan. Proses yang biasa dilakukan oleh banyak kelompok teater modern dimulai dari pemilihan naskah, menganalisis teks naskah, olah vokal, olah tubuh, reading, lepas naskah, blocking, penggunaan property, penghalusan, pemantapan, glady resik, dan puncaknya sampai ke pertunjukan. Tidak hanya sampai disitu saja, setelah pertunjukan usai perlu adanya diskusi atau kritikan dari penonton untuk perbaikan pada pertunjukan berikutnya.
Dalam teater modern sangat dibutuhkan suatu kelompok yang melitan dan konsisten untuk tetap bertahan. Barangkali di Kampar telah ada suatu organisasi teater, kalo orang teater menyebut ‘Komunitas Teater’ yang turut menyumbangkan dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat.
Setelah kita mengenali teater modern, maka sampailah kita pada jenis teater kontemporer. Teater kontemporer adalah teater yang banyak mengadakan eksperimen. Banyaknya perbandingan, pengalaman dan pengetahuan dalam menggauli teater, baik teater tradisi, teater modern (barat), dan juga teater Asia. Untuk menggauli teater kontemporer ini, dibutuhkan kreatifitas dan terus menggauli esensi dari teater itu sendiri. Inilah yang dimaksud oleh Sahrul N pada Pekan Apresiasi Teater III se-Sumatera di Padangpanjang, tentang croos culture. Terjadi suatu percampuran konsep antara teater rakyat tradisional dengan teater modern yang datang dari Barat atau pengaruh teater yang lainnya.
Barangkali pada kesempatan kali ini kita tidak terlalu jauh untuk membicarakan tentang teater kontemporer, mudah-mudahan pada kesempatan lain kita juga akan lebih dekat tuk mengenalinya.

Akhir
Apapun jenis teater yang kita geluti, baik itu teater tradisi, teater modern, atau teater kontemporer. Perlu dipertanyakan keseriusan kita masing-masing, untuk terus mencari dan mengeksplorasi segala sesuatu yang berkaitan dengan teater. Mulailah membuka catatan-catatan yang sudah lama tersimpan, kumpulkanlah orang-orang yang ingin mengaplikasikan dirinya lewat teater, dan bentuk komunitas-komunitas teater disetiap Kecamatan. Karena, dengan banyaknya komunitas akan terjadi proses dealektika antar komunitas. Bagi daerah Kecamatan yang telah memiliki komunitas, mulailah untuk merapikannya kembali.
Niatkanlah orientasi berteater untuk meyakini bahwa apa yang telah kita lakukan itu, kita persembahkan untuk kebajikan hidup bersama dengan turut menyelenggarakan pencerdasan masyarakat melalui teater, pencerahan, refleksi, sosial-politik, dan merawat kehidupan spritual dimana kita berada. Karena apa yang telah kita kerjakan dan cita-citakan bukanlah untuk pribadi kita sendiri, melainkan untuk lingkungan dan masyarakat luas. Tinggal lagi yang kita butuhkan support dari setiap lapisan masyarakat dan pemerintah, dalam hal ini Dewan Kesenian Kampar akan terus mewadahi dan mengakomodir segala permasalahan yang ada di daerah Kecamatan.
Marilah berbuat dan terus berproses!


Gudang Lorong, 09 Desember 2009

Daftar Bacaan
Achmad, A. Kasim, Mengenal Teater Tradisional di Indonesia, CIPTA Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, 2006.
N., Sahrul, Membaca Teater Sumatra (Melayu) Dalam Fenomena Croos Culture, Makalah Pada Pekan Apresiasi Teater III, Padangpanjang, 2008.
Sumardjo, Jakob, Perkembangan Teater dan Drama Indonesia, STSI Press Bandung, Bandung, 1997.
Share:

Senin, 23 November 2009

Bersilaturahmi dan Beramal dihari yang Fitri Bersama Drama

Oleh: Husin, Penggiat dan Pemerhati Teater, Pendiri Teater Lorong Padangpanjang

Ada banyak cara, masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut ajaran Agama Islam untuk menyambut bulan suci ramadhan dan merayakan hari yang Fitri. Disetiap daerah, provinsi dan lain sebagainya memiliki latar belakang kebudayaan yang banyak dipengaruhi oleh berbagai macam aspek. Sehingga membuatnya menjadi banyak ragam kebudayaan. Namun tetap pada ajaran dan aturan yang ada di dalam ayat suci Al-Qur’an.
Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah, umat muslim diberi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendalami agama Islam, untuk menyempurnakan amal ibadah. Tidak hanya sampai disitu saja, usai menjalani ibadah Ramadhan. Maka sampailah pada hari kemenangan, yakni Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat muslim berhak untuk merayakannya dan diberi kesempatan untuk saling memaafkan antar sesama, sehingga ruang sosialisasi dan komunikasi menjadi harmonis. Selain itu mereka juga dapat menafkahkan sebahagian rezekinya untuk orang lain yang membutuhkan, dalam hal ini fakir miskinlah yang dipandang perlu untuk menerimanya. “yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka” (QS 2:3). Ayat ini mencoba memerintahkan sholat dan menafkahkan sebahagian rezki untuk orang lain. Karena rezki yang kita miliki, sebahagian ada hak orang lain di dalamnya, Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.
Begitulah yang setiap tahun dilakukan oleh orang Indonesia yang mayoritas agama Islam. Sehingga harus diakui, pengaruh agama Islam terhadap pola hidup bermasyarakat orang Melayu memang sangat besar. Bahkan kadang-kadang terkesan, bahwa Melayu identik dengan Islam.
Sama halnya dengan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Pulau Belimbing, Kab. Kampar, Prop. Riau. Mereka punya cara lain untuk merayakan hari raya Idul Fitri, yakni berbentuk drama. Drama tradisional ini diberi nama oleh masyarakat dengan sebutan sandiwara amal, karena masyarakat tidak mengenal istilah drama atau teater. Pemberian nama ini disebabkan oleh penampilan yang selalu memungut biaya dengan cara menjual karcis, namun hasil penjualan karcis digunakan untuk pembangunan desa, baik itu digunakan untuk perbaikan jalan yang menghubungkan dari desa ke desa, perbaikan mesjid atau musholla dan sarana pendidikan agama dan lain sebagainya.
Sandiwara ini diperkenalkan oleh Abik pada tahun 1948, yang pulang merantau dari Negara Singapura pada saat Hari Raya Idul Fitri. Pada tahun 1940-an Singapura telah mengalami kemajuan, pemuda ini sering menonton pertunjukan teater di perantauan, sepulangnya dari rantau ia mencoba melakukan hal serupa yang pernah ia tonton dan melakukan semampunya. Mulai dari mengumpulkan pemain yang terdiri dari pemuda, lalu ia buat cerita yang sangat dekat dengan persoalan masyarakat secara bersama, ia tentukan pemain dan disutradarai sendiri.
Alasan untuk memperkenalkan sandiwara hanya untuk menghibur masyarakat dan sebagian penduduk yang pulang dari rantau. Setelah satu minggu proses membuat cerita dan latihan, pertunjukan pun digelar tepatnya pada Hari Raya Enam Idul Fitri. Setelah pertama kali dilakukan akhirnya sandiwara ini menjadi rutin tiap tahun dilakukan dan menjadi milik masyarakat Pulau Belimbing. Sampai pada perkembangannya, drama ini mulai digelar pada lebaran pertama sampai ke-enam dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan.
Setelah sandiwara hadir di tengah masyarakat, Desa Pulau Belimbing, Kec. Bangkinang Barat, Kab. Kampar, Propinsi Riau mengalami kemajuan di bidang seni dan budaya. Seni budaya ini dari waktu ke waktu menjadi bertambah dan disusun menjadi kegiatan tahunan rutin, kegiatan itu diadakan mulai dari pra-Ramadhan hingga pasca hari raya Idul Fitri. Urutan kegiatan ini dimulai dari (1) bakela/makan basamo (makan bersama); (2) lomba MTQ; (3) pacu tongkang (pacu jalur); dan (4) sandiwara amal sebagai acara puncak.
Bentuk dan Unsur Pertunjukan
Bentuk sandiwara amal masyarakat Dusun Pulau Belimbing, Kec. Bangkinang Barat, Kab. Kampar, Propinsi Riau disampaikan dengan cara dimainkan atau dipertunjukkan. Para pelaku memainkan atau memperagakan cerita. Penyajian cerita dibawakan secara lelucon atau lawakan dan selalu spontanitas. Terkadang porsi lawakan cenderung menyindir dan sering berlebihan yang selalu mengikuti keinginan penonton, karena antara penonton dan pemain terjadi interaksi yang sangat komunikatif.
Gaya lawakan yang disebut farce (banyolan) adalah gaya permainan komedi yang berlebihan, kasar dan banyak menggunakan kelucuan yang mengutamakan gerak lahiriah. Gaya banyolan sering diperkuat dengan kelucuan dalam “permainan kata” (plesetan). Kadang kala dengan sengaja mengucapkan kata yang keliru, untuk menimbulkan efek lucu.
Bentuk penokohon yang selalu dipertahankan oleh masyarakat hingga hari ini adalah tokoh perempuan dimainkan oleh laki-laki. Laki-laki yang memerankan tokoh perempuan ini dari segi vokal, akting, kostum dan rias diupayakan serupa mungkin. Tokoh-tokoh demikian menjadi sangat penting dari setiap penampilan, karena mereka yang akan menghidupkan pertunjukan dan diinginkan oleh penonton. Makin banyak penonton tertawa, makin bertambah pula lawakan yang disuguhkan. Penokohan yang mempunyai unsur lawakan menjadi sangat menarik dan selalu digemari oleh masyarakatnya.
Selain itu segala bentuk unsur pendukung pertunjukan. Seperti tata pentas, cahaya, musik, rias dan busana dibuat sesederhana mungkin. Misalkan saja seperti tata pentas yang untuk membangun latar waktu dan tempat, mereka akan bikin semampunya atau bahkan mereka cukup membangun ruang dan garis imaginer saja. kemudian rias, mereka cukup menggunakan bedak tabur dan lipstik buat tokoh perempuan. Atau pencahayaan, mereka cukup menggunakan lampu neon saja. Karena fungsi cahaya bagi mereka, hanya untuk penerang saja.
Fungsi Pertunjukan Pertunjukan Bagi Masyarakat
1. Fungsi Kreativitas
Ide dan kekayaan bathin merupakan modal pokok bagi pengembangan kreativitas seni Sandiwara Amal sehingga menjadi suatu pertunjukan yang bisa nikmati. Hal ini sangat terlihat dalam sandiwara amal. Kemampuan seorang seniman dalam melahirkan gagasannya adalah sisi teknis yang menentukan keberhasilan dalam berekspersi, yaitu dalam memilih bahasa ekspresi yang praktis dan efisien, mudah dipahami dan memberikan pengalaman estetik yang menyenangkan.
2. Fungsi Estetis
Fungsi sandiwara amal adalah alat untuk melakukan transformasi nilai kemanusiaan ke tengah masyarakat. Sandiwara amal akan diterima sebagai gambaran biasa apabila sandiwara tersebut tidak dapat menyingkap tabir nilai estetis yang tersirat dalam pertunjukannya. Nilai estetis dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam budaya tertentu.
Mengamati sandiwara amal, bukan hanya mengamati wujud sebuah bentuk kehidupan masyarakat Desa Pulau Belimbing, Kec. Bangkinang Barat, Kab. Kampar, Prop. Riau dengan persoalan-persoalannya, tetapi juga hakikat yang terkandung dalam seni tersebut. Seniman sandiwara amal mencoba mengisi hakikat seni drama dengan menjadikannya lebih berisi dan bermakna seni yang tinggi.
Jika dikaitkan dengan moralitas, sandiwara amal berfungsi menemukan dan mengungkapkan keindahan semesta, karena adanya sesuatu yang agung dan mulia sesuai dengan apresiasi terhadap kosmos. Seni dalam pandangan kaum pencinta keindahan ini tidak bekerja secara langsung mengekspresikan ide atau sikap, tetapi mewujudkan sebuah pengalaman hidup dalam suatu wujud. Seperti yang diungkapkan oleh Immanuel Kant (dalam Jakob Soemardjo, 2001: 93) bahwa seni sepenuhnya merupakan kepuasan keindahan tanpa pamrih. Kesenian menjadi berkembang ketika seni dikembalikan dalam bentuknya yang utuh, yang tidak hanya sebagai alat untuk tujuan tertentu, tetapi juga untuk merangsang jiwa manusia yang memandang seni sebagai sesuatu yang indah.
3. Fungsi Kemasyarakatan
Seniman sandiwara amal mencoba meminimalkan konflik sosial dalam mengembangkan kesenian tradisional di Bangkinang. Seniman sandiwara amal sangat menyadari bahwa dimensi orientasi nilai mencerminkan pola-pola budaya yang diresapi masyarakat Bangkinang. Dimensi ini digunakan untuk mengklasifikasi aspek-aspek sistim budaya yang berbeda. Dimensi kognitif berhubungan dengan sistim kepercayaan budaya, dimensi apresiatif dengan sistim budaya yang berhubungan dengan simbolisme ekspresif dan dimensi moral berhubungan dengan sistim budaya dalam orientasi nilai. Intinya, seniman sandiwara amal mencoba memberikan pola-pola budaya yang modern kemudian menyatukannya dengan pola-pola budaya yang berkembang di Bangkinang. Tak ada paksaan untuk melakukan hal-hal yang mengarah pada persoalan di luar budaya yang dikenal oleh masyarakat Bangkinang.
4. Fungsi sosial
Seniman sandiwara amal melakukan tindakan dalam mengorganisasi pemain agar keteraturan dan arah yang diinginkan dalam dunia kreativitas bisa terjaga dengan baik tanpa adanya konflik yang merusak sosial itu sendiri. Sistim sosial tersebut difungsikan oleh seniman tradisional dalam wujud membentuk fungsi baru dalam dunia seni drama.
Seniman sandiwara amal membentuk konsep sistim sosial dengan melibatkan pelaku-pelakunya. Dia yakin bahwa setiap pelaku kesenian di Bangkinang bermaksud untuk mencapai daya tarik yang tinggi terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat Bangkinang. Pada saat sandiwara amal mendapat tanggapan yang positif dari sistim sosial, maka tindakan itu akan diteruskan menjadi suatu rutinitas. Pelaku yang ikut bersama dengan seniman sandiwara amal merasakan bahwa dunia drama merupakan dunia yang bisa menghasilkan daya kritis.
Share:

Jumat, 20 November 2009

Perbenturan Agama dan Adat Menuju Estetika Paradoks

Oleh: Uchien
Penyutradaraan Kontemporer ini merupakan minat yang paling terakhir, menuju Tugas Akhir mahasiswa. Pada pementasan penutup (18/02), di Teater Arena Mursal Esten, pukul 20.00 WIB terlihat penonton bersabar tuk menyaksikan resital penyutradaraan kontemparer yang berjudul “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutradara yang sekaligus diuji Nolly Media Putra. Barangkali dibutuhkan kecerdasan yang mendalam dari sutradara untuk mengolah bentuk, agar esensi yang ingin disampaikan bisa tertangkap oleh penonton. Begitu pula penonton, sedapatnya memilki ketajaman analisa untuk bisa menangkap apa yang telah dikomunikasikan oleh suatu tontonan. Kecenderungan teater kontemporer secara bentuk kita akan melihat dengan hadirnya simbol-simbol, komposisi, kekuatan tubuh lebih mendominasi, dialog sangat puitis, bangunan plot/alur tidak literer dan sebagainya. Makanya, dibutuhkan ketajaman analisa dari setiap komponen panggung.
Dari penjelasan di atas, kita akan dapat melihat dari “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutrdara Nolly Media Putra. Di dalam panggung terdengar bunyi ombak yang menghantam karang, suara angin berhembus kencang, dan kicau burung yang sesekali melintasi laut. Cahaya tiba fade-in yang terfokus pada empat titik, titik pertama terlihat di kiri belakang panggung, pada level yang terbungkus oleh kain berwarna kuning, merah, dan hitam yang tingginya lebih kurang setengah meter dengan posisi horizontal. Terlihat ada janur pada dua sisi level, kuali lengkap dengan pemasaknya, seorang perempuan (tokoh Ibu) berpakaian Bundo Kanduang berwarna merah perlahan-lahan memutar-mutarkan sendok pada lingkaran kuali, sesekali perempuan itu memukul-mukulkannya, makin lama semakin cepat dan semakin tinggi. Disela itu secara bersamaan cahaya berwarna merah fade-in pada tiga titik, terlihat tiga laki-laki (tokoh Malin) bertelanjang dada mengenakan galembong, mereka berada di dalam bingkai yang berbentuk kotak/peti, berlahan-lahan secara bersamaan mereka bergerak dengan pelan.
Dalam hal ini ada dua pemisahan, antara tokoh perempuan (Ibu) dan tokoh laki-laki (Malin). Namun dalam lakon tersebut ada penokohan yang sama-sama antagonis, jadi tidak ditemukan tokoh protagonis, tidak ada yang menjadi penengah atau memihak. Jakob Sumardjo dalam bukunya “Estetika Paradoks” mengatakan dasar berpikir pola dua adalah bahwa hidup itu pemisahan. Hidup itu persaingan, hidup itu konflik, dan hidup itu adalah perang. “Melintas Kandung” ini bukanlah perperangan antara Ibu dan anak Laki-laki (Malin) yang melawan kepada Ibunya lalu dikutuk menjadi batu.
Perempuan (Ibu) sebagai simbol Adat, kemudian Laki-laki (Malin) simbol Agama. Awalnya, agama dan adat memang suatu pemisahan yang sangat jauh. Jika kita analogikan dalam perkawinan, lelaki tetap lelaki, perempuan tetap perempuan, dan keduanya melebur dalam satu kesatuan yang melahirkan entitas ketiga, yakni anak. Maka kemudian terjadilah peristiwa harmoni, syarat hidup adalah adanya harmoni dari dua entitas yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Seperti yang dikatakan Jakob (2006) peristiwa harmoni adalah peristiwa paradoks, tidak ada yang dikalahkan, dan tidak ada yang dimenangkan. Keduanya pemenang, bahkan melahirkan hidup baru.
Sangat disayangkan pada pementasan “Melintas Kandung” tidak memperlihatkan adanya keharmonisan, terlebih lagi pada struktur pementasan tidak terlihat situasi yang menegangkan bahkan konflikpun tidak terbangun antara tokoh Adat dan Agama. Inilah kecenderungan seorang direktor (Sutradara) yang mencoba menggarap pada wilayah kontemporer, selalu melupakan unsur-unsur dramatiknya. Sehingga terlihat pada bagian tengah sampai akhir hanya pengulangan-pengulangan yang membosankan.
Share: