Selasa, 12 Mei 2009

Apakah Benar Alamiah

Persoalan perang dan memerangi
Akan kita temui disetiap sudut lubang dan lorong kekuasaan

Manusia telah diciptakan
Untuk berperang dan saling memerangi

Perang adalah anugerah tuhan yang alamiah
Harus terus kita pelihara sampai keakar-akarnya

Kita ingin menindas atau ditindas
Ingin berkuasa atau dikuasai

Hanya peranglah jawabnya
Tanpa ada perdamaian
Karena perang akan terus hadir
Bagaikan sisipus

Tembak..
Tembak..
Tembak..!

Bakar..
Bakar..
Bakar..!

Bantai..
Bantai..
Bantai..!

Bunuh..
Bunuh..
Bunuh..!

Itulah kalimat yang selalu kita dengar
Dari mulut orang-orang yang telah terbakar oleh api kemarahan

Semakin banyak korban berjatuhan
Maka api itu akan terus berkobar dan makin membesar
Tak akan bisa dipadamkan

Api itu telah dibakar oleh orang-orang yang memilki kepentingan dengan cara mengatasnamakan

Agama.. agama..!
Pendidikan.. pendidikan..!
Kesejahteraan.. kesejahteraan..!
Demokrasi.. demokrasi..!

Mereka akan membenarkan kebenaran sendiri yang dibenar-benarkan sampai mendapatkan suatu kebenaran

Bala tentara bagaikan anjing penjaga telah dipersiapkan tuk maju kedepan

Jargon perang telah disusun dan disuntikkan
Agar mereka tak kenal belas kasihan
Agar mereka siap gugur demi cita-cita yang telah dibenarkan
Karena perang adalah suatu permainan sandiwara yang akan dilakoni sebaik mungkin oleh bala tentara

Maka akan terlihat dan terdengar oleh kita
Perang antar etnis
Perang antar warga
Perang antar agama
Perang antar partai
Menjadi hal yang lazim dan lumrah
Sehingga kita tak bisa berbuat apa-apa
Karena manusia memiliki naluri kebinatangan

Anjing..!

Lorong, November 2007
Share:

Sabtu, 07 Maret 2009

Selasa, 03 Maret 2009

Keragaman Bentuk (Catatan Sembilan Pementasan Jurusan Teater STSI Padangpanjang)



Oleh: Husin

Andaikata hanya ada satu bentuk, takkan ada keragaman dalam hidup manusia, begitu juga halnya dengan teater. Keragaman itu dapat kita lihat pada senin (02/02) lalu, mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang disibukkan dengan segala aktivitas ujian semester, yang selama satu minggu digunakan untuk ujian tertulis. Selebihnya, terhitung dari senin (09/02) sampai pada batas waktu yang telah ditentukan, rabu (18/02) mahasiswa banyak diuji secara praktek, begitupun dengan mahasiswa Jurusan Teater yang memilih teater sebagai proses belajar memaknai hidup dan mengaktualisasikan diri. Ada dua Gedung Pertunjukan STSI Padangpanjang, dimana setiap orang dapat menyaksikan pementasan Teater. Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam dan Gedung Teater Mursal Esten, waktu pementasan siang dan malam.

Kekuatan Aktor Untuk Mewujudkan Pementasan Realis
Drama atau teater realis lebih menekankan obyektifitas pengamatan, maka yang nampak di atas panggung kemudian sebuah kehidupan yang diusahakan sesuai dengan aslinya. Secara teknis pementasan di atas panggung diusahakan menggambarkan kehidupan semirip mungkin. Pentas dan perlengkapan panggung menggambarkan ruang duduk suatu keluarga, atau ruang kantor dan ruang lain yang paling umum dilihat oleh penonton, maka ruang dan keseluruhan perlengkapan pentas disesuaikan sedekat mungkin dengan bentuk dan gaya zaman itu. Pertunjukan teater semacam ini dikatakan oleh Saini (1991) sebagai model teater realisme konvensional. Jika dilihat dari pemanggungan secara keseluruhan, maka aktorlah yang sangat memiliki peranan penting, karena saat pemanggungan aktor harus mampu memerankan bahkan mengendalikan semua yang ada dipanggung. Cukup beralasan jika akhirnya Saini K.M beranggapan bahwa teater realisme adalah teater tokoh.
Pada kamis - minggu (12/02-15/02) penonton dapat menyaksikan resital pementasan realisme, sederhananya realisme berarti menghadirkan realita yang ada, tanpa harus melakukan distorsi atau melibih-lebihkan apa yang sudah ada. Pada hari pertama, ada Norma, karya Alun Owen, penyadurnya tidak diketahui, sutradara Dewi Sartika yang mengisahkan tentang, perselingkuhan seorang istri yang setiap hari selalu ditinggalkan oleh suaminya. Pinangan, karya pujangga besar Rusia Anton P. Chekov, sutradara Rahma Diana yang oleh sutradara diadaptasi ke konteks Minangkabau. Namun, alur dramatiknya masih sama yang mana seorang pemuda (Ivan) bermaksud ingin meminang seorang gadis (Natalya), entah kenapa pembicaraan sampai pada sebingkal tanah yang tidak tahu pasti siapa pemiliknya, mereka terus bertengkar dan saling mengaku sebagai pemilik tanah. Kemudian ada Suara-suara Mati, karya Mannuen Van Loggem, sutradara Kristian Padmasari, naskah ini memilki sentuhan-sentuhan surealis yang mana di dalam sebuah keluarga telah menyimpan rahasia begitu lama, pada akhirnya terbongkar juga. Juga ada Kisah Cinta di Hari Rabu, karya Anton P. Chekov, sutradara Ilham. Selanjutnya ada Sebelum Bebas, karya Agustina Kusuma Dewi, sutradara Indah Lestari dengan latar sebuah penjara. Nyanyian Angsa, karya Anton P. Chekov, sutradara Susandro, pada penampilan kali ini terlihat keberanian sutradara untuk membangun sett tidak seperti biasanya yang mana pada naskah menerangkan sett dari sisa pementasan, ada kursi yang terbalik, tangga, dan beberapa level. Di sini sutradara mencoba menterjemahnya menjadi lain, ia mendirikan bangunan tua yang sepertinya juga seolah-olah dari sisa pementasan. Cerita masih tetap sama, yang mana ini menceritakan dua orang actor Svietlovdoff yang meratapi nasib karena sudah menginjak masa tua, sehingga kurang memperoleh perhatian lagi dari masyarakat, hanya Ivanitch sang pembisik yang selalu setia menemani dan memberikannya ketenangan. Pementasan drama realis ini ditutup dengan naskah yang sama oleh Kisah Cinta di Hari Rabu, karya Anton P. Chekov, sutradara Danil Martim.
Seperti yang dikatakan oleh Saini K.M, bahwa teater realis adalah adalah teater tokoh. Nah, sangat jelas sekali bahwa keberhasilan pementasan ini sangat ditentukan oleh aktor. Dari keselurahan pementasan teater realis di atas sangat lemah pada keaktoran, aktor tidak memilki pemahaman pada wilayah menganalisa setiap tokoh yang diperankan. Aktor tidak terlihat akrab dengan lawan mainnya, malah menjadi malu-malu bila berdekatan apalagi tuk bersentuhan. Seperti pada pementasan “Norma”, tokoh Norma (Lili) dan Laki-laki (Anggi). Aktor masih menjadi dirinya sendiri, tidak berusaha untuk menjadi (to-be) seperti yang dikatakan oleh Stanislavski.

Multi Karakter Dalam Perwujudan One Man Play
“Do’a yang Mengancam” mendengar judulnya saja, membuat semua orang dihinggapi penuh rasa penasaran, karena ini adalah judul cerpen yang ditulis oleh Jujur Prananto. Terlebih lagi, cerpen Jujur ini pernah di filmkan oleh Hanung Bramantyo selaku sutradara yang mana tokoh utamanya diperankan oleh Aming. Namun oleh Hanung, nama tokoh, latar tempat dan waktu dirubah yang lebih mendekati persoalan urban dan kaum pinggiran kota Jakarta. Untuk kebutuhan pembelajaran mata kuliah pemeranan, Wendy HS selaku dosen pembimbing mengadaptasi cerpen ”Do’a yang Mengancam” karya Jujur Prananto menjadi naskah lakon untuk kebutuhan pemanggungan. Naskah ini diperankan oleh Yuanita Hanafi dengan memakai metode peran multi karakter (banyak karakter tokoh) yang sesuai dengan kebutuhan naskah, istilah ini disebut dengan one man play.
Panggung terasa sunyi dan sangat senyap, terlihat diatas panggung sett tidak begitu maksimal untuk menggambarkar hidup kesederhanaan. Di sana hanya ada kain bergantungan ditengah kiri panggung, dibagian kanan belakang panggung ada level yang juga dipenuhi kain dan keranjang, kemudian dibagian kiri depan ada meja dan setrika. tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara yang getir, memohon ampun dan meminta kemudahan rezeki kepada tuhan, pada akhir doanya ia mencoba mengancam tuhan “Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu”. Doa Monsera didengar oleh tetangga sebelah, seorang janda yang telah lama ditinggal suaminya, dalam hal ini dialah sang pencerita tentang kegetiran hidup yang dialami oleh Monsera.
Seorang laki-laki, tinggal di pinggiran kota Ampari, ibu kota Negeri Kalyana. Monsera, begitu sebutannya, ia telah berani mengancam tuhan dalam doanya. Barangkali tidak tahan hidup miskin dan memiliki hutang dimana-mana. Monsera pergi meninggalkan rumah kontrakannya, “Suatu saat, saya akan kembali untuk membayar hutang...”, semua orang membiarkan Monsera pergi dan tidak berharap banyak. Di dalam pemgembaraannya, ia terus memohon kepada tuhan, “Apakah tuhan mendengar doaku? Apakah thuan terusik oleh ancamanku? Apakah tuhan... maukah tuhan... bisakah tuhan...”, dalam doanya Monsera tidak melihat ada perubahan dalam hidupnya, ia mulai putus asa dan semakin kesal. Suasana panggung menjadi tegang dan sangat menakutkan, ketakutan ini dibantu oleh lighting dang musik yang menggunakan musik program dengan menggunakan media komputer. Tiba-tiba hujan sangat lebat, petir menggelegar dan menyambar tubuh Monsera. Tubuh Monsera ditemukan oleh Sinaro, seorang saudagar yang menunggangi kuda, kebetulan lewat. Tanpa disadari setelah satu bulan dirawat oleh Keluarga Sinaro, tiba-tiba Monsera memiliki kekuatan supranatural, ia bisa melihat apa yang terjadi pada masa lalu hanya dengan sebuah photo, hal ini dapat dibuktikan dengan telah ditemukannya keluarga Sinaro yang telah lama hilang, padahal Monsera belum pernah ketempat di mana keluarga Sinaro ditemukan. Dengan kekuatan yang dimiliki, banyak orang meminta pertolongan Monsera, namun tidak semuanya bahagia, setelah mengetahui bahwa keluarganya telah meninggal dunia. Kekuatan Monserapun diketahui oleh Pemerintah Salaban, untuk menangkap para penjahat. Monsera menjadi kaya dengan imbalan yang telah dimilikinya.
Ternyata tidak selamanya kekuatan dan kekayaan yang dimiliki Monsera menjadi berkah, semuanya menjadi hancur setelah mengetahui bahwa Monsera ternyata anak haram yang telah dilahirkan oleh seorang pelacur. Monsera kembali memohon kepada tuhan agar kekuatanya dihilangkan, karena ia percaya bahwa kekuatan ini bukan datang dari tuhan, melainkan dari setan. Kemudian ia pergi ketempat di mana dia disambar petir, disana Monsera kembali kena sambar oleh petir. Ternyata dari sambaran itu bukannya kekutan Monsera menjadi hilang, bahkan bertambah dan mampu melihat masa depan. Monsera menjadi bertambah kaya, namun tak merasakan kebahagian dan selalu dihantui oleh ketakutan. Suatu malam dalam mimpinya, ia dicegat oleh sekawanan penjahat yang meminta uang. Monsera tidak membawa uang, lalu pisau menikam tubuhnya, “Tidak..! aku tidak mau mati dengan cara begitu”, Monsera terbangun dan berteriak. Sungguh, kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa dan memohon atau mungkin mengancam. Berlahan-lahan lampu fade-out. Pada penampilan ini, tidak terlihat bahwa aktor (Yuanita Hanafi) kurang maksimal memberdayakan kekuatan perannya, hal ini terlihat tidak jelasnya perubahan-perubahan gestur bahkan karakter tokoh yang dimainkan. Mestinya, itu dapa dilihat dari sang pencerita, Monsera, Sinarao, Datim, Penjahat dan Orang-orang yang jelas terlihat perubahannya, disana hanya sang pencerita ke orang-orang dengan kemampuan membedakan banyak karakter vokal saja. Padahal aktor (Yuanita Hanafi) telah memilih pemeranan pada minat di jurusan teater, dalam hal ini tentulah banyak hal yang harus dilatih.

Perbenturan Agama dan Adat Menuju Estetika Paradoks
Penyutradaraan Kontemporer ini merupakan minat yang paling terakhir, menuju Tugas Akhir mahasiswa. Pada pementasan penutup (18/02), di Teater Arena Mursal Esten, pukul 20.00 WIB terlihat penonton bersabar tuk menyaksikan resital penyutradaraan kontemparer yang berjudul “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutradara yang sekaligus diuji Nolly Media Putra. Barangkali dibutuhkan kecerdasan yang mendalam dari sutradara untuk mengolah bentuk, agar esensi yang ingin disampaikan bisa tertangkap oleh penonton. Begitu pula penonton, sedapatnya memilki ketajaman analisa untuk bisa menangkap apa yang telah dikomunikasikan oleh suatu tontonan. Kecenderungan teater kontemporer secara bentuk kita akan melihat dengan hadirnya simbol-simbol, komposisi, kekuatan tubuh lebih mendominasi, dialog sangat puitis, bangunan plot/alur tidak literer dan sebagainya. Makanya, dibutuhkan ketajaman analisa dari setiap komponen panggung.
Dari penjelasan di atas, kita akan dapat melihat dari “Melintas Kandung” karya M. Fadli, sutrdara Nolly Media Putra. Di dalam panggung terdengar bunyi ombak yang menghantam karang, suara angin berhembus kencang, dan kicau burung yang sesekali melintasi laut. Cahaya tiba fade-in yang terfokus pada empat titik, titik pertama terlihat di kiri belakang panggung, pada level yang terbungkus oleh kain berwarna kuning, merah, dan hitam yang tingginya lebih kurang setengah meter dengan posisi horizontal. Terlihat ada janur pada dua sisi level, kuali lengkap dengan pemasaknya, seorang perempuan (tokoh Ibu) berpakaian Bundo Kanduang berwarna merah perlahan-lahan memutar-mutarkan sendok pada lingkaran kuali, sesekali perempuan itu memukul-mukulkannya, makin lama semakin cepat dan semakin tinggi. Disela itu secara bersamaan cahaya berwarna merah fade-in pada tiga titik, terlihat tiga laki-laki (tokoh Malin) bertelanjang dada mengenakan galembong, mereka berada di dalam bingkai yang berbentuk kotak/peti, berlahan-lahan secara bersamaan mereka bergerak dengan pelan.
Dalam hal ini ada dua pemisahan, antara tokoh perempuan (Ibu) dan tokoh laki-laki (Malin). Namun dalam lakon tersebut ada penokohan yang sama-sama antagonis, jadi tidak ditemukan tokoh protagonis, tidak ada yang menjadi penengah atau memihak. Jakob Sumardjo dalam bukunya “Estetika Paradoks” mengatakan dasar berpikir pola dua adalah bahwa hidup itu pemisahan. Hidup itu persaingan, hidup itu konflik, dan hidup itu adalah perang. “Melintas Kandung” ini bukanlah perperangan antara Ibu dan anak Laki-laki (Malin) yang melawan kepada Ibunya lalu dikutuk menjadi batu.
Perempuan (Ibu) sebagai simbol Adat, kemudian Laki-laki (Malin) simbol Agama. Awalnya, agama dan adat memang suatu pemisahan yang sangat jauh. Jika kita analogikan dalam perkawinan, lelaki tetap lelaki, perempuan tetap perempuan, dan keduanya melebur dalam satu kesatuan yang melahirkan entitas ketiga, yakni anak. Maka kemudian terjadilah peristiwa harmoni, syarat hidup adalah adanya harmoni dari dua entitas yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Seperti yang dikatakan Jakob (2006) peristiwa harmoni adalah peristiwa paradoks, tidak ada yang dikalahkan, dan tidak ada yang dimenangkan. Keduanya pemenang, bahkan melahirkan hidup baru.
Sangat disayangkan pada pementasan “Melintas Kandung” tidak memperlihatkan adanya keharmonisan, terlebih lagi pada struktur pementasan tidak terlihat situasi yang menegangkan bahkan konflikpun tidak terbangun antara tokoh Adat dan Agama. Inilah kecenderungan seorang direktor (Sutradara) yang mencoba menggarap pada wilayah kontemporer, selalu melupakan unsur-unsur dramatiknya. Sehingga terlihat pada bagian tengah sampai akhir hanya pengulangan-pengulangan yang membosankan.
Begitu banyak bentuk-bentuk pementasan teater yang bisa dipelajari di Jurusan Teater STSI padangpanjang, sehingga terjadi keragaman bentuk. Tapi bukankan, sebaiknya keragaman itu kita imbangi dengan hasil yang baik pula. Mari kita menjadi orang yang tidak ragu-ragu, untuk terus belajar bahkan meneliti teater itu sendiri. Mari kita berteriak dan menjerit “Aku masih tetap hidup” yang pernah diucapkan oleh Calligula dan terus optimis seperti Hang Tuah yang terus mengatakan “Tak kan Melayu hilang dibumi”.

Husin, adalah pemerhati dan praktisi teater. Kini mengajar di INS Kayu Tanam dan bergabung di Komunitas Lorong.
www.teaterlorong.blogspot.com
Share:

Selasa, 24 Februari 2009

Sumsel Sentra Kesenian Mahasiswa (Pentas tetaer STSI Padangpanjang di UNSRI)

Meski Sumatera Selatan (Sumsel), Palembang khususnya, “belum” memilki perguruan tinggi khusus dibidang kesenian (baru sebatas jurusan pendikan bahasa dan seni/FKIP, red), tapi telah dipandang sebagai salah satu sentra kesenian mahasiswa Indonesia untuk wilayah Sumatera. Hal tersebut ditandai dengan kunjungan Komunitas Lorong Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang saat tampil satu panggung bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Garda Anak Bangsa (GABI)’91 Universitas Sriwijaya (Unsri) sebagai pentas pembuka, selasa (18/3) lalu, Gedung Teater Unsri Indralaya. Masing-masing komunitas melakonkan “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov dan “Interogasi Rahim” karya Sutradara M Yunus.
“Untuk Sumatera, Palembang (Sumsel, red) yang lebih dekat dijangkau dan paling tepat dijadikan sentra kesenian mahasiswa Indonesia yang berkembang di Pulau Jawa. Menariknya lagi, animo penonton di sini sangat apresiatif. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga pelajar dan masyarakat di luar kampus begitu antusias menyaksikan pentas teater”, tutur Husin, sutradara dan pimpinan rombongan STSI Padangpanjang.
Diskursus perkembangan seni dari lingkungan akademisi- jawaban sementara menyangkut belum adanya perguruan tinggi di Sumsel, Palembang khususnya- barangkali masing dipertimbangkan untung ruginya oleh masyarakat Sumsel. Pasalnya, dunia seni sangat sulit berkembang di Bumi Sriwijaya yang bersifat konsumeris, kendatipun potensi seni di Kota tidak diragukan lagi. Wacana itu diisyaratkan dalam pementasan mahasiswa STSI berjudul “Nyanyian Angsa” (Chekov), dalam dialog antara Svietlovdoff (Adri) kepada sang pembisik, Ivanitch (Roni) menyebutkan, “Cobalah piker, mereka (penonton/masyarakat,red) menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak. Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementesan selesai untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang kerumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68, sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup.”
“Itulah pilihan sadar seniman, suatu saat harus siap kehilangan panggung (profesi, red) dengan prospek masa depan seniman yang sering dianggap tidak jelas.” Dan tak dapat dipungkiri, tambah Husin, jika alasan tersebut berdampak dengan kurangnya minat masyarakat maupun pemerintah untuk mensinergikan sebuah perguruan tinggi khusus di bidang seni.
Ajang seni bertajuk pentas sebagi tindak lanjut dari pertemuan Pekan Apresiasi Teater III di Jurusan Teater STSI Padangpanjang, Sumatera Barat, Januari 2008 itu berhasil menyedot sekitar 350 orang. Sayangnya, apresiasi penonton yang begitu tinggi tidak diimbangi dengan fasilitas Gedung Pertunjukan yang terkesan kurang terawatt, seperti minimnya lampu pentas untuk pencahayaan. Kegelisahan ini disikapi Wahdaniah, ketua panitia yang mewakili UKM Teater GABI’91 fasilitator pementasan. “Dengan segala keterbatasan, kami (UKM Teater GABI’91 Unsri, red) selalu siap memfasilitasi teater kampus Indonesia yang ingin pentas di Usri sebagai upaya menggeliatkan kembali teater kampus yang ada di Palembang khususnya,” ujar mahasiswa FKIP Unsri itu.
Sementara itu, pementasan mahasiswa STSI Padangpanjang di Unsri menjadi apresiasi tersendiri bagi sivitas akademika Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP Universitas PGRI Palembang. Menurut Erpan Zahri, almamaternya selaku wadah pencetak calon guru kesenian perlu banyak berbenah untuk mengembangkan kesenian di Palembang. “Ke depan, kita (Sendratasik PGRI, red) akan mengadakan pagelaran seni di luar kampus yang lebih tertata dengan kemasan bidang seni lainnya,“ pungkasnya. (Azhari/*)

Tulisan ini diambil dari Koran Sumatera Ekspres. Minggu, 23 Maret 2008
Share:

UNSRI-STSI Padangpanjang Tukar Seni

Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang mengadakan pertukaran dan dialog seni di Gedung Teater Kampus Unsri, Inderalaya, Organ Ilir, pekan lalu. Kegiatan ini diprakarsai oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Garda Anak Bangsa Indonesia (Gabi)’ 91 Unsri dan Tetaer Lorong STSI Padangpanjang.
Dalam kesempatan pertukaran seni, Teater Gabi Unsri menampilkan pementasan teater yang berjudul “Interogasi Rahim” karya Muhammad Yunus, sedangkan Teater Lorong STSI Padangpanjang menampilkan “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov. Penampilan kedua pementasan sendiri disaksikan sekitar 300 penonton yang berasal dari mahasiswa, pelajar dan undangan.
“Kepada para penonton yang ingin menyaksikan pementasan diharuskan membeli tiket seharga Rp4.000 yang berlaku untuk dua orang. Tiket ini menurut kami sangat murah mengingat ada dua pementasan yang ditawarkan, yang mana salah satunya berasal dari luar sumsel,” kata ketua pelaksana Wahdaniah kepada Berita Pagi.
Sebagai pembuka pementasan tampil terlebih dahulu Teater Gabi Unsri dengan naskah “Interogasi Rahim”. Mulai dari awal penampilan, grup teater kampus yang berdiri sejak 1991 ini langsung mengajak penonton memasuki konflik aneh yang terjadi dalam sebuah keluarga.
Diceritakan, ada seorang aktivis perempuan, Dewi Mahesa yang diperankan (Silvi). Dalam kehidupan sehari-harinya, Dewi Mahesa sangat menentang adanya poligami di masyarakat. Tetapi, pada kenyataannya Dewi ternyata dipoligami oleh kakek buyutnya sendiri, Pralingga (Agus) yang sebelumnya telah menikahi kedua ibunya, Rahima (Eka) dan Rotiba (Neni).
Berbeda dengan Teater Gabi Unsri yang menampilkan naskah hasil karya anggotanya sendiri, Teater Lorong STSI Padangpanjang menyuguhkan karya dari pujangga besar Rusia, Anton Chekov berjudul “Nyanyian Angsa”. Naskah ini menceritakan dua orang actor Svietlovdoff (Adri) dan Ivanitch (Roni) yang meratapi nasib karena sudah menginjak masa tua, sehingga kurang memperoleh perhatian lagi dari masyarakat.
“Kami sangat senang dengan adanya pertukaran seni ini dan berharap terus berkelanjutan. Siapa tahu di lain waktu giliran Teater Gabi unsri yang secara khusus datang ke STSI Padangpanjang,” kata sutradara dari STSI Padangpanjang, Husin.
Setelah kedua kelompok menampilkan pementasan teater, acara selanjutnya disambung dengan dialog seni membahas perkembangan teater di masing-masing kampus dan daerah. Dialog sendiri berlangsung dalam suasana penuh keakraban, karena banyak disertai canda tawa. (ron)

Tulisan ini diambil dari Berita Pagi Palembang. Rabu, 02 April 2008.
Share:

Minggu, 22 Februari 2009

PAT III STSI Padangpanjang (Pemetaan Teater di Sumatera)


Oleh: Husin

Pekan Apresiasi Teater III (PAT III) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teater (HMJ-T), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, pada tanggal 20-27 Januari 2008, merupakan kelanjutan dari PAT II. PAT kali ini mengusung tema “Melihat Teater Indonesia dari Sumatera”. Maksudnya adalah, mencoba untuk melakukan pemetaan terhadap perkembangan teater di Sumatera yang merupakan salah satu bagian dari teater nusantara baik secara kreatifitas teater maupun wacana tentang teater.
Kegiatan PAT III, selain menghadirkan apresiasi pertunjukan teater, materi kegiatan ini juga memberikan program seminar teater dan workshop pemeranan. Di samping itu juga diisi dengan pasar seni yang menampilkan parade band antar pelajar dan umum. Hal ini merupakan suatu rangkaian upaya dalam mewujudkan tujuan penting pengembangan wawasan dalam kontek manajemen teater, perkembangan teater, budaya teater, pendidikan teater, dan pertunjukan teater itu sendiri.
Peserta PAT lebih didominasi oleh kelompok-kelompok teater yang ada di Sumatera, baik itu kelompok teater Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun independen. Kelompok-kelompok teater itu antara lain: UKM LKK UNIMED (Sumatera Utara), Teater Seru UIB (Batam), Komunitas Seni Intro (Sumatera Barat), Komunitas Seni Hitam Putih (Sumatera Barat), Teater Khatulistiwa UPI (Sumatera Barat), HMJ Teater STSI Padangpanjang (Sumatera Barat), Teater Art In Revolt/Air (Jambi), Teater Oranye (Jambi), Teater Topeng Lentur (Sumatera Selatan), UKM Seni UNSRI (Sumatera Selatan), Perkumpulan Seni Melayu Warisan Budaya (Bangka Belitung) dan HMJ Teater ISI Yogyakarta (satu-satunya kelompok dari Jawa).
Pemakalah pada kegiatan seminar terdiri dari; Arthur S. Nalan “Peran Pendidikan Jurusan Teater dalam Kontribusi Teater Indonesia” (Bandung), Sari Madjid “Management dan Networking” (Jakarta), Muhammad Husyairi “Interkulturalisme dan Transformasi Teater Mutakhir Sumatera” (Jambi) dan Sahrul N. “Membaca Teater Sumatera (Melayu) dalam Fenomena Cross Culture” (Sumatera Barat). Kegiatan workshop pemeranan diberikan oleh Dindon WS.
Hari pertama, Minggu (20/01), setelah pembukaan di dalam gedung pertunjukan (GP) Hoerijah Adam, peserta diajak keluar untuk menyaksikan sebuah pertunjukan Performent Art yang dimainkan oleh Komunitas Lorong dari Padangpanjang salah satu simpatisan pada kegiatan PAT III. Mereka mengusung tema tentang bencana alam yang semakin hari semakin menunjukkan kepunahan bumi.
Pada malam harinya di GP Hoerijah Adam diisi oleh HMJ Teater STSI Padangpanjang yang menyajikan pertunjukan berjudul Ophelia dalam Lantera. Pertunjukan berbentuk eksplorasi ini didekonstruksi oleh Sutradara Cut Rosa dari naskah besar Wiliam Shakespeare yang berjudul Hamlet dan naskah Heiner Muller yang berjudul “Hamlet Maschine” (Mesin Hamlet). Namun pada karya Cut Rosa, tokoh Ophelia lebih ditonjolkan. Ophelia yang menyimbolkan kemarahan, cinta dan darah. Sedangkan Hamlet hanya sebagai bayangan dari kemarahannya.
Penampilan di hari kedua, Senin (21/01), yaitu Komunitas Oranye dari Jambi dan LKK UNIMED dari Sumatera Utara di tempat yang berbeda. Penampilan pertama pada pukul 20.00 WIB di Gedung Auditorium Boestanul Arifin, Komunitas Oranye menampilkan bentuk teater tradisional Melayu (Abdul Muluk), dengan judul “Demam” yang distrdarai sekaligus pemain oleh Muhammad Husyairi, pertunjukan ini bercerita tentang seorang suami yang memiliki dua orang istri yang sama pemarahnya. Pertunjukan kedua Komunitas LKK UNIMED yang menampilkan lakon berjudul “Bui” karya Indra YT di gedung pertunjukan Hoerijah Adam. “Bui” yang disutradrai oleh Apriani Kartini.
Pada hari ketiga, Selasa (22/01), tampil Komunitas Perkumpulan Seni Melayu Warisan Budaya dari Bangka Belitung pada pukul 16.00 WIB. di gedung pertunjukan Hoerijah Adam. Komunitas ini menghadirkan bentuk teater tradisional melayu (Abdul Muluk) berjudul “Timot Kesambet”. Yang menarik adalah pertunjukan kedua oleh Komunitas Intro dari Sumatera Barat. Komunitas ini menyajikan sebuah drama realis berjudul “The Loundre” (Pencucian) karya David Guerdon yang disutradarai oleh R. Della Nasution. Lakon ini bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki seorang anak cacat fisik yang disembunyikan di atas atap rumah, karena keluarga tidak sanggap menahan malu. Justru menjadi berkah yang tak terduga ketika manager sirkus mengangkatnya menjadi pemain sirkus dengan bayaran mahal. Komunitas ini memainkan lakon dengan sangat baik sekali, terutama didukung oleh kemampuan para aktornya.
Hari keempat, Rabu (23/01), hanya menyuguhkan satu grup teater Air dari jambi dengan lakon berjudul “DOM” karya Bambang Widoyo SP yang disutradarai oleh EM Yogiswara. Lakon ini mengisahkan tentang sebuah tempat pemukiman kumuh yang di dalamnya mengalami persoalan hidup yang sangat menyakitkan, penggusuran, perampokan, perjudian, perselinggukuhan dan pembunuhan menjadi persoalan keseharian yang telah dicampur aduk dalam dilema kehidupan mereka. Kondisi ini senantiasa terjadi pada setiap insan manusia.
Hari kelima, Kamis (24/01), kembali tampil dua pertunjukan. Penampilan pertama sore, pukul 16.00 WIB diisi oleh Komunitas Gabi UNSRI dari Sumatera Selatan yang menampilkan lakon karya mereka sendiri, ditulis oleh Muhammd Yunus salah seorang senior di teater Gabi yang berjudul “Wajah” dan disutradarai oleh Supriyanto. Pada pukul 20.00 WIB masuk pada penampilan kedua dari ISI Yogyakarta yang menampilkan karya kelompok penyutradraan kontemporer berjudul “Topeng Kayu” ini menghadirkan tokoh-tokoh dengan latar belakang yang jauh berbeda namun memiliki permasalahan yang sama tentang hidup. Kehidupan serta pola-pola penyikapan yang menimbulkan gesekan di antara mereka. Akting karikatural dan komikal menjadi pilihan pada pertunjukan dari ISI Yogyakarta kali ini.
“Zona X” Komunitas Hitam Putih dari Padangpanjang memberikan apresiasi baru bagi peserta, hal ini diakuai oleh beberapa peserta setelah menonton pertunjukan. Pertunjukan yang dipentaskan pada hari kelima, Jum’at (25/01), 20.00 WIB ini menata gedung auditorium Boestanoel Adam menjadi panggung arena dan menggunakan bentuk eksplorasi sebagai konsep pemanggungan. Naskah eksplorasi ini menggambarkan tentang perang yang multi interpretasi yang ditulis oleh Afrizal Harun. Ia membagi struktur menjadi tiga bagian. Bagian pertama, manusia mengalami kemonotonan hidup; kedua, manusia mengalami kebisingan hidup; dan yang ketiga, manusia dihadapkan dengan chaos.
Kemonotonan hidup divisualkan oleh aktor dengan gerakan-gerakan yang sangat pelan dan imajiner, perbedaan gerakan terlihat pada aktivitas mereka masing-masing. Ada yang menarik, mengangkat, memikul, dan mendorong. Pada sisi lain wanita satu (Citra) menggunakan gerakan ulu ambek yang telah dikembangkan, ia seolah-olah sedang meninabobokan seorang bayi dan wanita dua (Sarah) berada pada level yang lebih tinggi, melakukan aktivitas menjahit. Di bagian kedua, kebisingan divisualkan melalui aktivitas tiga orang tokoh laki-laki (Sandro, Anggi, Doni) sedang menempa besi, dua orang laki-laki lagi (Hasan, Hendratno) seolah berkelahi di atas tikar bambu yang mengeluarkan suara hentakan, wanita satu sedang memukul lesung dengan alu seolah handak memecahkan padi, dan wanita dua terus mencuci kain, sesekali kain itu dihempaskannya ke lantai.
Chaos, pada bagian ketiga memang benar-benar bagian yang sangat mengacaukan. Di bagian ini para tokoh melakukan moshing sambil terus mengikuti irama musik hip metal yang dimainkan melalui musik editing, sambil bergoyang mengikuti irama gambar-gambar perperangan dari screen. LCD ditembakkan ke arah tubuh penonton, sehingga gambar itu juga menyentuh bagian tubuh penonton.
Sabtu, (26/07) pertunjukan diisi oleh UKM UPI (Sumatera Barat) dan UKM UIB (Batam), UPI menampilkan pertunjukan berjudul “Sembahyang Rerumputan” yang diambil dari potongan puisi Hamid Jabar dan Ahmad Yosi Herfanda yang disutradarai oleh Rissa Hanny, sedangkan UKM UIB menampilkan karya berjudul “The Hero” karya dan sutradara Eko Prayetno yang memilih out door sebagai konsep pertunjukan. Di hari terakhir, Minggu (27/01) diisi oleh Teater Topeng Lentur dari Sumatera Selatan dengan lakon berjudul “Introgasi Rahim” Karya Ical Wrisabae sebagai penutup. Karya ini berbicara tentang seorang anak haram yang tidak diingini kelahirannya, anak itu dipasung sampai ia beranjak dewasa, pada akhirnya ibu itupun memmbunuh anaknya.
Dari setiap pertunjukan yang ditampilkan selama sepekan, kita dapat melihat keragaman bentuk pertunjukan yang coba ditawarkan. Ada dua hal yang dapat dilihat dari tema PAT III ini. Pertama, kesenian asli dari teater tradisional yang kita miliki, ternyata masih tetap eksis keberadaannya. Kedua, pengembangan dan kemajuan dari teater itu sendiri. Dari setiap peserta yang mengikuti, akhirnya kita dapat memetakan keberadaan teater di Sumatera.
Share: